Detail Artikel

Musholla KH Ahmad Dahlan, Denpasar Khutbah Jumat Awal Dzulhijjah

Muhasabah di Awal Dzulhijjah: Menjemput Taqwa dengan Dzikir, Syukur, dan Qurban

Musholla KH Ahmad Dahlan, Denpasar
Khutbah Jumat Awal Dzulhijjah

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Rabb yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq, agar cahaya Islam menerangi kehidupan manusia hingga akhir zaman. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau.

Di Jumat yang mulia ini, kaum muslimin kembali dipertemukan dengan salah satu bulan agung dalam Islam: bulan Dzulhijjah. Bulan yang menjadi bagian dari empat bulan suci yang dimuliakan Allah bersama Dzulqa’dah, Muharram, dan Rajab. Bulan yang menghadirkan aroma ibadah, pengorbanan, dan kerinduan menuju Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

Ayat ini menjadi panggilan lembut sekaligus teguran halus bagi manusia. Bahwa hidup bukan sekadar berjalan dari pagi menuju malam, melainkan perjalanan panjang menuju akhirat. Dunia hanyalah persinggahan singkat. Sedangkan akhirat adalah tempat kembali yang abadi.

Di awal Dzulhijjah ini, khutbah mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah, mengoreksi kembali perjalanan hidup, amal ibadah, dan hubungan dengan Allah. Sebab waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu kesiapan manusia.

Mengingat Kematian: Nasihat yang Menghidupkan Hati

Dalam khutbah disampaikan kisah seorang sahabat yang meminta nasihat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka Rasulullah memberikan tiga pesan penting.

Pertama, perbanyak mengingat kematian.

“Aksiru dzikra hadzimil laddzat.”
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.”

Mengingat kematian bukan untuk membuat hidup menjadi suram, tetapi agar hati menjadi lembut dan sadar bahwa dunia bukan tujuan akhir. Orang yang sering mengingat kematian akan lebih mudah mendekat kepada Allah, lebih ringan meninggalkan maksiat, dan lebih hati-hati menjaga amal.

Karena itulah Islam mengajarkan takziah, ziarah kubur, memandikan jenazah, hingga menshalatkannya. Semua itu bukan sekadar tradisi, melainkan pelajaran hidup agar manusia sadar bahwa suatu hari ia pun akan dipanggil pulang.

Syukur yang Mengundang Tambahan Nikmat

Nasihat kedua Rasulullah adalah memperbanyak syukur kepada Allah.

Betapa banyak nikmat yang sering dianggap biasa: udara yang dihirup, tubuh yang sehat, keluarga, iman, hingga kesempatan sujud di rumah Allah. Semua itu adalah karunia yang tak ternilai.

Namun syukur bukan hanya ucapan di bibir. Syukur sejati adalah menggunakan nikmat untuk taat kepada Allah. Menjaga shalat, membimbing keluarga dalam agama, dan mendidik anak-anak agar mencintai masjid sejak kecil.

Khutbah juga mengingatkan para orang tua agar tidak lalai mendidik anak dalam shalat. Anak yang dibiarkan jauh dari masjid dan malas shalat bukan sekadar kehilangan disiplin, tetapi kehilangan arah hidupnya.

Sebaliknya, ketika anak dibiasakan mencintai Allah sejak kecil, maka itu akan menjadi cahaya bagi kedua orang tuanya, bahkan setelah meninggal dunia.

Qurban: Jalan Menuju Derajat Taqwa

Dzulhijjah identik dengan ibadah qurban. Allah berfirman dalam Surah Al-Kautsar:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”

Qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Yang sampai kepada Allah bukan darah dan dagingnya, melainkan ketaqwaan orang yang berqurban.

Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi perlombaan dunia, khutbah mengingatkan bahwa gelar, jabatan, dan harta tidak otomatis meninggikan manusia di sisi Allah. Yang paling mulia hanyalah mereka yang bertaqwa.

Karena itu jamaah diajak untuk semangat berqurban, meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihissalam. Bila Nabi Ibrahim rela mengorbankan putra tercintanya demi taat kepada Allah, maka seharusnya manusia hari ini tidak berat mengorbankan sebagian hartanya demi mendekat kepada-Nya.

Perbanyak Doa di Hari-Hari Mustajab

Pesan ketiga Rasulullah adalah memperbanyak doa.

Dzulhijjah memiliki hari-hari istimewa, terutama Hari Arafah, yang menjadi salah satu waktu paling mustajab untuk berdoa. Di hari itu, langit rahmat dibuka lebar dan Allah membanggakan hamba-hamba-Nya yang beribadah.

Khutbah mengajak jamaah untuk tidak tergesa-gesa meninggalkan masjid setelah shalat. Duduklah sejenak, berdzikirlah, lalu angkat kedua tangan dengan penuh harap. Sebab bisa jadi, di tempat mulia itu Allah sedang membuka pintu-pintu pengabulan doa.

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untuk kalian.”

Janji Allah itu pasti. Tidak ada doa yang sia-sia. Bisa jadi dikabulkan segera, ditunda pada waktu terbaik, atau diganti dengan kebaikan yang lebih besar.

Dzulhijjah: Waktu Memperbaiki Diri

Khutbah Jumat di awal Dzulhijjah ini bukan sekadar pengingat tentang ibadah ritual, melainkan ajakan untuk memperbaiki hati dan arah hidup.

Mengingat kematian agar tidak terlena.
Bersyukur agar nikmat bertambah.
Berqurban agar lahir ketaqwaan.
Dan berdoa agar hidup selalu berada dalam bimbingan Allah.

Karena sesungguhnya, manusia yang paling beruntung bukanlah yang paling kaya atau paling terkenal, tetapi mereka yang pulang menghadap Allah dengan hati yang bersih dan amal yang diterima.

Semoga Dzulhijjah tahun ini menjadi momentum untuk lebih dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memperbaiki diri, dan memperbanyak amal shaleh sebelum waktu benar-benar habis.

  (RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'