“Nada, Tawa, dan Ketulusan: Panggung Hiburan HUT Lantipda Gianyar yang Menggetarkan Hati”
“Nada, Tawa, dan Ketulusan: Panggung Hiburan HUT Lantipda
Gianyar yang Menggetarkan Hati”
Gianyar — Jika siang itu penuh makna dalam
seremoni dan bakti sosial, maka memasuki sesi hiburan, suasana berubah menjadi lautan kegembiraan yang hangat dan membumi.
Panggung HUT ke-1 Lantipda
Kabupaten Gianyar menjelma ruang ekspresi, tempat seni, tawa,
dan ketulusan bertemu dalam harmoni.
Sorotan
pertama hadir dari Grup
Rempong, yang dengan gaya khasnya mampu menghadirkan energi
segar. Gerak yang lincah dan penuh ekspresi menjadikan penampilan mereka bukan sekadar hiburan, tetapi juga perayaan
semangat hidup.
Tak kalah
memukau, Kamani Band
tampil sebagai salah satu bintang utama. Band besutan anggota Lantip ini telah
dikenal luas, kerap diundang
tampil di berbagai acara, mulai dari pernikahan hingga kegiatan
sosial. Namun di balik popularitasnya, tersimpan kisah yang menyentuh.
“Kami
main karena cinta pada musik, bukan semata soal bayaran,” menjadi semangat yang mereka hidupi.
Ironisnya, mereka lebih sering tampil tanpa honor,
terutama ketika yang mengundang adalah sesama anggota Lantip. Bahkan, kebutuhan
dasar seperti transportasi pun kerap ditanggung sendiri.
“Minimal
transport saja sebenarnya sudah cukup, agar tidak mengeluarkan biaya pribadi,” menjadi harapan sederhana yang tersirat.
Meski
demikian, dedikasi mereka tak pernah surut. Di panggung HUT Lantipda, Kamani Band membawakan dua lagu legendaris
dari almarhumah Nike Ardilla, yang langsung mengundang
nostalgia dan tepuk tangan meriah dari penonton.
Suasana
semakin semarak dengan penampilan Angklung
Alba, yang membawakan lagu-lagu bertema Hari Kartini. Denting
angklung yang harmonis menghadirkan nuansa kebangsaan sekaligus kelembutan
budaya yang menyentuh.
Tak hanya
itu, panggung juga diisi oleh para “artis” internal Lantip yang tak kalah
memikat. L. Gede Sitohang
tampil unik dengan perpaduan budaya Bali dan Batak, membawakan lagu lawas
populer “Terlambat”
yang dikenal melalui karya kreatif radio Prambors. Penampilannya menghadirkan
warna tersendiri—lintas budaya, lintas rasa.
Sementara
itu, Lantip Yakin
hadir dengan suara khas
keroncong yang lembut dan penuh nuansa klasik. Di sisi lain, Lantip Yose turut
memeriahkan suasana dengan gaya vokal yang energik dan menghibur.
Tak kalah
menyentuh, Sri Subekti
menghadirkan kombinasi puisi dan lagu yang sarat makna. Setiap bait yang
dilantunkan terasa mengalir, mengajak
hadirin merenung di tengah riuh kebahagiaan.
Menariknya,
sinergi seni juga terlihat dari sosok Ketua
Lantipda Bangli, yang turut menyumbangkan suara emasnya di atas
panggung. Sebuah gambaran indah pun terlukis:
“Istri
pandai menari, suami piawai bernyanyi—harmoni keluarga yang menjelma harmoni
organisasi.”
Panggung
hiburan ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan cermin dari jiwa Lantip itu sendiri:
sederhana, tulus, namun penuh makna.
Di
antara nada dan tawa, tersimpan pesan yang dalam—bahwa kebahagiaan sejati lahir
dari kebersamaan, dan seni menjadi bahasa yang menyatukan semuanya.(RAYD)



