Detail Artikel

Nikmatnya Iman: Ketika Hati Menjadi Kaya di Tengah Kefakiran Dunia

Nikmatnya Iman: Ketika Hati Menjadi Kaya di Tengah Kefakiran Dunia

Khotbah Jumat | 13 Juni 2025 – Mushola KH Ahmad Dahlan

Khatib: Ustadz Khoirudin Usman

Alhamdulillahilladzi hadana li hadza wama kunna linahtadiya laula an hadana Allah.

Segala puji hanya milik Allah, yang telah mengaruniakan kepada kita nikmat paling agung: iman. Nikmat yang tak terlihat, namun menyinari hidup dan memuliakan ruh. Iman adalah pelita dalam gelap, cahaya dalam gulita, penyejuk jiwa dalam hiruk-pikuk dunia.

Sesungguhnya hidup menjadi indah, tenteram, dan penuh berkah ketika kita memiliki iman. Ia tidak menjamin kita kaya, namun menjamin kita bahagia. Ia tidak menghindarkan kita dari musibah, tetapi menjadikan kita sabar dan ridha menjalaninya.

 Iman: Cahaya di Tengah Derita

Lihatlah dunia hari ini. Ada negeri-negeri yang diguncang perang, dibungkam oleh penjajahan, ditindas oleh kekuatan dunia. Namun justru di sana iman tumbuh subur, menjadi sumber kekuatan.

Di Gaza, para pemuda bertahan di atas reruntuhan. Seorang sniper Palestina bisa bertahan berjam-jam di atas atap hanya dengan dua butir kurma. Bukan karena kuatnya fisik, tapi karena kuatnya iman.

Afghanistan, negeri yang pernah dijajah oleh Soviet, dibombardir oleh Amerika, dihancurkan oleh berbagai kekuatan asing. Namun mereka tetap berdiri—dengan pakaian sederhana, dengan kehidupan keras—tetapi kaya dengan iman dan tawakal. Allah masih memberikan kepada mereka tambang emas dan gas bumi, seolah bumi pun berkhidmat kepada mereka yang bersabar.

 Sebaliknya: Kekosongan di Tengah Kelimpahan

Lihat pula ke negeri-negeri makmur. Gedung menjulang, makanan melimpah, teknologi canggih, hiburan tak terbatas. Namun jiwa mereka hampa. Tingkat bunuh diri tinggi, depresi menyebar, keluarga retak, dan hidup menjadi rutinitas tanpa arah.

Kenapa? Karena iman tidak hadir. Harta melimpah tidak bisa menggantikan satu tetes nikmat iman.

 Kenapa Kita Bisa Kehilangan Iman?

Iman tidak diwarisi, tidak otomatis tetap. Ia bisa naik dan turun. Dan ada tiga hal besar yang bisa menggerus iman kita:

1. Tidak Mensyukuri Nikmat Iman

Allah berfirman:

"Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan tambahkan nikmat-Ku, dan jika kalian kufur, sungguh azab-Ku sangat pedih."

(QS. Ibrahim: 7)

Betapa banyak di antara kita malu untuk sholat ketika azan berkumandang, karena sedang bersama teman-teman yang tidak beriman. Takut kehilangan pertemanan, tapi tak takut kehilangan iman. Na’udzubillah.

Iman adalah karunia yang tak semua orang punya. Jika kita tidak menjaganya, ia bisa hilang—perlahan, lalu lenyap.

2. Tidak Takut Iman Pergi

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda tentang seorang pemuda gagah, pejuang yang dipuji kaum Muslimin:

“Dia adalah penghuni neraka.”

Para sahabat kaget. Ternyata ia mati karena bunuh diri—tidak sabar atas lukanya. Ia berperang dengan tubuhnya, tapi tidak dengan imannya.

Sebaliknya, ada seorang tua renta yang dicemooh karena lemah. Tapi Nabi berkata:

“Ia adalah ahli surga.”

Karena ia berjuang dengan hati yang penuh ikhlas, dengan iman yang bersih dari riya’.

3. Menyakiti dan Menzalimi Sesama Muslim

Ada orang yang bahagia ketika saudaranya menderita. Melihat Muslim bangkrut, ia tertawa. Melihat teman Muslim jatuh, ia puas. Ia mencaci, menghina, menyindir.

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Barang siapa berjalan bersama orang zalim, dan ia membelanya, maka ia bukan dari golonganku.”

(HR. Ahmad)

Tiga Hal yang Menggadaikan Iman

Lingkungan yang buruk – yang menjadikanmu malu pada Islammu sendiri.

Kecintaan pada dunia yang berlebihan – hingga takut kehilangan status lebih dari takut kehilangan iman.

Kebencian pada sesama Muslim – hingga merasa senang bila mereka terhina.

 Siapa Temanmu, Maka Itulah Dirimu

Orang Arab berkata:

"Tunjukkan kepadaku siapa temanmu, maka aku akan tunjukkan siapa dirimu."

Lingkungan mencetak jati diri. Jika kita ingin menjaga iman, bertemanlah dengan orang-orang yang menghidupkan sholat, cinta majelis ilmu, dan menasihati dengan tulus.

 Penutup

Saudaraku,

Iman adalah anugerah, dan ia juga ujian. Tidak semua orang bisa menjaganya. Maka marilah kita bersujud, berdoa:

“Ya Allah, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri hidayah kepada kami.”

(QS. Ali Imran: 8)

Jadikanlah iman sebagai pakaian kita, tempat berteduh saat badai datang, dan pelita ketika dunia gelap.

Wahai pemilik iman, jagalah dia—sebab tanpa iman, hidup hanyalah kosong berisi suara. Tanpa iman, dunia hanya ilusi, akhirat menjadi mimpi buruk. Tapi dengan iman, dunia serasa surga, akhirat menjadi rumah kembali.

Disampaikan oleh: Ustadz Khoirudin Usman

Khotbah Jumat – Mushola KH Ahmad Dahlan, 13 Juni 2025

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'