P. Ujang (H.Eddy Faizal) Tokoh Umat, Kini Menjadi Korban Banjir Kesiman
P. Ujang (H.Eddy Faizal) Tokoh Umat, Kini Menjadi Korban Banjir Kesiman
Denpasar – Banjir besar yang melanda Denpasar beberapa hari terakhir bukan hanya menyapu rumah-rumah warga kecil di bantaran sungai, tetapi juga menimpa seorang tokoh masyarakat yang selama ini dikenal luas: Ujang Eddy Faizal, akrab disapa P. Ujang.
Rumahnya yang terletak di bantaran sungai belakang Perumahan Brimob, Kesiman, terendam hingga setinggi atap. Dindingnya hancur, perabotan tak bersisa, dan lumpur pekat masih menutup lantai serta halaman. Dari bangunan yang dulu hangat menyambut tamu, kini hanya tersisa puing, anyaman bambu yang rusak, dan sepeda yang terperangkap di antara reruntuhan.
Namun P. Ujang bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah tokoh Muhammadiyah Bali, pengurus Baznas Provinsi Bali, sekaligus bagian dari komunitas Minang Saiyo Armina. Kiprahnya juga terentang luas di Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI), aktif di Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), dan menjadi motor penggerak di Suara Umat, sebuah kanal media sosial yang tak henti menyuarakan nilai dakwah, sejarah, dan kepedulian umat.
Kini, sang penggerak dakwah dan kepedulian itu justru menjadi korban dari bencana. Ironi yang mengetuk hati: seorang yang selama ini berdiri di garda depan membantu sesama, kini harus merasakan pahitnya kehilangan rumah dan harta benda.
Namun, solidaritas segera menyala. Warga, relawan lintas iman, hingga sahabat-sahabat seperjuangan Muhammadiyah tampak hadir di lokasi, membersihkan lumpur dan memberi dukungan. “Air datang begitu cepat, kami hanya bisa menyelamatkan diri,” ujar P. Ujang dengan nada getir, namun tetap menyimpan keteguhan iman yang selama ini menjadi ciri khasnya.
Banjir ini bukan hanya soal bencana alam, tetapi juga cermin bagaimana sosok yang biasa menolong kini membutuhkan uluran tangan. Rumah P. Ujang yang luluh lantak menjadi pengingat bahwa musibah tak mengenal pangkat, jabatan, atau peran. Yang tersisa hanyalah kepedulian dan kebersamaan untuk bangkit kembali.
Mari kita jadikan luka P. Ujang sebagai panggilan hati untuk menyalakan solidaritas, karena menolong satu jiwa berarti menguatkan seluruh umat. (RAYD)



