Pantun yang Mengalirkan Toleransi: Mahasiswi Kristen Raih Beasiswa S2 di Kampus Muhammadiyah
<h2>Pantun yang Mengalirkan Toleransi: Mahasiswi Kristen Raih Beasiswa S2 di Kampus Muhammadiyah</h2>
<p><strong>Medan, Juli 2025</strong> — Sebuah momen tak terlupakan terjadi dalam prosesi wisuda Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), ketika seorang wisudawati beragama Kristen, <strong>Laura Amandasari</strong>, tampil menyampaikan pantun yang jenaka dan menyentuh. Aksi spontan tersebut tidak hanya mencairkan suasana, tetapi juga mengantarkannya pada kabar bahagia: beasiswa penuh untuk melanjutkan studi S2.</p>
<h3>Momen Mengharukan ala Pantun</h3>
<p>Ketika mikrofon berpindah ke tangan Laura, ia pun dengan percaya diri menyampaikan pantun yang penuh semangat dan harapan:</p>
<blockquote>
<p><em>Dari Klaten ke Argentina,<br>
Tak lupa ke Kota Kudus,<br>
Agar si Kristen ini tak ke mana-mana,<br>
Adakah beasiswa S2, Pak, sampai lulus?</em></p>
</blockquote>
<p>Pantun itu sontak mengundang tepuk tangan meriah dan tawa penuh kehangatan dari seluruh civitas akademika UMSU yang hadir. Momen itu menjadi cermin dari keberagaman yang hidup dalam harmoni, bukan sekadar ditoleransi.</p>
<h3>Respons Cepat dari Rektor</h3>
<p>Tanpa menunggu lama, Rektor UMSU <strong>Prof. Dr. Agussani, MAP</strong> memberikan respons yang mengejutkan namun membahagiakan. Dengan tersenyum lebar, ia berkata, “Alhamdulillah, pantunnya sangat mengena. Kami dengan senang hati memberikan <strong>beasiswa penuh untuk program S2</strong>.”</p>
<p>Pernyataan ini langsung disambut sorak sorai dan tepuk tangan hangat dari seluruh wisudawan dan tamu undangan. Momen tersebut menjadi simbol nyata dari inklusivitas kampus berbasis nilai-nilai Islam yang progresif.</p>
<h3>Prof. Mu’ti: Ini Jiwa Muhammadiyah</h3>
<p>Peristiwa ini juga mendapat perhatian dari <strong>Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed.</strong>, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah. Dalam tanggapan singkatnya, ia menyatakan bahwa peristiwa tersebut mencerminkan jiwa Persyarikatan Muhammadiyah yang sejati: menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.</p>
<p>“<em>Ini adalah jiwa Muhammadiyah: terbuka, ramah, dan humanis. Tak peduli agamamu apa, selama niatmu untuk belajar dan berkarya—kami sambut dengan tangan terbuka,</em>” ujar Prof. Mu’ti melalui pesan singkat usai acara.</p>
<h3>Toleransi yang Dibalut Humor</h3>
<p>Suasana cair saat pantun Laura dilantunkan menjadi bukti bahwa <strong>humor mampu menyatukan</strong>. Tidak ada ketegangan antaragama, yang ada hanyalah penghormatan dan nuansa spiritual yang menyentuh.</p>
<p>Keputusan pemberian beasiswa pun terasa seperti <em>“hadiah moral”</em> atas keberanian Laura dalam mengekspresikan diri dengan cara yang santun dan menginspirasi.</p>
<h3>Dampak Lebih Besar dari Sekadar Beasiswa</h3>
<p>Lebih dari sekadar dukungan finansial, momen ini mengirimkan pesan kuat bahwa kampus Muhammadiyah adalah rumah yang inklusif bagi siapa pun yang memiliki tekad untuk belajar dan memberi manfaat bagi sesama. Tak peduli agama, suku, atau latar belakang, setiap mahasiswa punya ruang untuk tumbuh dan bersinar.</p>
<p>Berkat pantunnya, <strong>Laura kini melanjutkan studi S2 tanpa kekhawatiran biaya</strong>. Sementara itu, UMSU kembali menegaskan diri sebagai contoh nyata dari pluralisme produktif—menghadirkan wajah Islam berkemajuan yang ramah, terbuka, dan memanusiakan manusia.</p>
<p><em>(Ditulis oleh Chef Raden Alit)</em></p>



