Detail Artikel

Perempuan Berkarya untuk Bali dan Indonesia

Perempuan Berkarya untuk Bali dan Indonesia

Semangat Persaudaraan dalam Momentum Ramadan, Nyepi, dan Hari Perempuan Internasional

SANUR, DENPASAR — 8 Maret 2026.
Suasana kebersamaan yang hangat dan sarat makna terasa dalam sebuah pertemuan lintas komunitas yang digelar organisasi perempuan Wisma Berkarya Abadi di kawasan Sanur, Denpasar, Bali.

Kegiatan bertajuk “Berbagi Kasih Menyambut Ramadhan dan Hari Raya Nyepi untuk Duafa” tersebut berlangsung pada Minggu, 8 Maret 2026, bertempat di Warung Nasi Ayam Ibu Oki. Acara ini menjadi momentum pertemuan lintas agama, budaya, dan profesi dalam suasana kebersamaan yang merefleksikan semangat toleransi Bali.

Pertemuan ini sekaligus bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional, serta menyambut datangnya bulan suci Ramadan bagi umat Muslim dan menjelang Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu.

Ketua Wisma Berkarya Abadi, Ir. Hj. Nimmi Gulam, dalam sambutannya menegaskan bahwa peran perempuan dalam kehidupan sosial masyarakat semakin penting, terutama dalam menjaga persatuan dan menguatkan fondasi komunitas di tengah perubahan zaman.

Ir. Hj. Nimmi Gulam CSEP dikenal sebagai pengusaha sekaligus aktivis pemberdayaan perempuan di Bali. Ia juga menjabat sebagai Ketua DPD IKABOGA (Ikatan Ahli Boga Indonesia) Provinsi Bali, aktif dalam pengembangan kuliner lokal serta pemberdayaan UMKM. Selain itu, ia merupakan pendiri dan pimpinan CV Natural Alami Tea, perusahaan yang bergerak di bidang produk kesehatan dan minuman herbal berbasis bahan alami.

Dalam sambutannya, Hj. Nimmi  memperkenalkan jajaran pengurus organisasi yang selama ini menjadi motor penggerak berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan perempuan. Ia menyebut sejumlah pengurus yang aktif menggerakkan program-program kemasyarakatan, di antaranya Ispa Dewi Nuryanti, Fransisca Rimajani Utami, Neneng Linda Rahmawaty, Dita Wayan Padmi., serta bunda Putu Sumartini 

Selain itu, turut diperkenalkan pula para anggota yang selama ini aktif mendukung kegiatan organisasi di lapangan, yakni Ibu Hj Arnia, Ibu Linda, dan Ibu Gayatri. Kehadiran dan peran mereka menjadi bagian penting dalam memperkuat gerakan sosial, pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat yang dijalankan organisasi secara berkelanjuta

Acara tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dan tamu undangan, di antaranya Siti Arofah, istri dari Zulfikar, anggota DPRD Provinsi Bali, yang turut memberikan dukungan terhadap kegiatan sosial dan pemberdayaan perempuan di Bali.

Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh berbagai organisasi dan komunitas lintas latar belakang yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Di antaranya Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Ranting Cecilia, Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI), Perkumpulan Putra Putri Angkatan Darat, Duta Anak Generasi (DAG), serta Suara Ummat.

Kehadiran mereka, bersama sejumlah komunitas sosial lintas agama dan jaringan organisasi masyarakat lainnya, semakin menegaskan semangat kebersamaan dan solidaritas kemanusiaan yang menjadi ruh dari kegiatan tersebut. Dalam suasana penuh kehangatan dan persaudaraan, berbagai elemen masyarakat berkumpul, memperkuat komitmen bersama untuk terus menumbuhkan kepedulian sosial serta merawat harmoni di tengah keberagaman.

Lahir dari Krisis Pandemi

Dalam pidatonya, Nimmi juga menuturkan perjalanan sejarah lahirnya gerakan perempuan tersebut yang berawal dari masa sulit pandemi COVID-19 pada tahun 2020.

Pembatasan aktivitas sosial dan tekanan ekonomi ketika itu membuat banyak perempuan kehilangan ruang berkarya. Dari situ muncul gagasan dari almarhumah Ni Luh Putu Suwandewi Aeschlimann bersama sejumlah tokoh perempuan Bali untuk membangun wadah kebersamaan agar perempuan tetap produktif dan saling mendukung.

“Pada saat itu keterbatasan akibat pandemi sangat luar biasa. Banyak kegiatan berhenti dan masyarakat terkena dampak. Dari situlah lahir gagasan untuk menyatukan ibu-ibu agar tetap berani berkreasi,” ujar Nimmi.

Gagasan tersebut kemudian melahirkan komunitas Women's Bali Association (WBA) yang menghimpun lebih dari seratus perempuan dari berbagai latar belakang profesi—mulai dari ibu rumah tangga, desainer, pelaku UMKM, hingga aktivis sosial.

Yang menarik, komunitas tersebut tidak dibangun atas dasar identitas sempit. Perempuan dari berbagai agama dan budaya bersatu dalam satu semangat yang sama: berkarya untuk Bali.

“Di situlah roh organisasi ini terbentuk—persatuan perempuan lintas budaya yang ingin berkontribusi bagi masyarakat,” katanya.

Transformasi Menjadi Wisma Berkarya Abadi

Perjalanan komunitas tersebut kemudian memasuki fase baru ketika sebelum wafat, tokoh pendiri Ni Luh Putu Suwandewi Aeschlimann memastikan organisasi tersebut memiliki landasan hukum yang jelas melalui proses legalisasi.

Pada tahun 2022, Women's Bali Association resmi bertransformasi menjadi Wisma Berkarya Abadi, sebuah organisasi yang mengusung konsep rumah bagi perempuan untuk berkarya dan berdaya.

Kini organisasi tersebut beranggotakan puluhan perempuan aktif yang bergerak dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, kewirausahaan, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

“Wisma bukan hanya tempat berkarya, tetapi juga ruang pemberdayaan,” tegas Nimmi.

Persaudaraan Lintas Agama

Momentum acara yang mempertemukan perayaan Ramadan, Nyepi, dan Hari Perempuan Internasional menjadi simbol kuat persatuan masyarakat Indonesia.

“Di sinilah kita menunjukkan bahwa kita mencintai persaudaraan, menghargai semua budaya dan semua agama. Kita hidup dan mati di tanah Indonesia,” ujar Nimmi dengan penuh semangat.

Tantangan Bali di Era Pariwisata

Dalam pidatonya, Nimmi juga menyinggung tantangan besar yang dihadapi Bali sebagai destinasi wisata dunia.

Pertumbuhan pariwisata yang pesat membawa manfaat ekonomi, namun juga memunculkan persoalan baru seperti pengelolaan sampah serta potensi terkikisnya nilai budaya lokal.

“Bali sekarang memiliki tanggung jawab besar. Pariwisata berkembang sangat cepat, tetapi kita juga harus menjaga identitas budaya, kenyamanan, dan keamanan yang selama ini menjadi kekuatan Bali,” katanya.

Menurutnya, organisasi masyarakat sipil—termasuk komunitas perempuan—harus ikut mengambil peran dalam menjaga keseimbangan pembangunan tersebut.

Fondasi Komunitas untuk Masa Depan

Di tengah dunia yang disebutnya “tidak sedang baik-baik saja”, Nimmi menegaskan pentingnya memperkuat fondasi masyarakat dari tingkat komunitas terkecil.

Ia meyakini kekuatan bangsa berawal dari komunitas yang solid, penuh empati, dan memiliki semangat gotong royong.

Melalui gerakan perempuan, program pemberdayaan UMKM, kegiatan sosial, serta kolaborasi lintas komunitas, Wisma Berkarya Abadi berupaya membangun generasi masa depan yang tetap berakar pada nilai kebersamaan.

Di akhir sambutannya, Nimmi mengajak seluruh pihak untuk bergandengan tangan menjaga Bali dan Indonesia.

“Dengan satu komando dan satu struktur yang baik, kita bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan mewariskan masa depan yang lebih baik bagi anak cucu kita.”

Pidato tersebut ditutup dengan doa lintas tradisi yang menggambarkan semangat toleransi Bali:

“Om Shanti Shanti Shanti Om.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Dan seperti seruan yang menggema di akhir acara:

“Dari Bali untuk Indonesia.”(RAYD)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'