Detail Artikel

Pernikahan Kakek-Nenek Mujahid Dakwah H. Hartono – Bali dengan Endah Chomisah – Banyuwangi

Pernikahan Kakek-Nenek Mujahid Dakwah
H. Hartono – Bali
dengan Endah Chomisah – Banyuwangi

Di antara riuh rendah kehidupan yang kerap memuliakan usia muda sebagai simbol awal cinta, sebuah peristiwa di Banyuwangi justru menghadirkan tafsir lain tentang keindahan takdir. Pada Minggu, 29 Maret 2026, di ruang hangat Thalita Cafe Kemiren, sebuah akad nikah berlangsung dengan khidmat, tenang, namun menyimpan getar makna yang mendalam.

Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh Kepala KUA Kalipuro, H. Lukman, yang dengan penuh wibawa menuntun jalannya ijab kabul antara dua insan yang telah matang oleh waktu: H. Hartono bin Ardjo Djaiman dan Endah Chomisah binti Hariyoso. Keduanya telah memasuki usia enam puluh tahun, masing-masing telah melalui perjalanan panjang kehidupan, dikaruniai anak-anak dan cucu, serta mengukir jejak pengabdian dalam dakwah dan pendidikan.

Momentum ini menjadi istimewa bukan semata karena usia mempelai, melainkan karena kedalaman nilai yang menyertainya. Jika dalam pernikahan pada umumnya terdengar doa agar pasangan langgeng hingga usia senja, maka pada peristiwa ini, doa-doa itu seolah telah terlampaui oleh kenyataan. Yang tersisa adalah harapan akan keberkahan, ketenangan, dan kelanggengan dalam bingkai sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Tanpa gemerlap hiburan, acara berlangsung sederhana namun sarat makna. Sekitar 300 undangan hadir, tidak hanya dari Banyuwangi, tetapi juga dari Tabanan dan berbagai wilayah di Pulau Dewata. Rombongan tamu dari Bali datang menggunakan bus pariwisata dan kendaraan pribadi, menandakan kuatnya ikatan ukhuwah yang telah terjalin lintas daerah.

Hadir dalam barisan tamu kehormatan jajaran pengurus PDM dan PDA Tabanan, tokoh masyarakat seperti Gus Met, Anwar Haryono, Budi Ratsongko, Widodo, serta H. Ansori. Dari Banyuwangi, tampak pula unsur PDM, PCM Glagah, PCM Cluring, PCM Rogojampi, Lurah Kemiren, para tokoh pendidikan, serta kelompok pengajian ibu-ibu yang menambah hangat suasana silaturahmi.

Karena kedua mempelai adalah figur yang telah lama berkecimpung dalam dakwah dan pendidikan, rangkaian acara berlangsung tanpa nasihat panjang. Khutbah nikah hingga sambutan para pihak lebih diwarnai ucapan selamat, doa keberkahan, serta selingan guyonan dewasa yang mencairkan suasana. Dalam balutan nuansa Idul Fitri, para tamu juga memanfaatkan kesempatan untuk saling memaafkan dan mendoakan agar menjadi pribadi yang semakin bertakwa.

Sosok H. Hartono dikenal sebagai mantan Ketua Baznas yang kini menjabat Ketua PDM Tabanan, sekaligus Dewan Pembina Yayasan Al-Ikhlas Tanah Bang Permai dan pengurus ICMI Tabanan. Sementara Endah Chomisah Prihatini merupakan muslimah yang teguh dalam prinsip, mengikuti jejak keluarga dalam bidang sosial dan pendidikan keagamaan. Ia aktif di TPQ, RA Tunas Ceria, serta organisasi Nasyiatul Aisyiyah, dan pernah mengabdi sebagai guru di TK Al Amin Denpasar.

Pertemuan keduanya bukanlah kisah panjang yang berliku. Mereka hanya dua kali bertemu: pertama dalam proses taaruf di kediaman orang tua di belakang Masjid Darul Falah Banjarsari Glagah, dan kedua saat akad nikah berlangsung. Sebuah pertemuan singkat yang berujung pada keputusan besar, mencerminkan keyakinan dan keteguhan hati dalam memilih jalan hidup.

Acara dibuka dengan pembacaan tilawah dan sari tilawah oleh Achmad Jamzami dan Olief—cucu dari mempelai wanita—yang menghadirkan nuansa religius sejak awal. Prosesi ijab kabul dipimpin langsung oleh wali nasab, kakak kandung mempelai wanita, Cholid Tri Cahyono bin Hariyoso, yang datang dari Malang.

Rencana ke depan pun telah disusun dengan matang. Setelah menunggu momentum wisuda putra mempelai pria dan kesiapan rombongan belajar SMP Muhammadiyah, pasangan ini berencana menggelar tasyakuran lanjutan di Tabanan, Bali. Acara tersebut akan melibatkan kembali unsur KUA, penghulu, dan kerabat, sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan wisata religi yang menyesuaikan kalender pendidikan.

Usai akad dan resepsi, kedua mempelai yang dijuluki “LANTIP” (Lansia Aktif Peduli) ini tidak langsung kembali ke rutinitas. Mereka difasilitasi menginap selama tiga hari di Homestay Oemah Kang Ayak, sebuah penginapan bernuansa rumah desa Banyuwangi tempo dulu. Di tempat yang asri dan sederhana itu, mereka diharapkan dapat menikmati suasana pengantin dengan sentuhan kearifan lokal—sebuah jeda yang hangat sebelum kembali melanjutkan perjuangan dakwah dan pengabdian.

Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan pertemuan dua perjalanan panjang yang dipersatukan dalam satu tujuan mulia. Ia menjadi penanda bahwa cinta tidak mengenal batas usia, dan bahwa pengabdian kepada agama dapat terus menemukan bentuknya—bahkan dalam babak kehidupan yang sering dianggap sebagai penutup, justru di sanalah lembar baru kembali ditulis. (Ambarwati)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'