Pesona Tenun Bali di Panggung Fashion Show: Jejak Tradisi, Semarak Generasi
Pesona Tenun Bali di Panggung Fashion Show: Jejak Tradisi, Semarak Generasi
Denpasar, 14 September 2025 – Lantai catwalk Art Center Bali seolah menjelma menjadi altar budaya ketika derap langkah para peraga busana menorehkan cerita baru bagi wastra Nusantara. Dalam Lomba Fashion Show Tenun Bali, sebanyak 27 peserta dari berbagai latar belakang – mahasiswa, desainer, komunitas perempuan, hingga tokoh organisasi – bersatu dalam harmoni kain, doa, dan identitas.
Generasi Muda yang Menyulam Harapan
Sorak tepuk tangan penonton pecah saat Alifiah Nadia Putri Rahayu dan Shanaya Thorig, keduanya dari kampus ISTNUBA, membuka peragaan. Dengan penuh percaya diri, mereka menampilkan busana endek yang dipadukan modernitas, mencerminkan semangat intelektual muda yang tidak tercerabut dari akarnya.
Menyusul kemudian, Rahma Fitriawati Pratama dan Aziza Virgia Salsabila, juga dari ISTNUBA, yang menghadirkan siluet kontemporer dengan garis tegas namun tetap mengalir. Mereka menjadi simbol regenerasi: muda, berani, sekaligus bangga pada warisan leluhur.
Kiprah Komunitas dan Perempuan Inspiratif
Di antara peserta, hadir pula nama-nama yang lekat dengan kiprah organisasi perempuan. Salsabila Thalib dan Farah Sanad dari PW Wanita Al Irsyad Bali, menampilkan busana anggun dengan aura kelembutan sekaligus keteguhan.
Sementara itu, Sri Karyuni dari Majelis Taklim Al Ikhlas 91 Dalung, serta Noor Hilyin Handayani mewakili ICMI Orwil Bali, menunjukkan bagaimana kain endek dapat berpadu dengan busana kasual tanpa kehilangan nilai keagungan.
Yayun Sugiarti dan Budiastuti Arieswati dari Muslimat NU Bali juga menorehkan pesona, membuktikan bahwa wastra bukan hanya milik generasi muda, tetapi juga menjadi kebanggaan lintas usia.
Dari Penjahit Lokal hingga Influencer Hijab
Keanggunan Elsa Sinta Rohani dari Ayu Sinta Tailor menegaskan keterampilan tangan lokal dalam merajut karya. Sementara itu, Aisyah Nirna Wati, seorang hijab influencer Bali, menghadirkan busana formal penuh gaya, membuktikan bahwa wastra Bali mampu bersanding di panggung mode digital masa kini.
Elegansi, Kasual, dan Busana Pesta
Atmosfer semakin kaya dengan kategori beragam: busana pesta, kasual, hingga formal. Fadilla Abdullah, Yulia Akhmad, dan Khansa Dinah Aulia memikat dengan busana pesta berkilau, menghidupkan suasana kemewahan yang tetap berpijak pada tenun tradisional.
Di sisi lain, Farah Dienna, Marsya Nanda Suheri, Umi Maslikhah, serta Roro Erna Duryani tampil dalam busana kasual endek yang segar dan membumi. Mereka menunjukkan bahwa wastra tak hanya layak di panggung megah, tetapi juga bisa menari di keseharian.
Tak ketinggalan, Aulia Saputri dan Kadek Dian Calistadewi, dua remaja dari MA Al Muhajirin Denpasar, menghadirkan energi muda yang murni, memperlihatkan bagaimana wastra dapat menjadi bahasa universal lintas usia.
Penutup: Catwalk Sebagai Doa
Di balik sorot lampu dan tepukan penonton, tersimpan makna yang lebih dalam. Setiap langkah di panggung bukan sekadar peragaan, melainkan pernyataan: bahwa wastra Bali adalah doa yang ditenun, identitas yang diwariskan, dan masa depan yang dijahit bersama.
Dengan partisipasi lintas generasi dan latar belakang, Lomba Fashion Show Tenun Bali 14 September 2025 menjadi bukti nyata bahwa keindahan budaya dapat dipelihara, ditransformasi, dan dipancarkan, tanpa kehilangan ruhnya. (RAYD)



