POSKO BERSAMA BANJIR SUMATRA DIRESMIKAN:
POSKO BERSAMA BANJIR SUMATRA DIRESMIKAN:
H. Imam Asrorie Serukan Kepedulian Masyarakat Bali untuk Sesama**
Denpasar — Suara Umat.
Dalam suasana penuh empati yang menyelimuti Rumah Makan Bundo Kanduang, delapan organisasi masyarakat Islam di Bali berkumpul untuk satu tujuan mulia: membentuk Posko Bersama Banjir Sumatra. Pertemuan yang berlangsung hangat itu dipimpin oleh H. Imam Asrorie, sosok yang sejak awal menjadi salah satu penggerak utama solidaritas kemanusiaan umat.
Dalam sambutannya, H. Imam berbicara dengan nada tenang namun tegas—nada seorang pemimpin yang melihat duka sebagai panggilan untuk bangkit dan bergerak.
“Bencana di Sumatra bukan sekadar banjir, tetapi luka yang merambat jauh. Dan luka itu memanggil kita,”
ujarnya membuka pertemuan.
Ia menegaskan bahwa posko yang dibentuk hari ini bukanlah langkah spontan, melainkan kelanjutan dari pengalaman panjang membantu korban banjir Bali beberapa waktu lalu. Keberhasilan posko sebelumnya menjadi modal moral bagi terbentuknya posko baru yang lebih besar, lebih matang, dan lebih luas jangkauannya.
Bencana Besar, Tanggung Jawab Lebih Besar
H. Imam menyampaikan kegelisahannya melihat kondisi Sumatra yang kian mengkhawatirkan.
“Banjir di Sumatra ini bukan hanya parah… tetapi kompleks. Banyak daerah terputus, banyak jiwa yang kehilangan pegangan,” tuturnya.
Meski di tingkat nasional bencana itu belum ditetapkan sebagai bencana nasional, beliau mengingatkan bahwa bagi umat yang peduli, keputusan itu bukanlah batas untuk bergerak.
“Kita adalah ormas Islam yang peduli. Dan kepedulian tidak perlu menunggu pengumuman.”
Kata-katanya disambut anggukan dari delapan lembaga yang hadir:
Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI)
Suara Umat
Arjuna Rescue
Lantipda
ISMI. Ikatan Saudagar Muslim
LazisMIICMI
MTP IPHI
Wanita Islam
Kedelapan komponen ini sepakat menjadikan lokasi Bundo Kanduang, Jalan Yos Sudarso No. 4 Denpasar, sebagai pusat posko resmi.
Menghargai Keterbukaan, Menjaga Kepercayaan
H. Imam memberi apresiasi khusus kepada pemilik tempat, Pak Muslim, yang membuka ruangnya menjadi titik utama pengumpulan bantuan.
“Tempat ini strategis, mudah dijangkau masyarakat. Kita hargai ketulusan itu. Dan ketulusan harus dijaga dengan keterbukaan.”
Beliau menegaskan pentingnya transparansi dalam pengumpulan barang dan dana. Dengan dipasanginya tanda resmi Posko Bersama, masyarakat dapat menyalurkan bantuan tanpa keraguan.
Tantangan Pengiriman Bantuan
Dalam sambutannya, H. Imam juga mengingatkan bahwa jalur pengiriman logistik ke Sumatra tidak mudah.
“Pengiriman barang ini sangat riskan,” katanya, sambil menjelaskan perlunya koordinasi dengan otoritas seperti Lanud dan Lanal, serta memastikan bahwa setiap bantuan tepat sasaran.
Namun, berkat jaringan relawan seperti Arjuna Rescue dan sejumlah mitra, harapan tetap terbuka.
Relawan yang Berdiri Tanpa Lelah
Dengan rasa haru, H. Imam menyebut relawan yang sebelumnya menjaga posko hampir sepanjang hari—Pak Saleh, Bu Titin, Yayu, Bu Neneng, Pak Alip, dan lainnya—sebagai contoh nyata bahwa kerja kemanusiaan bukan soal jumlah besar, tetapi tentang kesediaan hati.
Mengajak Masyarakat Bergabung dalam Gerakan Kebaikan
Di bagian akhir sambutannya, suara H. Imam merendah, namun justru semakin kuat maknanya.
**“Kita tidak menunggu siapa pun. Mari kita mulai.
Kita buka posko ini untuk masyarakat, dan bersama masyarakat kita kirim harapan ke Sumatra.”**
Beliau mengingatkan bahwa pemulihan bencana akan berlangsung panjang. Karena itu, posko bersama harus menjadi gerakan yang konsisten, rapi, dan tidak mudah padam.
Lebih dari Sekadar Posko: Gerakan Kepedulian Jangka Panjang
Selain menangani bantuan bencana, posko ini direncanakan pula menjadi pusat kegiatan sosial lainnya, termasuk Pasar Murah Ramadhan. Namun semua kegiatan akan dijaga agar tidak mengganggu fungsi utama posko — membantu korban banjir Sumatra.
Seruan untuk Umat
/
Melalui sambutan ini, H. Imam Asrorie ingin menyampaikan pesan yang lebih besar kepada masyarakat Bali dan umat Islam pada umumnya:
**“Datanglah, dukunglah, dan jadilah bagian dari ikhtiar ini.
Bantuan Anda bukan hanya barang… tetapi harapan bagi mereka yang kehilangan segalanya.”**
Posko Bersama Banjir Sumatra kini resmi berdiri.
Pintu sudah terbuka.
Dan dari Denpasar, cahaya kepedulian mulai menembus gelapnya bencana..(RAYD)



