Detail Artikel

Prof. Asep Saifuddin Chalim: Cinta Tanah Air Tak Cukup Diucapkan, Harus Diperjuangkan

Prof. Asep Saifuddin Chalim: Cinta Tanah Air Tak Cukup Diucapkan, Harus Diperjuangkan

Dalam ceramah Hari Santri 2026 di Denpasar, Prof. Asep mengingatkan pentingnya kaderisasi ulama, kesadaran generasi muda, dan persatuan pesantren dalam merawat kemerdekaan Indonesia.

DENPASAR, SUARAUMAT.ID — Kemerdekaan tidak lahir hanya dari keberanian yang menyala sesaat. Di belakangnya ada pendidikan yang panjang, kaderisasi yang tekun, keyakinan yang dirawat, dan orang-orang yang bersedia bekerja jauh sebelum sejarah mencatat nama mereka.

Pesan itulah yang mengemuka dalam ceramah Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim, M.A., pada peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pendopo Joglo Kalifa Nusantara, Denpasar, Bali, Sabtu (17/10/2026). Mengangkat kembali ingatan tentang perjuangan ulama dan Resolusi Jihad, ia mengajak santri melihat cinta tanah air bukan sebagai semboyan yang cukup dilafalkan, melainkan tanggung jawab yang mesti diwujudkan dalam tindakan.

Prof. Asep membawa jamaah menengok masa-masa awal kemerdekaan Indonesia, ketika republik yang baru berdiri menghadapi ancaman terhadap kedaulatannya. Ia menyoroti 22 Oktober 1945 sebagai momentum penting yang memperlihatkan bagaimana ulama dan rakyat ikut menggerakkan semangat mempertahankan kemerdekaan.

Dalam gambaran yang disampaikannya, kekuatan rakyat tidak semata-mata bertumpu pada senjata. Ada keyakinan, kepemimpinan, dan kesadaran tentang arti kemerdekaan yang mendorong orang-orang untuk bertahan menghadapi kekuatan yang lebih besar.

Bagi Prof. Asep, semangat itu tidak muncul dengan sendirinya. Ia merupakan buah dari proses panjang yang telah disiapkan melalui pendidikan dan pembinaan generasi.

Nasionalisme tumbuh melalui pendidikan

Dalam ceramahnya, Prof. Asep menekankan bahwa perjuangan memerlukan persiapan jauh sebelum sebuah peristiwa besar terjadi. Ia menuturkan tentang upaya para ulama menyiapkan kader dan menanamkan jiwa nasionalisme kepada generasi muda. Ia juga menyebut tahun 1916 dan Surabaya ketika menjelaskan proses persiapan tersebut.

Sejumlah rincian sejarah dalam bagian ini belum sepenuhnya terbaca jelas dari transkrip ceramah. Namun, pesan yang disampaikan cukup tegas: kekuatan yang tampak pada masa perjuangan tidak dapat dilepaskan dari proses pendidikan dan penanaman kesadaran yang berlangsung sebelumnya.

Kaderisasi, dalam kerangka pemikiran itu, bukan sekadar mencetak orang yang menguasai ilmu. Kaderisasi juga membentuk watak, menumbuhkan keberanian, dan menanamkan tanggung jawab terhadap masyarakat serta bangsa.

Pesantren dengan demikian tidak hanya menjadi tempat mempelajari agama. Dalam cerita perjuangan yang disampaikan Prof. Asep, pesantren dan para ulama turut mengambil bagian dalam membangun kesadaran kebangsaan—kesadaran bahwa tanah air patut dijaga dan kemerdekaan harus dipertahankan.

Perjalanan panjang menanamkan cinta tanah air

Untuk menjelaskan bagaimana nasionalisme ditanamkan, Prof. Asep mengisahkan perjalanan ayahnya menuju Surabaya. Menurut penuturannya, perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 14 hari, dengan 12 hari di perjalanan dan dua hari untuk beristirahat.

Sepanjang perjalanan, sang ayah disebut menyampaikan pengajaran mengenai keindahan Indonesia dan pentingnya mencintai tanah air. Prof. Asep juga menyebut sejumlah tempat yang dilalui, termasuk Jombang dan Krian, serta sebuah lembaga pendidikan. Nama lembaga dan beberapa detail lain dalam transkrip belum cukup jelas untuk dipastikan.

Kisah tersebut memperlihatkan cara Prof. Asep memaknai pendidikan kebangsaan: cinta tanah air harus ditanamkan melalui perjumpaan, pengajaran, dan keteladanan. Nasionalisme tidak cukup hadir sebagai gagasan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia perlu diperkenalkan kepada generasi muda hingga menjadi kesadaran yang menuntun pilihan dan perbuatan.

Dalam bagian ini, Prof. Asep juga menyampaikan bait bernuansa patriotik yang menyerukan kecintaan kepada tanah air dan ajakan untuk menjadi penjaganya. Bait tersebut menjadi pengantar bagi pesan yang kemudian ia tekankan berulang kali: cita-cita hanya akan menemukan bentuknya ketika orang bersedia bergerak dan bekerja.

“Keberhasilan” menuntut kiprah nyata

Salah satu pesan paling kuat dalam ceramah itu adalah penegasan bahwa keberhasilan ditentukan oleh tindakan, bukan semata-mata perkataan.

Prof. Asep mengajak jamaah agar tidak berhenti pada ucapan dan cita-cita. Orang yang menginginkan perubahan harus bersedia mengambil peran, melakukan pekerjaan nyata, serta mengusahakan hasil dari apa yang diyakininya.

Pesan itu terasa relevan bagi santri yang tengah menyiapkan diri menghadapi masa depan. Ilmu, menurut semangat ceramah tersebut, tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan yang disimpan atau dibicarakan. Ilmu perlu menjelma menjadi pengabdian—sesuatu yang manfaatnya dapat dirasakan oleh umat dan bangsa.

Cinta tanah air, dalam pengertian ini, bukan hanya perkara perasaan. Ia menuntut kesediaan untuk berbuat, mengambil tanggung jawab, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan bersama.

Jangan menjadi seperti sapi pembajak sawah

Untuk memperjelas pentingnya kesadaran dalam bertindak, Prof. Asep menggunakan perumpamaan tentang sapi yang membajak sawah.

Sapi dapat berjalan mengikuti arah pengendalinya dan menjalankan pekerjaan yang diberikan. Namun, sapi tidak memahami tujuan akhir dari pekerjaan itu. Ia tidak memikirkan hasil yang kelak dipetik dari sawah yang dibajak, apalagi akibat lebih luas dari gerak yang dilakukannya.

Melalui perumpamaan tersebut, Prof. Asep mengingatkan manusia agar tidak menjalani kehidupan sekadar mengikuti arahan tanpa memahami tujuan dan tanggung jawabnya.

Ia menghubungkan perumpamaan itu dengan pengalaman pahit bangsa Indonesia pada masa penjajahan. Transkrip memuat gambaran tentang rakyat yang dikumpulkan di sebuah lapangan dan ditembaki, tetapi rincian peristiwanya tidak cukup jelas untuk diidentifikasi sebagai kejadian sejarah tertentu.

Inti perumpamaan itu bukan terletak pada gambaran tentang hewan yang bekerja, melainkan pada peringatan agar manusia tidak kehilangan daya pikir dan kesadaran. Seseorang tidak cukup hanya bergerak; ia perlu mengetahui untuk apa ia bergerak, apa yang hendak dicapai, dan apa akibat dari tindakannya.

Karena itu, Prof. Asep menyapa generasi muda sebagai kelompok yang memiliki kecerdasan dan cita-cita tinggi. Potensi tersebut, menurut pesan ceramahnya, harus disertai kesadaran dan keberanian mengambil peran. Generasi muda tidak seharusnya menjadi pelaksana yang pasif, melainkan manusia yang mampu memahami persoalan dan bertindak dengan tanggung jawab.

Menghimpun kekuatan ulama dan pesantren

Ceramah kemudian bergerak ke pembahasan tentang sejarah gerakan ulama dan proses pembentukan organisasi. Prof. Asep menyebut tokoh-tokoh seperti K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah ketika menerangkan perkembangan gerakan ulama sebelum dan sekitar terbentuknya Nahdlatul Ulama.

Ia menggambarkan adanya proses panjang dalam memikirkan bagaimana gerakan ulama dapat dibangun lebih besar dan memiliki jangkauan yang lebih luas. Dalam penuturannya, pendidikan, kaderisasi, dan pembentukan organisasi menjadi bagian dari ikhtiar menghimpun kekuatan yang sebelumnya tersebar.

Bagian transkrip yang membahas urutan peristiwa, usia tokoh, serta hubungan antarkelompok politik mengalami banyak gangguan sehingga rincian tersebut belum dapat dipastikan. Karena itu, pokok yang dapat ditarik secara hati-hati ialah penekanan Prof. Asep pada pentingnya pemikiran matang dan persatuan dalam membangun gerakan bersama.

Ia juga menceritakan peran ayahnya yang, menurut penuturannya, pernah tinggal di Makkah selama sekitar 14 tahun dan menjadi penghubung di antara orang-orang dengan pandangan berbeda. Kisah ini memperlihatkan penghargaan Prof. Asep terhadap peran komunikasi dan upaya menjembatani perbedaan di tengah para tokoh.

Dalam bagian akhir transkrip yang tersedia, Prof. Asep menyoroti bahwa perlawanan terhadap penjajahan sebelumnya banyak dilakukan oleh pesantren-pesantren secara sendiri-sendiri. Ketika bergerak terpisah, perjuangan tersebut berisiko terlupakan dan tidak terhimpun menjadi kekuatan yang lebih luas.

Dari titik itu, ia menekankan pentingnya menyatukan pemikiran pesantren dan ulama. Persatuan bukan sekadar soal berkumpul, melainkan ikhtiar menghubungkan pengetahuan, pengalaman, dan kekuatan agar pengabdian dapat memberi dampak lebih besar.

Dari ingatan sejarah menuju tanggung jawab hari ini

Ceramah Prof. Asep menghubungkan perjuangan masa lalu dengan tanggung jawab generasi sekarang. Mengingat Resolusi Jihad dan peran ulama bukan hanya berarti mengulang cerita sejarah, tetapi juga memahami nilai yang diwariskan: kesediaan berkorban, ketekunan mendidik generasi, kecintaan kepada tanah air, dan keberanian untuk bertindak.

Bagi santri, pesan itu menempatkan ilmu dan pengabdian dalam satu tarikan napas. Belajar bukan tujuan yang berhenti pada diri sendiri. Pengetahuan perlu membentuk manusia yang mampu berpikir mandiri, memahami keadaan, dan mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.

Pada akhirnya, pesan ceramah tersebut kembali pada satu penegasan: keberhasilan tidak akan hadir hanya karena sebuah cita-cita diucapkan berulang kali. Ia menuntut kiprah, kesungguhan, dan kerja yang nyata.

Di tengah peringatan Hari Santri, ajakan itu menjadi pengingat bahwa warisan perjuangan ulama bukan sekadar kenangan yang disimpan dalam tanggal-tanggal bersejarah. Warisan itu hidup ketika generasi penerus bersedia meneruskan nilai-nilainya—dengan ilmu yang bermanfaat, pikiran yang merdeka, persatuan, dan pengabdian kepada umat serta negeri.

  (RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967 (H IMAM ASRORIE)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'