Detail Artikel

*PWM Bali: Mutu Pendidikan Muhammadiyah Ditentukan dari Kualitas Pembelajaran di Ruang Kelas*

*PWM Bali: Mutu Pendidikan Muhammadiyah Ditentukan dari Kualitas Pembelajaran di Ruang Kelas*

 

*Denpasar—Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali, **Dr. Sugito, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan sekolah Muhammadiyah tidak hanya diukur dari jumlah peserta didik atau megahnya sarana pendidikan, tetapi terutama dari kualitas proses pembelajaran yang berlangsung di setiap ruang kelas.*

 

Pesan tersebut disampaikan saat memberikan welcoming speech pada kegiatan *Peningkatan Mutu Pendidikan dan Orientasi Sekolah Muhammadiyah se-Kota Denpasar* di BIM University, Minggu (12/7/2026).

 

Menurut Sugito, sekolah Muhammadiyah di Bali saat ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Meskipun secara kuantitas jumlah sekolah Muhammadiyah masih relatif terbatas dibandingkan kebutuhan masyarakat, *secara kualitas sejumlah sekolah telah mampu menempatkan diri sebagai sekolah unggulan dan sekolah model di tingkat nasional.*

 

Ia mengungkapkan bahwa beberapa sekolah Muhammadiyah di Bali telah memperoleh predikat *Sekolah Unggul Muhammadiyah* dan *Sekolah Model*, sebuah capaian yang menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Muhammadiyah di Pulau Dewata terus mengalami peningkatan.

 

*"Keunggulan tersebut tidak boleh berhenti sebagai prestasi administratif, tetapi harus menjadi identitas yang dikenal masyarakat melalui penguatan branding sekolah,"* ujarnya.

 

Sugito mendorong agar sekolah-sekolah Muhammadiyah yang telah memiliki predikat sekolah unggul maupun sekolah model berani menampilkan identitas tersebut sebagai bentuk akuntabilitas sekaligus media dakwah pendidikan kepada masyarakat.

 

*"Branding bukan sekadar promosi, tetapi cara menunjukkan bahwa sekolah Muhammadiyah memiliki mutu yang dapat dipertanggungjawabkan,"* tegasnya.

 

Namun demikian, Sugito mengingatkan bahwa penguatan citra sekolah tidak akan berarti apabila tidak diikuti dengan peningkatan kualitas pembelajaran.

 

Menurutnya, *pusat dari seluruh upaya peningkatan mutu pendidikan sesungguhnya berada di ruang kelas*, tempat guru berinteraksi langsung dengan peserta didik setiap hari.

 

*"Mutu pendidikan tidak lahir dari dokumen administrasi. Mutu lahir dari proses belajar yang bermakna antara guru dan peserta didik,"* katanya.

 

Karena itu, ia menempatkan guru sebagai aktor paling strategis dalam transformasi pendidikan Muhammadiyah. Seorang guru, menurutnya, tidak cukup hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga harus mampu membangun pengalaman belajar yang membuat peserta didik memahami, menerapkan, dan merefleksikan ilmu yang diperolehnya.

 

Dalam paparannya, Sugito menjelaskan bahwa pembelajaran yang bermutu setidaknya memberikan tiga pengalaman kepada peserta didik, yakni *memahami konsep, mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan nyata, serta melakukan refleksi atas proses belajar yang telah dijalani.*

 

*"Refleksi adalah bagian penting dari pembelajaran. Peserta didik perlu menyadari apa yang dipelajari, mengapa mereka mempelajarinya, dan bagaimana ilmu tersebut bermanfaat bagi kehidupannya,"* jelasnya.

 

Hal yang sama, lanjut Sugito, juga berlaku bagi guru. Setiap selesai mengajar, guru perlu melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran yang telah berlangsung, mulai dari efektivitas metode mengajar, keterlibatan peserta didik, hingga pencapaian tujuan pembelajaran.

 

*"Guru yang terus melakukan refleksi akan terus berkembang. Dari situlah budaya mutu akan tumbuh secara berkelanjutan,"* katanya.

 

Ia menilai, pembelajaran yang hanya berorientasi pada penyelesaian materi pelajaran sudah tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini. Yang dibutuhkan adalah pembelajaran yang mampu membangun kesadaran peserta didik mengenai tujuan belajar serta relevansinya bagi masa depan mereka.

 

Di akhir sambutannya, Sugito mengajak seluruh kepala sekolah dan guru Muhammadiyah di Kota Denpasar memanfaatkan kegiatan peningkatan mutu sebagai momentum memperkuat profesionalisme pendidik sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

 

*"Sekolah Muhammadiyah yang unggul tidak dibangun oleh gedung yang megah, melainkan oleh guru-guru yang terus belajar, kepala sekolah yang visioner, dan budaya mutu yang hidup dalam setiap proses pembelajaran,"* pungkasnya. ( RAYD)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'