Detail Artikel

Ramadan, Rumah, dan Rindu yang Pulang

Ramadan, Rumah, dan Rindu yang Pulang


Ada hal-hal yang hanya terasa utuh ketika Ramadan datang.


Bukan hanya azan magrib yang ditunggu dengan sabar. Bukan pula sekadar hidangan berbuka yang tersaji di meja. Ramadan selalu membawa sesuatu yang lebih dalam: kerinduan untuk kembali berkumpul.


Kembali ke rumah.


Kembali ke keluarga.


Kembali kepada hati yang lama mungkin terpisah oleh kesibukan.


Minggu malam di kawasan Peguyangan, Denpasar, suasana seperti itu terasa hidup di rumah Joko Santoso, S.Kom., M.Kom. Rumah yang biasanya sederhana dan tenang itu malam itu berubah menjadi ruang kebersamaan ketika keluarga besar Dalem Ngayogyakarta berkumpul dalam acara buka puasa bersama.


Di teras rumah, salam-salam hangat saling bersahutan. Di ruang tamu, percakapan lama kembali mengalir seperti sungai yang menemukan jalannya. Ada tawa, ada cerita, ada juga keheningan kecil yang menyimpan rasa haru karena lama tak bertemu.


Ramadan memang memiliki keajaiban tersendiri. Ia mampu mempertemukan orang-orang yang dalam hari-hari biasa hanya berjumpa melalui pesan singkat atau kabar singkat di layar telepon.


Dalam sambutannya sebagai tuan rumah, Joko Santoso menyampaikan rasa syukur karena keluarga besar masih diberikan kesempatan untuk berkumpul dalam suasana Ramadan.


Bagi beliau, kebersamaan seperti ini bukan hanya tradisi tahunan. Ia adalah cara sederhana untuk menjaga tali yang sering kali hampir putus oleh jarak dan kesibukan.


“Alhamdulillah kita masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama. Mudah-mudahan silaturahmi ini terus terjaga dan keluarga kita selalu diberikan keberkahan,” ungkapnya dengan penuh kehangatan.


Menjelang waktu berbuka, suasana terasa begitu akrab. Anak-anak berlarian kecil di halaman, orang tua saling bertukar kabar, sementara hidangan sederhana mulai tersaji di meja makan.


Ketika azan magrib akhirnya berkumandang, semua yang hadir berbuka bersama. Tidak ada kemewahan yang berlebihan, namun ada sesuatu yang jauh lebih berharga: rasa kebersamaan.


Seolah Ramadan sedang mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk yang paling sederhana.


Setelah melaksanakan shalat Isya berjamaah, acara dilanjutkan dengan tausiyah singkat sekitar tujuh menit yang disampaikan oleh Haji Yudhanto.


Dalam ceramahnya, ia mengajak seluruh keluarga untuk memaknai Ramadan sebagai momentum muhasabah, menengok kembali perjalanan diri selama setengah bulan pertama puasa.


“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadan adalah kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri,” ujarnya.


Ia mengingatkan bahwa lima belas hari pertama Ramadan telah berlalu, dan ini saat yang tepat untuk mengevaluasi diri: apakah shalat kita sudah lebih khusyuk, apakah hati kita lebih lembut, dan apakah kepedulian kita kepada sesama semakin tumbuh.


Haji Yudhanto juga menyinggung datangnya sepuluh malam terakhir Ramadan, masa yang oleh umat Islam diyakini sebagai waktu penuh keberkahan, termasuk kemungkinan hadirnya malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.


Namun di balik semua itu, ia menekankan satu hal yang sederhana tetapi sering terlupakan: berbagi kepada sesama.


Ramadan, katanya, bukan hanya tentang memperbanyak ibadah pribadi, tetapi juga membuka hati untuk membantu mereka yang hidup dalam keterbatasan.


“Banyak saudara kita yang untuk berbuka saja harus berpikir keras. Karena itu kita harus selalu bersyukur dan tidak lupa berbagi,” tuturnya.


Pesan lain yang disampaikannya adalah pentingnya saling memaafkan dalam keluarga. Sebab belum tentu semua orang yang berkumpul malam itu akan kembali bertemu pada Ramadan berikutnya.


Karena itu, sebelum Idul Fitri tiba, setiap hati sebaiknya sudah saling memaafkan.


Malam semakin larut. Percakapan keluarga masih berlangsung hangat. Di sudut-sudut rumah, orang-orang berbagi cerita masa lalu, membicarakan rencana masa depan, atau sekadar menikmati kebersamaan yang jarang terjadi.


Bagi keluarga besar Dalem Ngayogyakarta, pertemuan seperti ini bukan hanya acara buka puasa.


Ia adalah cara menjaga ingatan bahwa keluarga adalah tempat pulang.


Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, di mana orang sering lebih dekat dengan layar telepon daripada dengan orang di sampingnya, momen seperti ini terasa semakin berharga.


Ramadan, pada akhirnya, bukan hanya bulan ibadah.


Ia juga bulan yang mengajarkan manusia untuk kembali kepada hal-hal yang paling mendasar dalam hidup: keluarga, kebersamaan, dan kasih sayang.


Dan malam itu di Peguyangan, semua itu terasa nyata.


Di sebuah rumah sederhana, orang-orang berkumpul, berbagi hidangan, berbagi doa, dan berbagi hati.


Ramadan pun terasa lebih hangat.(RAYD)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'