Detail Artikel

Ramadhan di Batu Aji: Perjalanan Penuh Makna di Tengah Kemacetan dan Kemuliaan Berbagi

Ramadhan di Batu Aji: Perjalanan Penuh Makna di Tengah Kemacetan dan Kemuliaan Berbagi

Sabtu sore itu, deru mesin motor kupacu dengan semangat menuju Batu Aji. Tujuan kami jelas: menghadiri acara buka puasa bersama dan santunan untuk anak yatim serta kaum duafa. Namun, perjalanan menuju tempat acara tak semulus yang dibayangkan.

Dari Alas Kedaton, aku mengambil jalur yang lebih cepat menuju Tabanan, berharap bisa menghindari kepadatan. Sayangnya, di tengah perjalanan, kota Tabanan menyuguhkan pemandangan yang tak terelakkan—ogoh-ogoh besar diarak mengelilingi kota. Arak-arakan ini bukan sekadar pertunjukan biasa, karena kabarnya, ada penilaian lomba pada 15 Maret 2025, meski puncak perayaannya masih di akhir bulan.

Tak ingin terjebak lebih lama, aku putuskan belok kiri melewati Masjid Agung Tabanan. Namun, lagi-lagi aku dihadang oleh kemeriahan lain—antrean panjang pembeli takjil di sepanjang jalan. Aneka hidangan menggoda mata dan perut, dari kolak pisang hingga gorengan hangat yang renyah. Sempat terlintas untuk berhenti dan sekadar mencicipi, namun aku segera tersadar—eh, kan lagi puasa! Fokus kembali pada perjalanan, kupacu motorku lebih cepat. Gas!

Namun, di balik adrenalin yang terpacu, suara lembut dari belakang mengingatkan, “Hati-hati, Mas...” Ya, istri tercinta yang setia menemani, selalu waspada di setiap perjalanan.

Batu Aji: Desa yang Bergeliat di Bulan Suci

Setibanya di Batu Aji, suasana desa ini begitu berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya jalanan tampak lengang, kini ramai oleh para penjual dan aktivitas warga yang semakin hidup di bulan suci Ramadhan. Kami pun tiba di tempat acara, meskipun dari kejauhan, sayup-sayup sudah terdengar suara pembukaan. Syukurlah, belum banyak yang hadir, dan aku masih sempat bergabung tanpa terlalu ketinggalan

Dengan sedikit tersipu, kuucapkan permohonan maaf, “Maaf, tadi macet...” sambil disambut senyum ramah para panitia.

Kemuliaan Ramadhan: Berbagi dengan Yatim dan Duafa

Acara ini digagas oleh Ustadz H. Mansyur Pasaribu bersama Asmadi, Ketua PC NU Kerambitan. Tradisi mulia ini telah menjadi agenda tahunan, yang senantiasa membawa keberkahan bagi mereka yang membutuhkan.

Susunan acara begitu khidmat dan penuh makna:

Pembukaan, membuka pintu keberkahan bagi semua yang hadir.

Lantunan kalam ilahi oleh qori juara Kabupaten Tabanan, menggetarkan hati setiap pendengar.

Sambutan dari Ustadz H. Mansyur, menyampaikan pesan kebaikan dan kebersamaan.

Tawasul, memohon keberkahan bagi semua.

Buka puasa bersama—momen kebersamaan yang dinanti-nanti, di mana setiap suapan menjadi ladang pahala.

Ceramah dari Ustadz Torehan Ar-Roiba Tabanan, menyejukkan hati dengan ilmu dan tausiyah penuh hikmah.

Santunan untuk 20 anak yatim dan duafa, berupa sembako, makanan ringan, serta uang santunan yang diserahkan dengan penuh kasih.

Makan malam bersama, merajut kebersamaan dalam hangatnya suasana Ramadhan.

Shalat Isya dan Tarawih berjamaah, menyempurnakan ibadah di malam penuh berkah.

Acara ini bukan sekadar seremonial, tetapi bukti nyata bahwa Ramadhan adalah bulan berbagi, bulan kepedulian, dan bulan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Refleksi: Sebuah Perjalanan yang Lebih dari Sekadar Fisik

Perjalanan menuju Batu Aji ini bukan hanya tentang menembus kemacetan atau menghindari arak-arakan. Lebih dari itu, ini adalah perjalanan hati—belajar bersabar, menahan godaan, mengutamakan kebaikan, dan merasakan makna berbagi.

Di tengah hiruk-pikuk dunia, Ramadhan mengajarkan kita untuk kembali pada esensi sejati: kesederhanaan, kepedulian, dan kebersamaan.

Terima kasih, Ustadz H. Mansyur, Asmadi, dan semua pihak yang telah menyelenggarakan acara ini. Semoga keberkahan Ramadhan terus menyertai kita semua. Aamiin.( Raden Alit)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'