Detail Artikel

Ramadhan yang Menggerakkan: Santunan, Kolaborasi, dan Spirit I’tikaf yang Sesungguhnya

Ramadhan yang Menggerakkan: Santunan, Kolaborasi, dan Spirit I’tikaf yang Sesungguhnya

Denpasar — Senja Ramadhan itu turun perlahan, membalut kediaman Hj. Mien Khalil dalam cahaya keemasan yang hangat. Usai waktu Ashar, halaman rumah mulai dipenuhi langkah-langkah penuh niat baik. Para tokoh, aktivis sosial, relawan, dan tamu undangan hadir bukan sekadar untuk berbuka puasa bersama, tetapi untuk merajut simpul kemanusiaan dalam sebuah kolaborasi yang sarat makna.

Acara “Berbuka dan Berbagi” ini menjadi momentum kebersamaan lintas lembaga dalam mendukung anak yatim, siswa berprestasi, serta para guru ngaji. Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan kolaboratif yang digagas oleh LazisMi ICMI bersama jejaring kemanusiaan: LANTIP, IPHI Bali, MTP IPHI Bali, Wanita Islam, Bina Insan Mulia, Alisa Rafina, dan Suara Umat.

Kolaborasi Tanpa Sekat

Hadir dalam kegiatan tersebut H. Imam Asrorie, Koordinator Kemanusiaan sekaligus perwakilan LazisMi, H. Henk Kusumawardana dari LANTIPDA Bali, H. Maman selaku Ketua IPHI Bali, H. Muslim, H. Saleh, serta tokoh-tokoh perempuan penggerak seperti Hj. Dewi Rully, Hj. Nining (Wanita Islam), Hj. Heni (Bina Insan Mulia), dan Hj. Ernawati (Alisa Rafina).

Kehadiran saudara-saudara Hindu dari Ormas LANTIP  L Yayuk dan Teman teman,semakin memperkuat pesan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas identitas. Nilai solidaritas dan empati menjadi bahasa bersama yang menyatukan.

Acara dipandu dengan hangat oleh MC Ambarawati, didukung Tim Media Suara Umat  oleh Chef Raden Alit dan Amalia, yang mengabadikan setiap momen. Hidangan berbuka disiapkan oleh Tuan Rumah dan Simpatisan yang ikut menyumbang hidangan tambahan di motori oleh Kkak Desi, sementara Bunda Rahma selaku Bendahara LazisMi memastikan santunan tersalurkan secara tertib dan amanah.

Kalam Ilahi Mengawali Kebaikan

Kegiatan dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Farhan, seorang anak yatim yang melantunkan ayat dengan suara bening dan penuh penghayatan. Saritilawah dibawakan oleh ananda Sajid, menghadirkan suasana spiritual yang menyentuh relung hati para hadirin.

Dalam sambutannya, H. Imam Asrorie menegaskan bahwa Ramadhan harus menjadi momentum gerakan sosial yang nyata. “Santunan ini bukan sekadar simbol, tetapi komitmen berkelanjutan untuk menguatkan pendidikan dan memuliakan guru ngaji,” ujarnya.

Santunan diberikan kepada:

  • 10 anak yatim

  • 5 siswa berprestasi

  • 10 guru ngaji (ustadz dan ustadzah)

Bantuan tersebut menjadi bentuk penghargaan atas perjuangan mereka dalam menuntut dan mengajarkan ilmu.

I’tikaf: Bukan Soal Sepuluh Malam

Tausiyah Ramadhan disampaikan oleh Ustadz H. Kusnadi yang mengangkat tema i’tikaf dengan perspektif yang mencerahkan. Ia meluruskan pemahaman umum bahwa i’tikaf bukan semata-mata bermalam sepuluh hari terakhir Ramadhan.

“I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Ia bisa dilakukan kapan saja. Duduk sejenak menunggu shalat dengan niat ibadah pun bernilai i’tikaf,” tuturnya.

Pesan itu menyentuh kesadaran kolektif bahwa esensi ibadah terletak pada niat dan kesungguhan hati, bukan semata durasi.

Motivasi untuk Generasi Masa Depan

Sesi berikutnya diisi oleh H. Joko, M.Kom., yang berbagi pengalaman hidup dan motivasi kepada para siswa. Dengan gaya komunikatif dan inspiratif, ia mengajak anak-anak untuk menjadikan keterbatasan sebagai pijakan menuju keberhasilan.

“Belajar sungguh-sungguh adalah bentuk syukur. Kalian adalah harapan umat,” pesannya.

Para tokoh yang hadir — termasuk H. Henk Kusumawardana, H. Maman, Hj. Nining, dan Hj. Dewi Rully — turut memberikan paparan dan motivasi, menegaskan pentingnya pendidikan, solidaritas, dan peran keluarga dalam membangun generasi unggul.

Berbuka dalam Kebersamaan

Saat adzan Maghrib berkumandang, seluruh hadirin berbuka puasa bersama dalam suasana khidmat. Usai shalat Maghrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan makan malam penuh keakraban.

Di antara senyum anak-anak yatim dan wajah haru para guru ngaji, tergambar bahwa kebaikan selalu menemukan jalannya ketika niat dipertemukan dalam kolaborasi.

Lebih dari Sekadar Seremonial

Kegiatan ini bukanlah acara tunggal, melainkan bagian dari gerakan kemanusiaan berkelanjutan yang telah dirintis melalui berbagai program pendidikan, bantuan SPP siswa dhuafa, respon tanggap bencana, serta penguatan kapasitas umat.

Ramadhan di kediaman Hj. Mien Khalil sore itu menjadi saksi bahwa ketika lembaga, tokoh, dan masyarakat bersatu, kebaikan menjelma menjadi energi perubahan.

Bukan sekadar berbuka puasa, tetapi membuka harapan.
Bukan hanya santunan, tetapi peneguhan kepedulian.
Bukan sekadar i’tikaf sepuluh malam, tetapi kesadaran untuk terus berdiam dalam kebaikan.

Dan dari sanalah, peradaban dimulai — dari hati yang peduli, dari tangan yang berbagi, dari kolaborasi yang menguatkan.(RAYD)  Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'