Detail Artikel

RANGKAIAN PERESMIAN GEDUNG MUI BALI: KHIDMAT, MERAKYAT, DAN PENUH MAKNA

RANGKAIAN PERESMIAN GEDUNG MUI BALI: KHIDMAT, MERAKYAT, DAN PENUH MAKNA

Denpasar — Peresmian Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali yang digelar pada 17–18 April 2026 menjadi momentum bersejarah bagi umat Islam di Bali. Tidak sekadar seremoni, rangkaian acara berlangsung khidmat, sarat makna, dan mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan umat.

Berikut rangkaian kegiatan peresmian yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber lapangan dan publikasi media:


1. PEMBUKAAN DENGAN NUANSA RELIGIUS DAN NASIONAL

Acara diawali dengan suasana khidmat melalui pembacaan kalam ilahi dan doa bersama. Momentum ini menegaskan bahwa pembangunan gedung MUI bukan sekadar fisik, tetapi juga spiritual.

Selanjutnya, seluruh hadirin berdiri menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Pancasila sebagai bentuk komitmen kebangsaan dan persatuan.

 

2. PENAMPILAN BUDAYA: TARI RODAT KEPAON

Suasana semakin semarak dengan penampilan Tari Rodat dari anak-anak Kampung Muslim Kepaon, Denpasar.

Penampilan ini menjadi simbol harmonisasi antara nilai keislaman dan budaya lokal Bali.

Perpaduan budaya dan dakwah ini menjadi wajah Islam Bali yang inklusif dan berakar pada kearifan lokal.

 

3. SAMBUTAN TOKOH DAN PENEGASAN MISI GEDUNG MUI

Sejumlah tokoh hadir dalam peresmian ini, mulai dari pengurus MUI, tokoh masyarakat, hingga unsur pemerintah daerah dan DPRD Bali

Dalam sambutannya, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pentingnya gedung ini sebagai pusat pelayanan umat Islam di Bali.

“Gedung ini harus benar-benar dimanfaatkan untuk pelayanan optimal bagi umat,” tegasnya.

 

4. PROSESI INTI: PENANDATANGANAN PRASASTI DAN PENGGUNTINGAN PITA

Puncak acara ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita oleh Gubernur Bali.

Prosesi ini diawali dengan kalimat pembuka yang sarat nilai toleransi, menjadi simbol kuat harmoni antarumat beragama di Bali.

Momentum ini menandai resmi beroperasinya gedung MUI sebagai “rumah besar pelayanan umat”.

 

5. PENINJAUAN GEDUNG DAN FUNGSI LANTAI

Setelah peresmian, dilakukan peninjauan langsung ke seluruh bagian gedung:

  • Lantai 1: tempat ibadah dan kegiatan umat
  • Lantai 2: ruang kerja dan pusat administrasi MUI
  • Lantai 3: ruang kolaborasi untuk ormas Islam

Gedung ini dibangun dengan semangat gotong royong, dengan total anggaran sekitar Rp3,6 miliar, hasil sinergi bantuan pemerintah dan swadaya umat.

 

6. PENEGUHAN SEMANGAT GOTONG ROYONG UMAT

Dalam seluruh rangkaian acara, satu pesan kuat terus digaungkan: gedung ini adalah hasil kerja kolektif.

Dari donasi kecil hingga kontribusi besar, semuanya menjadi bagian dari sejarah berdirinya MUI Bali.


GEDUNG BERDIRI, PENGABDIAN DIMULAI

Peresmian ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal tanggung jawab besar MUI dalam melayani umat.

Gedung ini kini menjadi simbol:

  • kebersamaan
  • gotong royong
  • dan komitmen pelayanan umat

Dari Bali, pesan itu kuat: umat bersatu, pelayanan menguat, harmoni tetap terjaga.

#SuaraUmat #MUIBali #PelayananUmat #IslamBali #GotongRoyong.(AMBAR)

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'