Detail Artikel

Rantau yang Menyatukan: Dari Pelantikan IKMS Bali, Suara Adat, Ulama, dan Pemimpin Mengalir Menjadi Satu

Rantau yang Menyatukan: Dari Pelantikan IKMS Bali, Suara Adat, Ulama, dan Pemimpin Mengalir Menjadi Satu

 

Denpasar, SuaraUmat.id

Di tanah rantau, di mana jejak langkah tak selalu berpijak pada tanah kelahiran, ada satu hal yang tetap tegak berdiri: nilai. Nilai yang diwariskan, dijaga, dan dihidupkan—dari surau ke panggung adat, dari keluarga ke organisasi. Pelantikan Ikatan Keluarga Minang Saiyo (IKMS) Bali kali ini bukan hanya peristiwa seremonial, melainkan simpul pertemuan antara adat, iman, dan kebangsaan.

 

Dalam rangkaian wawancara yang dihimpun oleh Media Suara Umat dan Radio Megantara Bali, tergambar satu benang merah yang kuat: bahwa perantauan bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perluasan makna kehidupan.

 

Seorang ustaz Terkenal Bernama Derry Sulaiman dari Bekasi, Jakarta yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan pandangannya dengan penuh keteduhan. Ia menilai kegiatan pelatihan yang dirangkaikan dalam pelantikan menjadi bagian penting dalam membangun generasi baru.

Kegiatan seperti ini perlu terus dilakukan. Kita melihat semakin banyak anak muda yang terlibat, dan ini pertanda baik untuk masa depan, ujarnya.

 

Ia juga menegaskan pentingnya semangat adaptasi dalam kehidupan perantau.

Orang Minang harus mampu menyesuaikan diri, menyatu dengan masyarakat setempat, tanpa kehilangan jati dirinya, tambahnya, menguatkan kembali falsafah hidup yang telah lama menjadi pegangan.

 

Harapan pun disampaikan dengan sederhana namun mendalam:

Semoga IKMS benar-benar menjadi rahmat bagi semua, tidak hanya untuk orang Minang, tetapi untuk masyarakat luas

 

Sementara itu, dari sisi internal organisasi, suasana haru dan lega terasa dari para pengurus yang baru saja dilantik. Salah satu pengurus mengungkapkan perasaannya setelah prosesi selesai.

Awalnya tentu deg-degan, tapi setelah selesai, terasa lega dan bahagia. Ini amanah besar yang harus dijalankan bersama, tuturnya.

 

Ia menekankan bahwa kekuatan utama organisasi terletak pada kebersamaan.

Harapan kami, ke depan IKMS semakin solid, bekerja bersama, dan mampu menjalankan amanah hingga tuntas, katanya.

 

Dalam konteks yang lebih luas, kontribusi IKMS Bali juga diarahkan untuk terus bersinergi dengan pemerintah dan masyarakat setempat.

Kami selalu berupaya hadir dalam setiap kegiatan, berkolaborasi dengan pemerintah, dan menjaga keharmonisan di Bali, jelasnya.

 

Tak hanya itu, upaya pelestarian budaya juga terus dilakukan. Berbagai kegiatan seni dan kolaborasi budaya antara Minangkabau dan Bali menjadi bukti nyata bahwa keberagaman bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipadukan.

Budaya Minang dan Bali bisa berjalan berdampingan, saling memperkaya, dan memperindah wajah kebangsaan kita, ungkapnya.

 

Menariknya, dalam salah satu penampilan, terlihat peran para perempuan—istri-istri dari orang Minang yang berasal dari latar belakang berbeda—yang turut mempersembahkan kolaborasi seni. Ini menjadi simbol bahwa adat Minang tidak kaku, tetapi lentur dan mampu beradaptasi tanpa kehilangan ruhnya.

 

Di sisi lain, harapan kepada masyarakat juga disampaikan dengan terbuka. IKMS Bali membuka diri terhadap kritik, saran, dan kolaborasi.

Kami menerima masukan dari siapa pun. Ini bagian dari upaya untuk terus menjadi lebih baik, ujarnya.

 

Tak berhenti di situ, pandangan yang lebih luas datang dari tokoh yang turut hadir dalam acara tersebut. Ia melihat pelantikan ini sebagai cerminan keberhasilan perantau Minang dalam menjaga budaya di rantau.

 Budaya Minang tetap hidup dan terjaga, bahkan berpadu dengan budaya Bali. Ini sesuatu yang luar biasa, katanya.

 

Ia menegaskan bahwa kekayaan budaya Indonesia harus menjadi kekuatan pemersatu.

Kita berbeda-beda, tetapi kita disatukan oleh semangat kebangsaan. Bahasa, budaya, dan adat yang beragam justru menjadi kekuatan kita, ujarnya.

 

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa sejarah telah membuktikan peran besar perantau dalam membangun bangsa. Karena itu, keberadaan organisasi seperti IKMS harus terus diperkuat agar mampu melahirkan kontribusi nyata.

 

Di mana pun berada, perantau harus memberi manfaat. Menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton, tegasnya.

 

Pada akhirnya, seluruh rangkaian kegiatan ini kembali bermuara pada satu nilai yang sama: persatuan. Tidak ada sekat, tidak ada jarak, tidak ada eksklusivitas. Yang ada hanyalah kebersamaan dalam keberagaman.

 

Dan seperti yang telah lama diajarkan oleh para pendahulu Minangkabau—

bahwa di mana kaki berpijak, di sanalah langit dijunjung;

bahwa di mana hidup dijalani, di sanalah kebaikan harus ditanamkan.

 

Dari Bali, dari rantau yang jauh dari kampung halaman, suara itu kembali bergema:

bahwa adat bukan sekadar warisan, tetapi arah;

bahwa perantau bukan sekadar pencari hidup, tetapi penjaga nilai;

dan bahwa Indonesia, dalam segala perbedaannya, tetap satu dalam jiwa.(AMBAR)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'