Rasa yang Menyatukan: Jamuan Cinta di Lantai Tiga SMK Muhammadiyah Denpasar
Rasa yang Menyatukan: Jamuan Cinta di Lantai Tiga SMK Muhammadiyah Denpasar
DENPASAR – Setelah jabat tangan selesai, peluk maaf dituntaskan, dan doa-doa melayang dalam hangatnya Halal Bihalal keluarga besar Muhammadiyah Denpasar, peserta tak langsung bubar seperti daun salam yang sudah habis aromanya. Tidak. Justru sesi pamungkas yang paling menggoda baru saja dimulai—sesi yang disebut banyak orang sebagai “tausyiah ke dua dalam bentuk hidangan.”
Bertempat di lantai 3 SMK Muhammadiyah Denpasar, ruang kelas mendadak berubah menjadi restoran berkelas dengan nuansa spiritualitas dan cinta lokal. Meja-meja tertata rapi, dihiasi taplak dan bunga, disiapkan penuh dedikasi oleh siswa-siswi SMK Muhammadiyah. Mereka bukan sekadar pelajar hari itu—mereka adalah chef visual dan arsitek suasana yang menghadirkan nuansa buffet setara hotel bintang lima, tapi dengan sentuhan hati khas Muhammadiyah.
Hidangan yang Tak Sekadar Mengenyangkan
Menunya? Ah, inilah simfoni kuliner Nusantara yang diramu bukan hanya untuk lidah, tapi juga untuk mengenang, merenung, dan bersyukur. Mari kita dekonstruksi:
• Ayam Bumbu Jawa
Dagingnya empuk, bumbunya meresap seperti nasihat dari guru ngaji: lembut tapi membekas. Rempah-rempah seperti ketumbar, lengkuas, dan kecap manis bekerja seperti majelis-majelis dalam Muhammadiyah—berkolaborasi menghasilkan kelezatan yang utuh dan seimbang.
• Semur Telur Sambal Goreng Hati
Ini bukan sekadar lauk, ini perpaduan logika dan rasa. Telur yang padat dan protektif, berpadu dengan hati ayam yang bersambal pedas—menggambarkan keseimbangan antara kerasnya perjuangan dan lembutnya cinta dalam dunia pendidikan. Kadang kita butuh pedas, supaya semangat tak kendur. Tapi juga perlu manis dan gurih, agar hidup tetap nikmat dijalani.
• Tumis Sayur Campur
Di sinilah inklusivitas terasa. Wortel, buncis, kol, dan tempe bersatu dalam satu wajan, tanpa rebutan peran. Seperti sekolah Muhammadiyah: berbagai latar belakang bisa tumbuh dalam ruang yang sama, selama bumbunya adil dan apinya tak berlebihan.
• Nasi Putih dan Kerupuk
Simbol kesederhanaan. Karena tak semua hal butuh bumbu. Kadang yang paling netral justru yang paling penting. Dan jangan remehkan kerupuk: ia mungkin ringan, tapi ketika renyahnya bertemu kuah semur, itulah harmoni sejati.
• Buah Segar Penutup
Setelah semua kenikmatan dan kelimpahan, hidangan ini seperti doa penutup shalat: sederhana, manis, dan menyegarkan. Sebuah pengingat bahwa semua ini hanyalah nikmat sesaat—yang sejatinya memanggil syukur.
Belajar dari Dapur
Yang tak kalah istimewa, seluruh tatanan dan penyajian makanan dikerjakan oleh siswa-siswi SMK Muhammadiyah Denpasar. Bukan hanya sebagai latihan praktik, tapi sebagai demonstrasi nyata bahwa pendidikan vokasi bukan kelas dua. Meja-meja disusun penuh estetika, prasmanan tertata seperti simfoni, dan pelayanan dilakukan dengan senyum yang lebih ikhlas dari promo restoran manapun.
"Mereka tidak sekadar menyajikan makanan. Mereka menyajikan masa depan," ujar salah satu peserta dengan mata berkaca—mungkin karena semur hati, atau karena benar-benar tersentuh.
Lebih dari Sekadar Makan
Jamuan ini bukan hanya untuk perut. Ia adalah cara Muhammadiyah mengajarkan bahwa silaturahmi tak berhenti di salam, tapi juga di suapan. Bahwa keberkahan bukan hanya di masjid, tapi juga di dapur. Dan bahwa gerakan dakwah pun bisa ditaburkan lewat nasi, tumis, dan semur.
Karena di Muhammadiyah, tauhid bisa dirasakan lewat akhlak, dan ukhuwah bisa dikecap dari semangkuk ayam bumbu Jawa. Maka wajar jika lantai tiga SMK Muhammadiyah hari itu menjadi tempat paling nikmat di Denpasar—bukan karena pendingin ruangan, tapi karena hangatnya rasa saling memiliki. (Raden Alit)



