Detail Artikel

Rektor BIMU Ajak Keluarga Muhammadiyah Bali Membesarkan Kampus: Dari Beasiswa hingga Gerakan Pendidikan

Rektor BIMU Ajak Keluarga Muhammadiyah Bali Membesarkan Kampus: Dari Beasiswa hingga Gerakan Pendidikan


DENPASAR — Sebuah perguruan tinggi tidak pernah lahir hanya dari bata, beton, dan ruang-ruang kelas. Ia lahir dari mimpi, dari keberanian untuk memulai, dan terutama dari kesediaan banyak tangan untuk menghidupkannya.

Semangat itulah yang terasa ketika Rektor Bali International Muhammadiyah University (BIMU), Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menyapa keluarga besar Muhammadiyah dalam Tabligh Akbar di Mushala Ahmad Dahlan, Komplek Pendidikan Muhammadiyah Batanta, Denpasar, Ahad (4/10/2026).

Di hadapan warga Persyarikatan, Prof. Harun tidak hanya memperkenalkan sebuah kampus. Ia sedang mengetuk pintu kesadaran kolektif: bahwa hadirnya perguruan tinggi Muhammadiyah di Bali membutuhkan lebih dari sekadar legalitas dan bangunan. Ia membutuhkan dukungan, mahasiswa, kepercayaan, dan keberanian seluruh keluarga besar Muhammadiyah untuk menjadikannya besar.

Ia pun menyampaikan ajakan yang sederhana, tetapi langsung menyentuh keluarga Muhammadiyah.

Anak, putra-putri, menantu, maupun keluarga besar Persyarikatan didorong untuk mempertimbangkan BIMU sebagai tempat melanjutkan pendidikan.

“Jangan hanya satu,” menjadi semangat yang disampaikan Prof. Harun kepada jamaah.

Ajakan itu disampaikan dengan gaya komunikatif dan penuh humor, tetapi di baliknya tersimpan pesan serius: kampus Muhammadiyah hanya akan hidup apabila keluarga Muhammadiyah ikut menjadi bagian dari denyut kehidupannya.

Beasiswa untuk Membuka Pintu

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Harun juga menyampaikan skema dukungan pendidikan bagi calon mahasiswa.

Ia menjelaskan bahwa bagi peserta yang menjadi penerima utama program yang ditawarkan, tersedia kesempatan memperoleh beasiswa penuh hingga 100 persen. Sementara apabila jumlah penerima melebihi kuota yang ditentukan, akan diberikan skema beasiswa lainnya sesuai kebijakan yang telah disiapkan.

Pesan itu menjadi salah satu daya tarik yang disampaikan kepada jamaah: bahwa BIMU ingin membuka pintu seluas mungkin bagi generasi muda Muhammadiyah untuk mendapatkan pendidikan tinggi.

Namun beasiswa, bagi Prof. Harun, bukan semata-mata soal keringanan biaya.

Ia adalah cara untuk memastikan bahwa cita-cita mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah di Bali tidak berhenti sebagai seremoni.

Sebuah universitas membutuhkan mahasiswa.

Mahasiswa membutuhkan ruang belajar.

Dan ruang belajar membutuhkan visi besar agar ilmu yang lahir darinya kelak kembali menjadi manfaat bagi masyarakat.

Membangun Tradisi Pendidikan Muhammadiyah

Prof. Harun juga mengajak keluarga Muhammadiyah untuk membangun kesinambungan pendidikan.

Jika anak-anak telah menempuh pendidikan dasar dan menengah di lingkungan Muhammadiyah, maka pendidikan tinggi juga perlu menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Dari sekolah Muhammadiyah menuju kampus Muhammadiyah.

Dari ruang kelas menuju laboratorium kehidupan.

Dari pendidikan menuju pengabdian.

Gagasan tersebut sejalan dengan tradisi panjang Muhammadiyah yang menjadikan pendidikan sebagai salah satu jalan utama dakwah dan pembentukan manusia berkemajuan.

Karena itu, BIMU diharapkan tidak berdiri sebagai institusi yang terpisah dari ekosistem pendidikan Muhammadiyah di Bali. Ia justru diharapkan menjadi jenjang lanjutan yang memperkuat mata rantai pendidikan Persyarikatan.

Nama yang Harus Diingat

Dalam suasana yang cair dan komunikatif, Prof. Harun berulang kali mengajak jamaah mengingat identitas kampus tersebut.

Ia memperkenalkan nama Bali International Muhammadiyah University, yang kemudian dikenal sebagai BIMU.

Ajakan untuk mengingat nama tersebut disampaikan secara interaktif. Jamaah diajak menyebut bersama nama kampus yang sedang dibangun itu.

Bagi Prof. Harun, sebuah lembaga pendidikan perlu terlebih dahulu dikenal sebelum kemudian dicintai, didukung, dan dibesarkan.

Karena itu, ia tidak hanya berbicara kepada calon mahasiswa.

Ia berbicara kepada orang tua.

Kepada guru.

Kepada pimpinan Persyarikatan.

Kepada warga Muhammadiyah.

Kepada siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap masa depan pendidikan di Bali.

Kampus yang Sedang Berjuang Menjadi Besar

Dalam paparannya, Prof. Harun juga mengungkapkan bahwa BIMU masih berada dalam tahap penguatan dan pengembangan fasilitas.

Perguruan tinggi tersebut tengah menyiapkan berbagai kebutuhan kelembagaan, termasuk penguatan gedung dan fasilitas pendidikan.

Pesannya jelas: perjalanan BIMU belum selesai.

Justru, pekerjaan besarnya baru dimulai.

Sebuah kampus tidak lahir dalam satu malam. Ia membutuhkan proses panjang: membangun fasilitas, menyiapkan tenaga pendidik, mengembangkan program akademik, menarik mahasiswa, memperkuat tata kelola, dan membangun kepercayaan publik.

Karena itu, dukungan warga Muhammadiyah menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Prof. Harun mengajak keluarga besar Persyarikatan untuk tidak hanya menjadi penonton dari lahirnya universitas Muhammadiyah di Bali, tetapi menjadi bagian dari sejarahnya.

Gerakan Bersama

Di hadapan jamaah, ia juga menyampaikan gagasan tentang dukungan warga melalui penerimaan mahasiswa baru dan pengenalan kampus kepada masyarakat.

Semangat yang dibangun bukan semata promosi perguruan tinggi, melainkan membentuk gerakan bersama untuk membesarkan institusi pendidikan Muhammadiyah di Bali.

Sebab, jika BIMU berhasil tumbuh, yang memperoleh manfaat bukan hanya Muhammadiyah.

Masyarakat Bali juga akan mendapatkan ruang pendidikan tinggi baru yang dapat menjadi tempat bertemunya ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, dan realitas masyarakat yang majemuk.

Di sinilah letak pentingnya BIMU.

Ia lahir di Bali—sebuah ruang sosial yang sejak lama memperlihatkan bahwa keberagaman bukan alasan untuk berhenti membangun persaudaraan.

Universitas itu diharapkan menjadi bagian dari wajah Muhammadiyah yang terbuka, berkemajuan, dan memberi manfaat.

Dari Tabligh Akbar Menuju Masa Depan Pendidikan

Tabligh Akbar di Mushala Ahmad Dahlan pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang untuk berbicara tentang spiritualitas.

Dari sambutan Ketua PDM Kota Denpasar, Tatang Wisnu Wardhana, muncul pesan tentang toleransi dan dakwah kontekstual.

Dari Ketua PWM Bali, Ir. H. Husnul Fahmi, mengemuka pesan tentang sejarah panjang Muhammadiyah di Bali, konsolidasi, dan pentingnya memperkuat Persyarikatan.

Sementara dari Rektor BIMU, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, muncul ajakan untuk menatap masa depan melalui pendidikan tinggi.

Ketiganya seperti menyusun satu garis yang sama.

Dakwah membutuhkan masyarakat yang rukun. Gerakan membutuhkan konsolidasi. Dan masa depan membutuhkan pendidikan.

BIMU hadir di titik temu ketiganya.

Ia menjadi ikhtiar Muhammadiyah untuk memperpanjang usia dakwah melalui ilmu pengetahuan.

Sebab sekolah dan universitas tidak hanya membangun gedung. Ia membangun manusia.

Dan manusia yang berilmu, berakhlak, serta memiliki kepedulian sosial adalah modal paling panjang bagi sebuah gerakan.

Dari Denpasar, Muhammadiyah sedang menanam benih itu.

Barangkali hari ini ia masih berupa kampus yang sedang berjuang menemukan bentuk terbaiknya.

Namun setiap universitas besar pernah bermula dari sebuah mimpi.

Dan setiap mimpi besar membutuhkan orang-orang yang bersedia berkata:

“Mari kita besarkan bersama.”

Itulah pesan yang dibawa Prof. Harun dari Tabligh Akbar Muhammadiyah Denpasar: BIMU bukan hanya tentang sebuah nama, tetapi tentang ikhtiar bersama menghadirkan masa depan pendidikan Muhammadiyah di Bali.

 (RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'