Detail Artikel

Resep Kota yang Lezat: Saat Trotoar Jadi Wajan dan Jalan Jadi Dapur Publik

Resep Kota yang Lezat: Saat Trotoar Jadi Wajan dan Jalan Jadi Dapur Publik

Oleh: Seorang Asesor dan Chef Penulis dari Tabanan

Setiap pagi, selepas Subuh, ada “ritual” kecil yang menandai dimulainya hari: secangkir kopi yang belum tandas, kue peneman lambung yang masih sepertiga, dan bekal dari istri tercinta yang menggantung hangat di stang motor. Doa sang istri mendarat lembut di ubun-ubun, menyulut semangat menuju tujuan, membelah pagi dengan PCX kesayangan. Pagi belum matang, tapi aroma hari sudah mulai mengepul.

Namun, di sepanjang perjalanan dari Kediri hingga Teuku Umar, ada satu "bahan" yang selalu terasa mengganggu dalam panci besar bernama kota. Seperti rempah yang tertinggal di dasar wajan, pemandangan para penyapu jalan yang bekerja lebih pagi dari saya, menghirup debu, menari bersama sampah, memantik rasa getir di hati.

Mereka, para petugas kebersihan, sesungguhnya adalah sous-chef kota ini. Tangan mereka tak hanya menyapu, tapi meracik estetika kota dari pinggir-pinggir trotoar yang sudah lama jadi "kompor" bagi kehidupan: warung, toko, mini market, bahkan kaki lima. Ironisnya, "piring" tempat mereka bekerja justru lebih sering berupa area privat yang memanfaatkan fasilitas publik, seperti trotoar, alih-alih ruang bersama seperti jembatan, lubang air, atau taman kota.

Sama halnya dengan sebuah dapur: jika hanya permukaan kompor yang dibersihkan, sementara sudut oven dibiarkan penuh kerak, maka rasa masakan pun akan ikut tercemar. Begitu pula kota ini. Bila hanya tempat usaha yang disapu, dan ruang publik seperti jembatan dibiarkan "bengong", maka wajah kota akan terasa timpang—seperti plating yang indah di piring, tapi dapur belakangnya penuh jelaga.

Membuat Resep Bersama

Kita tidak sedang mencari siapa yang salah. Ini bukan soal "siapa membuang sampah sembarangan", tapi siapa yang bisa ikut menyendokkan solusi ke dalam wajan kota ini. Karena sebagaimana sebuah masakan, keberhasilan rasa datang dari kolaborasi bumbu dan proses memasak yang adil.

Mengapa tidak mulai mengatur ulang "menu kebersihan kota"?

  • Warung, toko, mart yang menggunakan trotoar sebagai etalase seharusnya ikut membersihkan area depannya. Bila perlu, ada "menu aturan" yang menegaskan: izin berjualan akan dievaluasi jika tidak menjaga kebersihan.

  • Jembatan, taman kota, lubang air, dan tempat umum lain adalah “hiasan plating” dari kota. Seharusnya menjadi prioritas dalam “garnish” estetika kota, bukan justru dibiarkan seperti garnish yang layu di pinggir piring.

  • Pemerintah bisa mengeluarkan “resep kebersihan kota” dalam bentuk regulasi tematik yang adil, inspiratif, dan bisa dijalankan bersama.

  • Masyarakat sebagai “koki tamu” bisa berkontribusi lewat komunitas jaga kota, atau sekadar memastikan “sisa masakan”—alias sampah—tidak tercecer di dapur publik.

Agar Kota Tak Sekadar Matang, Tapi Juga Menggugah Selera

Kita semua adalah bagian dari dapur besar bernama Bali. Sebuah dapur yang tidak hanya menyajikan keindahan budaya, tapi juga tanggung jawab kolektif menjaga kerapian dan keseimbangan. Bayangkan bila jembatan-jembatan kota bersih, taman-taman tertata, dan trotoar kembali menjadi milik bersama. Bukankah itu seperti plating fine dining yang bukan hanya indah, tapi juga menggugah hati?

Maka mari kita masak kota ini bersama. Resepnya sederhana: kesadaran, kolaborasi, dan cinta terhadap lingkungan. Karena kota bukan hanya tempat tinggal, tapi juga sajian yang setiap hari kita hidangkan pada generasi mendatang.

Dan seperti kata seorang chef sejati: “Rasa terbaik lahir dari hati yang peduli.”( Raden Alit) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'