Revitalisasi Majelis Taklim Menuju Pusat Pemberdayaan Umat
Berita Utama
Revitalisasi Majelis Taklim Menuju Pusat Pemberdayaan Umat
Musyawarah Wilayah II BKMM-DMI Bali Menegaskan Masjid Bukan Sekadar Tempat Ibadah, tetapi Episentrum Perubahan Sosial, Ekonomi, dan Peradaban
Denpasar | SuaraUmat.id
Masjid tidak lagi cukup hanya dipenuhi jamaah ketika waktu salat tiba.
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, masjid dituntut kembali memainkan peran sejarahnya sebagai pusat lahirnya peradaban. Dari ruang-ruang sederhana tempat umat berkumpul itulah dahulu ilmu pengetahuan tumbuh, ekonomi umat dibangun, kepemimpinan ditempa, dan solidaritas sosial dipelihara.
Semangat itulah yang mengemuka dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) II Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid Dewan Masjid Indonesia (BKMM-DMI) Provinsi Bali yang digelar pada Minggu, 26 Juli 2026, di Denpasar.
Mengusung tema "Revitalisasi Majelis Taklim Masjid sebagai Sentra Pemberdayaan Umat", forum tersebut tidak sekadar menjadi agenda lima tahunan memilih kepengurusan baru. Lebih dari itu, Muswil menjadi ruang refleksi sekaligus ikhtiar bersama untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat pembangunan masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi umat—mulai dari tekanan ekonomi, perubahan sosial, hingga derasnya arus digitalisasi—Majelis Taklim dinilai harus melampaui fungsi tradisionalnya sebagai tempat pengajian. Ia harus hadir sebagai ruang pemberdayaan yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat.
Dari Mimbar Dakwah Menuju Gerakan Pemberdayaan
Ketua BKMM-DMI Provinsi Bali, Dra. Hj. Any Hani'ah, M.A., dalam laporannya menyampaikan bahwa revitalisasi Majelis Taklim harus dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan tiga pilar utama.
"Majelis Taklim tidak boleh berhenti sebagai ruang ceramah. Ia harus menjadi ruang pemberdayaan umat yang mampu menjawab persoalan kehidupan masyarakat," tegasnya.
Konsep revitalisasi tersebut dibangun melalui tiga arah besar.
Pertama, reorientasi pendidikan, dengan memperluas materi kajian keislaman agar terintegrasi dengan literasi digital, pendidikan keluarga (parenting), kesehatan, pengelolaan keuangan keluarga berbasis syariah, hingga penguatan literasi finansial masyarakat.
Menurutnya, dakwah pada era digital tidak cukup hanya berbicara tentang halal dan haram, tetapi juga harus membimbing umat agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai Islam.
Pilar kedua adalah penguatan ekonomi umat.
BKMM-DMI Bali mendorong lahirnya koperasi Majelis Taklim sebagai instrumen pembiayaan usaha anggota, pelatihan keterampilan seperti memasak, menjahit, pemasaran digital, hingga pengembangan usaha berbasis komunitas.
"Masjid harus menjadi tempat lahirnya kemandirian ekonomi umat, bukan hanya tempat berkumpul untuk beribadah," ujarnya.
Sementara pilar ketiga adalah penguatan aksi sosial.
Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, Majelis Taklim didorong menjadi pusat pelayanan masyarakat, mulai dari pengelolaan bank sampah, layanan kesehatan gratis, pendampingan keluarga, hingga pembentukan relawan tanggap bencana.
"Masjid harus menjadi rumah besar masyarakat. Tempat setiap orang menemukan solusi, bukan sekadar tempat singgah untuk beribadah," katanya.
Menjawab Tantangan Zaman
Di tengah dinamika ekonomi nasional yang belum sepenuhnya stabil, forum Muswil juga menyoroti pentingnya pemberdayaan ekonomi keluarga sebagai bagian dari dakwah.
Ketua PW DMI Provinsi Bali, H. Bambang Santoso, M.A., mengingatkan bahwa tantangan umat saat ini bukan hanya persoalan akidah, tetapi juga persoalan kesejahteraan.
"Hari ini kita menghadapi harga kebutuhan yang terus meningkat, lapangan kerja yang semakin kompetitif, dan tantangan ekonomi keluarga yang tidak ringan. Karena itu dakwah harus hadir memberikan solusi nyata," ujarnya.
Menurutnya, dakwah yang hanya berhenti pada mimbar akan kehilangan relevansinya jika tidak mampu menyentuh kebutuhan masyarakat.
Ia mengajak seluruh pengurus Majelis Taklim untuk mulai membangun jejaring ekonomi umat melalui penguatan usaha mikro, pemberdayaan perempuan, hingga pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana memperluas pasar.
Dalam paparannya, Bambang bahkan mencontohkan bagaimana sebuah usaha rumahan mampu menyerap puluhan tenaga kerja hanya dengan memanfaatkan keterampilan sederhana dan pemasaran yang tepat.
Baginya, pemberdayaan ekonomi bukan sekadar meningkatkan pendapatan masyarakat, melainkan juga menjaga martabat umat agar mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Musyawarah untuk Menguatkan Persaudaraan
Selain menjadi ruang evaluasi organisasi, Musyawarah Wilayah II juga menjadi momentum memperkuat konsolidasi BKMM-DMI di seluruh kabupaten dan kota di Bali.
Hingga saat ini, kepengurusan BKMM-DMI telah terbentuk hampir di seluruh daerah, kecuali Kabupaten Karangasem yang masih dalam proses pembentukan.
Pengurus berharap Muswil menjadi titik awal penguatan organisasi hingga ke tingkat akar rumput agar program pemberdayaan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Suasana musyawarah berlangsung hangat dan penuh semangat kekeluargaan.
Para peserta tidak hanya membahas struktur organisasi, tetapi juga bertukar gagasan mengenai model dakwah yang adaptif, penguatan ekonomi berbasis masjid, hingga strategi menghadapi tantangan generasi muda di era digital.
Masjid sebagai Pusat Peradaban
Dalam sejarah Islam, masjid tidak pernah dibangun hanya sebagai bangunan fisik.
Masjid Nabawi di Madinah menjadi pusat pendidikan, pemerintahan, diplomasi, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Semangat sejarah itulah yang ingin dihidupkan kembali melalui gerakan revitalisasi Majelis Taklim.
Revitalisasi bukan sekadar mempercantik bangunan masjid, melainkan menghidupkan kembali ruhnya sebagai pusat ilmu, pusat pelayanan sosial, pusat pemberdayaan ekonomi, dan pusat lahirnya kepemimpinan umat.
Di tengah dunia yang terus berubah, masjid diharapkan kembali menjadi tempat masyarakat menemukan harapan.
Tempat anak-anak belajar.
Tempat keluarga memperoleh penguatan.
Tempat perempuan bertumbuh.
Tempat generasi muda membangun masa depan.
Dan tempat umat bersama-sama menata peradaban.
Karena sesungguhnya, kebangkitan umat tidak selalu dimulai dari gedung-gedung megah. Ia sering kali bermula dari sebuah masjid yang hidup, sebuah majelis taklim yang tercerahkan, dan sekelompok orang yang memilih bergerak bersama demi kemaslahatan. (RORIE)



