Detail Artikel

Romo Syafi’i: Keluarga Sakinah Harus Disiapkan Sejak Sebelum Menikah

Romo Syafi’i: Keluarga Sakinah Harus Disiapkan Sejak Sebelum Menikah

BRUN di Bali, Wamenag Tekankan Pernikahan sebagai Jalan Ketaatan, Tanggung Jawab dan Kebahagiaan

BADUNG, Suara Umat.id — Pernikahan, bagi Wakil Menteri Agama RI Romo H. R. Muhammad Syafi’i, bukan sekadar peristiwa mempertemukan dua insan. Ia adalah pintu menuju kehidupan keluarga yang harus dipersiapkan dengan kesadaran, tanggung jawab dan ketaatan kepada Allah.

Pesan itu disampaikan Romo Syafi’i saat memberikan ceramah dalam kegiatan Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) dan Penguatan Keluarga Sakinah di Provinsi Bali, Rabu, 23 September 2026, sekitar pukul 09.30 WITA, di Ruang Sidang Utama Gosana, Kantor DPRD Kabupaten Badung, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, Sempidi, Mengwi. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah.

Di hadapan peserta, Romo mengawali ceramahnya dengan satu gagasan mendasar: kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat tidak semestinya dipertentangkan. Keduanya, menurutnya, merupakan satu rangkaian kehidupan yang saling berkaitan.

Ia mengutip pesan Al-Qur’an agar manusia tidak melupakan bagiannya di dunia, sembari tetap mempersiapkan kehidupan akhirat.

“Bahagia di dunia, inilah yang menjadi sebab bahagia di akhirat,” ujar Romo dalam ceramahnya.

Dari titik itu, Romo membawa pembahasan kepada pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya yang membuat manusia bahagia?

Menurut dia, kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan, kemenangan, kesehatan, atau kondisi sosial seseorang. Kebahagiaan, katanya, berhubungan dengan keadaan hati dan ketaatan manusia kepada Allah.

“Bahagia nggak sama dengan kaya. Bahagia nggak sama dengan menang. Karena letaknya bukan di sini. Letaknya di hati kita,” tuturnya.

Pernikahan sebagai Jalan Ketaatan

Dalam konteks BRUN, gagasan tersebut kemudian diarahkan Romo kepada persoalan pernikahan.

Ia menegaskan bahwa menikah bukan hanya persoalan perasaan antara laki-laki dan perempuan. Pernikahan, menurutnya, merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah sekaligus amanah yang membawa konsekuensi tanggung jawab.

“Pernikahan, itu adalah perintah Allah,” katanya.

Karena itu, Romo mengingatkan generasi muda agar tidak memandang pernikahan hanya dari sisi romantisme. Ada kehidupan nyata yang harus dijalani setelah akad: memenuhi kebutuhan keluarga, bekerja, membiayai persalinan, mendidik anak, dan menjaga keberlangsungan rumah tangga.

“Bekerjalah kau. Untuk biaya perkawinanmu. Untuk biaya persalinan anakmu. Untuk biaya pendidikan anakmu. Untuk supaya dapur tetap ... Kerja,” tegasnya.

Pesan tersebut menempatkan kesiapan ekonomi dan tanggung jawab sebagai bagian penting dari persiapan menuju perkawinan. Dengan demikian, bimbingan bagi remaja usia nikah tidak berhenti pada kesiapan administratif, tetapi juga menyentuh kesiapan menjalani kehidupan setelah pernikahan.

Cinta Tidak Cukup Tanpa Komitmen

Romo juga berbicara mengenai cinta dan kasih sayang. Menurutnya, rasa cinta merupakan bagian dari fitrah manusia. Laki-laki memiliki kecenderungan mencintai perempuan, demikian pula perempuan memiliki kecenderungan mencintai laki-laki.

Namun, rasa cinta itu harus ditempatkan dalam kerangka tanggung jawab dan ketaatan.

“Cinta dan kasih sayang itu gak dipersiapkan. Itu given dari Allah,” ujarnya.

Karena itu, tantangan bagi calon pasangan bukan sekadar bagaimana menemukan orang yang dicintai, tetapi bagaimana membangun komitmen untuk menjalani kehidupan bersama secara bertanggung jawab.

Dalam perspektif tersebut, BRUN menjadi penting karena memberikan ruang kepada generasi muda untuk memahami bahwa pernikahan bukanlah garis akhir masa remaja, melainkan awal dari tanggung jawab baru.

Menjadi Orang Baik Sebelum Menjadi Kepala Keluarga

Ceramah Romo juga membawa peserta kepada persoalan karakter.

Ia mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan kebaikan maupun keburukan. Karena itu, seseorang tidak boleh merasa telah selesai menjadi orang baik hanya karena status sosial, jabatan, pendidikan, atau penilaian orang lain.

“Jadi jangan jadi orang baik karena orang lain. Karena Allah,” pesannya.

Bagi Romo, karakter baik akan membawa manfaat bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara.

“Beruntunglah orang yang berbuat baik,” katanya. Ia menggambarkan orang yang baik sebagai pribadi yang dipercaya dan mudah mendapatkan amanah dari lingkungan sekitarnya.

Pesan ini menjadi relevan dalam konteks pembentukan keluarga. Sebab keluarga sakinah tidak hanya membutuhkan pasangan yang siap menikah, tetapi juga pribadi yang siap menjadi suami, istri, ayah, ibu, sekaligus anggota masyarakat yang bertanggung jawab.

Keluarga Sakinah Dimulai Sebelum Akad

Dari keseluruhan ceramahnya, Romo Syafi’i menempatkan pembentukan keluarga sakinah sebagai proses panjang yang dimulai jauh sebelum ijab kabul.

Ada kesiapan spiritual. Ada kesiapan mental. Ada kesiapan ekonomi. Ada kesiapan menjalankan tanggung jawab. Dan di atas semuanya, ada kesadaran bahwa kehidupan keluarga harus diarahkan kepada ketaatan kepada Allah.

Ia juga menekankan pentingnya berbuat baik kepada orang tua sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah. Menurutnya, hubungan antara anak dan orang tua tidak semata-mata dibangun atas prinsip balas jasa, melainkan atas kesadaran menjalankan perintah agama.

Dengan kerangka itu, keluarga sakinah tidak berhenti pada gambaran rumah tangga yang harmonis secara emosional. Ia mencakup hubungan manusia dengan Allah, hubungan suami-istri, hubungan orang tua dan anak, serta hubungan keluarga dengan lingkungan sosial.

BRUN dan Tantangan Menyiapkan Generasi

Pesan Romo Syafi’i tersebut menemukan konteksnya dalam program BRUN yang memang diarahkan untuk memberikan pembekalan kepada remaja sebelum memasuki jenjang perkawinan. Direktorat Bina KUA dan Keluarga Sakinah juga menempatkan pembinaan keluarga sebagai proses berjenjang, mulai dari edukasi remaja hingga bimbingan perkawinan dan penguatan keluarga.

Di tengah perubahan sosial yang cepat, persiapan menuju perkawinan tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada anak muda bahwa mereka harus menikah. Yang lebih penting adalah mempersiapkan mereka memahami mengapa menikah, bagaimana menjalani pernikahan, dan tanggung jawab apa yang menunggu setelah pernikahan.

Dari ruang utama Gosana DPRD Badung pagi itu, Romo Syafi’i menyampaikan pesan yang sederhana tetapi mendasar: keluarga sakinah tidak lahir secara tiba-tiba setelah akad. Ia dibangun sejak seseorang mempersiapkan dirinya menjadi manusia yang bertanggung jawab.

Dan persiapan itu, dalam pandangan yang disampaikannya, bermula dari hati—dari ketaatan kepada Allah—lalu diterjemahkan ke dalam kerja, tanggung jawab, cinta, pengasuhan, dan kehidupan keluarga sehari-hari. (RAYD)

   Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'