Sambal, Cinta, dan Ulekan Nusantara
Sambal, Cinta, dan Ulekan Nusantara
Lomba Ngulek Sambal Nusantara 2025 – Art Festival KBMHD Undiknas
Di bawah semilir angin pagi Denpasar, aroma cabai, bawang, dan terasi berbaur dengan semangat para peserta. Di pelataran Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), cobek dan ulekan menjadi saksi bagaimana tradisi kembali hidup dalam Lomba Ngulek Sambal Nusantara 2025, bagian dari Art Festival KBMHD yang menggandeng Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, HIPPI Bali, Rotary Club, dan berbagai komunitas kuliner serta pendidikan.
Sambal, Filosofi dari Rasa dan Tenaga
Dalam sambutannya, Ir. Hj. Nimmi Gulam, Ketua DPD IKABOGA Bali, menyampaikan bahwa sambal bukan sekadar pelengkap makanan—ia adalah roh rasa Nusantara.
“Sambal mengajarkan kita kesabaran. Dalam setiap ulekan ada tenaga, ada emosi, dan ada cinta yang menyatukan seluruh rasa: pedas, asin, manis, asam—seperti hidup yang berimbang. Mengulek sambal adalah doa dalam gerak tangan,” tutur Hj. Nimmi dengan penuh makna.
Ia menegaskan bahwa filosofi sambal adalah simbol keberagaman Indonesia: setiap daerah punya versi sendiri, namun semuanya berpadu dalam satu rasa yang sama—semangat.
Warna Tradisi di Atas Cobek Hitam
Sebanyak 13 tim berpartisipasi: mulai dari PD Alisa Khadijah ICMI Kota Denpasar, PSU Undiknas 1, PSU Undiknas 2, Rotary Club Bali Bersinar, HIPPI Provinsi Bali, NAT TEA Team, KPRK, Komunitas AB, SALUT, UNDIKNAS, SMK TEKNAS, serta dua tim dari Nayla Kitchen.
Para peserta tampil menawan dengan dresscode kebaya dan busana tradisional Nusantara, memperlihatkan bahwa cita rasa bukan hanya soal lidah, tetapi juga tentang budaya, keindahan, dan penghormatan terhadap leluhur kuliner.
Di Balik Ulekan, Ada Ketelitian Ilmu dan Rasa
Dewan juri terdiri dari tiga sosok yang memadukan pengalaman dan keilmuan:
Chef Raden Alit, praktisi sekaligus akademisi yang telah 33 tahun berkarier di industri kuliner dan mengajar di berbagai sekolah perhotelan serta SMK di Denpasar, Badung, dan Tabanan.
Ibu I. Gusti Agung Ayu Sridewi, perwakilan IKABOGA Bali, seorang praktisi hotel berpengalaman yang pernah menjabat Sekretaris Executive Chef di Ramada Bintang Bali.
Mbak Fani, juri muda dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) yang mewakili semangat generasi akademisi baru.
Ketiganya menilai berdasarkan standar nasional penjurian sambal: rasa (50%), teknik mengulek (20%), penampilan & penyajian (10%), kebersihan bahan (10%), serta kreativitas (10%).
Para Juara dan Semangat yang Menyala
Setelah aroma sambal memenuhi udara dan cobek-cobek batu menjadi saksi perjuangan, dewan juri menetapkan para pemenang:
Juara 1: PD Alisa Khadijah ICMI Kota Denpasar
Juara 2: NAT TEA Team
Juara 3: KPRK
Juara Favorit: Rotary Club Bali Bersinar
Juara Harapan: SALUT dan PSU Undiknas 2
Seluruh pemenang dinilai telah memenuhi kriteria utama: resep orisinal, kebersihan bahan, teknik ulekan, penataan penyajian, hingga etika berpakaian. Aspek rasa menempati bobot tertinggi—50 persen—dan menjadi penentu utama kemenangan.
Hadirnya Sosok Inspiratif
Acara turut dihadiri oleh Ibu Dr. A.A.A. Ngurah Tini Rusmini Gorda, S.H., M.M., M.H., Pembina KBMHD Undiknas, yang juga merupakan Putri dari almarhum Prof. Gorda, salah satu pendiri Undiknas.
Kehadiran beliau menjadi simbol kuat keterhubungan antara dunia pendidikan, budaya, dan pelestarian nilai tradisional.
Turut hadir pula Deputy Kemahasiswaan Undiknas, yang dengan semangat luar biasa ikut serta sebagai peserta lomba bersama kelompok SALUT, memperlihatkan bahwa dunia akademik pun bisa meresapi nilai-nilai kearifan lokal hingga ke dapur tradisi.
Laporan kegiatan disampaikan oleh Wakil Ketua Panitia, mahasiswa Undiknas, yang menegaskan bahwa kegiatan ini adalah ruang kolaborasi nyata antara kampus, komunitas, dan dunia industri kuliner.
Penutup: Ulekan yang Menghidupkan Identitas
Lebih dari sekadar lomba, kegiatan ini adalah selebrasi rasa dan identitas bangsa. Di setiap cobek, di setiap serpih cabai yang ditumbuk, tersimpan kisah perjuangan dan kebersamaan masyarakat Indonesia.
Sambal mengajarkan bahwa harmoni tak pernah lahir dari keseragaman, melainkan dari keberanian setiap rasa untuk berpadu.
Sebagaimana dikatakan Ir. Hj. Nimmi Gulam dalam penutupnya:
“Sambal yang enak adalah sambal yang diulek dengan hati. Di cobek batu itu, tangan kita bukan hanya menghancurkan cabai, tapi menyatukan rasa, budaya, dan cinta Indonesia.” (RAYD)



