Detail Artikel

SAMBUTAN DIREKTUR CIDES, PROF. NURYANTO, DALAM PELATIHAN LEADERSHIP DAN KAJIAN ULUMUL QUR’AN

SAMBUTAN DIREKTUR CIDES, PROF. NURYANTO, DALAM PELATIHAN LEADERSHIP DAN KAJIAN ULUMUL QUR’AN

 

Denpasar, 13 Maret 2025 – Dalam acara Pelatihan Leadership dan Kajian Ulumul Qur’an yang diselenggarakan oleh CIDES ICMI Orwil Bali di STIKOM Bali, Prof. Nuryanto selaku Direktur CIDES menyampaikan sambutan yang penuh makna tentang pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan IMTAQ (Iman dan Taqwa) serta IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi).

 

ICMI dan Tantangan Leadership

Dalam sambutannya, Prof. Nuryanto menyoroti bahwa ICMI masih menghadapi tantangan besar dalam mencetak pemimpin yang kuat dan visioner. Ada empat faktor utama yang harus dimiliki seorang pemimpin:

 

Wawasan – Seorang pemimpin harus memiliki pemahaman luas tentang dunia, sejarah, serta tantangan zaman yang dihadapi umat Islam.

Performa – Bukan hanya memiliki ilmu, tetapi juga harus mampu menampilkan kinerja yang nyata, dengan tindakan yang strategis dan berdampak.

Support System – Kepemimpinan yang kuat tidak bisa berjalan sendiri, tetapi membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik dari organisasi, komunitas, maupun individu yang memiliki visi yang sama.

Luck (Keberuntungan) – Meski usaha dan strategi sangat penting, ada faktor keberuntungan yang juga perlu diperhitungkan. Namun, keberuntungan ini sejatinya adalah buah dari doa, ketakwaan, serta usaha yang tidak kenal lelah.

Kepemimpinan yang Berorientasi Dunia dan Akhirat

Prof. Nuryanto menegaskan bahwa leadership bukan hanya sekadar urusan duniawi, tetapi juga memiliki konsekuensi ukhrawi. Oleh karena itu, dalam acara ini, selain pelatihan kepemimpinan yang disampaikan oleh Dr(c) Adrid Indaryanto dan H. Yusron Nur Kholis, peserta juga diberikan kajian Ulumul Qur’an oleh Dr. KH. Ahmad Buchory Muslim.

 

“Seorang pemimpin bukan hanya dituntut untuk cerdas dalam mengelola organisasi dan masyarakat, tetapi juga harus memiliki nilai-nilai Qur’ani yang menjadi pegangan dalam mengambil keputusan dan bertindak. Leadership tanpa dasar nilai agama akan kehilangan arah dan mudah tergelincir pada kepentingan sesaat,” tegasnya.

 

Harapan untuk Kajian Sejarah Islam di Bali

Dalam kesempatan ini, Prof. Nuryanto juga menyampaikan harapan besar terhadap kajian sejarah Islam di Bali. CIDES berkomitmen untuk menelusuri jejak masuknya Islam di Bali secara lebih mendalam, berdasarkan penelitian yang valid, wawancara langsung, serta referensi akademik yang kuat.

 

“Sejarah Islam di Bali harus digali dan dikaji dengan serius. Kita perlu mengenalkan kepada masyarakat bagaimana Islam berkembang, siapa saja tokoh-tokoh pemersatu di Bali, serta bagaimana keteladanan mereka bisa menjadi inspirasi bagi kita hari ini,” ujarnya.

 

Penelitian ini diharapkan menjadi sumber literasi bagi generasi muda, agar mereka memahami peran Islam dalam membangun peradaban di Bali yang harmonis dan damai.

 

Menutup dengan Semangat Perubahan

Menutup sambutannya, Prof. Nuryanto berterima kasih kepada seluruh narasumber dan peserta yang hadir, serta berharap agar ilmu yang didapat dari acara ini bisa menjadi bekal dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas dan membawa manfaat bagi umat.

 

“ICMI tidak boleh kekurangan pemimpin. Kita harus mencetak generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap membawa perubahan. Mari jadikan kepemimpinan kita sebagai ibadah, bukan sekadar ambisi pribadi,” pungkasnya.

 

CIDES ICMI Bali | ITB STIKOM Bali | 13 Maret 2025 (Raden Alit)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'