Sambutan Dr. Dadang Hermawan: Membangun Bargaining Position Umat Muslim melalui Pendidikan dan Ekonomi
Sambutan Dr. Dadang Hermawan: Membangun Bargaining Position Umat Muslim melalui Pendidikan dan Ekonomi
ITB STIKOM, 17 Maret 2025 – Pukul 16.30 hingga Buka Puasa
Setelah sambutan penuh inspirasi dari Ketua FPSI, H. Imam, suasana di Aula ITB STIKOM Bali semakin menggelora dengan pemaparan tajam dari Dr. Dadang Hermawan. Dengan penuh keyakinan, beliau mengangkat isu yang menjadi tantangan utama umat Islam di Indonesia: bagaimana meningkatkan posisi tawar (bargaining position) umat Muslim dalam aspek ekonomi dan pendidikan.
Pendidikan dan Ekonomi: Pilar Kesejahteraan Umat
“Umat Muslim harus memiliki bargaining position yang kuat, baik di bidang ekonomi maupun pendidikan. Jika kita terus berada di posisi lemah, maka kita hanya akan menjadi penonton dalam roda perkembangan zaman,” ujar Dr. Dadang dengan suara lantang.
Faktanya, masih banyak kaum Muslim yang membutuhkan dukungan ekonomi untuk dapat meningkatkan taraf hidupnya. Salah satu tantangan besar yang dihadapi adalah ketidakmampuan menghadapi kebutuhan dana mendadak. Dalam banyak kasus, ini disebabkan oleh minimnya akses terhadap pendidikan yang berkualitas dan minimnya keterampilan finansial yang dikuasai oleh umat Muslim.
Potret Pendidikan dan Ekonomi Muslim: Data ICMI
Mengacu pada data dari ICMI, umat Muslim Indonesia terbagi dalam empat kelompok ekonomi:
Kaya dan pintar – Mereka yang berpendidikan tinggi dan memiliki ekonomi mapan.
Kaya tapi bodoh – Mereka yang memiliki kekayaan tetapi kurang dalam wawasan dan pendidikan.
Miskin tapi pintar – Mereka yang memiliki potensi akademik luar biasa tetapi terkendala oleh keterbatasan finansial.
Miskin dan bodoh – Kelompok terbesar, yaitu 53 persen dari populasi Muslim di Indonesia, khususnya pada rentang usia 18-25 tahun.
“Ini adalah realitas yang harus kita hadapi. Jika kita ingin meningkatkan kesejahteraan umat, maka kita harus memulai dari pendidikan. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin baik pula kemakmuran yang bisa ia capai,” tegas Dr. Dadang.
Beasiswa: Jalan Menuju Masa Depan yang Lebih Baik
Menyadari urgensi ini, berbagai program beasiswa kini tersedia untuk membantu anak-anak Muslim yang berpotensi tetapi terkendala biaya. Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) menjadi salah satu solusi yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Selain itu, ICMI juga turut serta dalam upaya ini dengan memberikan beasiswa bagi mahasiswa Muslim yang memiliki prestasi akademik tinggi.
“Pendidikan bukan hanya untuk mereka yang mampu membayar, tetapi untuk siapa saja yang memiliki tekad untuk maju,” tambahnya.
ITB STIKOM: Ibarat Toyota, Ada Kelas-Kelas dalam Dunia Pendidikan
Untuk menjelaskan perbedaan tingkat pendidikan di STIKOM, Dr. Dadang menggunakan analogi yang menarik dan mudah dipahami: Mobil Toyota.
Mahasiswa Kelas 1 – Setingkat Alphard Ini adalah mahasiswa dengan kelas internasional. Mereka datang dari latar belakang yang kuat secara finansial dan memiliki akses ke pendidikan terbaik. Sayangnya, kelompok ini biasanya tidak menerima beasiswa, karena mereka sudah mampu membiayai pendidikannya sendiri.
Mahasiswa Kelas 2 – Selevel Innova Kelompok ini berada di tengah-tengah. Mereka memiliki daya saing yang baik, tetapi masih perlu berjuang untuk mendapatkan akses lebih luas dalam dunia profesional. Seperti halnya Innova yang berada di antara Alphard dan Avanza, mahasiswa di kategori ini tidak mendapatkan beasiswa, tetapi masih memiliki peluang besar untuk berkembang.
Mahasiswa Kelas 3 – Setara Avanza atau Ayla Kelompok ini adalah mahasiswa berbeasiswa. Mereka memiliki potensi besar, namun berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Layaknya Avanza atau Ayla yang dikenal sebagai kendaraan rakyat, mereka tangguh, pekerja keras, dan siap untuk menaklukkan dunia.
“Bukan berarti yang berada di kategori Alphard pasti sukses dan yang berada di kategori Avanza pasti kalah. Semua tergantung pada bagaimana kita memanfaatkan peluang dan bekerja keras,” kata Dr. Dadang dengan penuh semangat.
Kesimpulan: Saatnya Bangkit dan Berubah
Di akhir sambutannya, Dr. Dadang menegaskan bahwa kesenjangan ekonomi dan pendidikan umat Muslim hanya bisa diatasi jika seluruh elemen masyarakat bersatu. Melalui program FPSI dan dukungan beasiswa dari berbagai pihak, diharapkan lebih banyak pemuda Muslim yang bisa melanjutkan pendidikan, mengasah keterampilan, dan pada akhirnya mengangkat taraf hidup mereka.
“Kita harus berhenti hanya menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, bahkan pencipta perubahan. Mari kita bersama-sama menjadikan pendidikan sebagai senjata utama untuk membangun bargaining position umat Muslim yang lebih kuat!”
Sambutan ini disambut dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin. Acara pun berlanjut dengan sesi diskusi sebelum akhirnya ditutup dengan buka puasa bersama. Hari ini bukan hanya sekadar pertemuan biasa, tetapi menjadi titik awal sebuah gerakan besar untuk kebangkitan umat! (Raden Alit)



