Sambutan H. Didik Suhardi, Ph.D
Sambutan H. Didik Suhardi, Ph.D
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah**
Dalam sambutannya, H. Didik Suhardi, Ph.D membuka dengan ungkapan optimis bahwa pendidikan Muhammadiyah harus menjadi pilar utama dalam mempersiapkan generasi Indonesia menghadapi dunia yang berubah cepat. Beliau menegaskan bahwa tantangan masa depan bukan hanya pada persaingan keterampilan, tetapi juga pada ketahanan moral, karakter, dan integritas anak bangsa.
Indonesia Kekurangan 9,5 Juta Tenaga Cyber Security
Mengutip laporan terbaru dunia industri digital, beliau menyampaikan fakta penting: Indonesia membutuhkan sedikitnya 9,5 juta tenaga ahli cyber security dalam beberapa tahun ke depan. Kebutuhan ini sejalan dengan percepatan transformasi digital dan meningkatnya ancaman keamanan siber yang kini menyasar pemerintahan, layanan publik, keuangan, hingga ruang sosial masyarakat.
Muhammadiyah, kata beliau, tidak boleh hanya menjadi penonton dalam arus perubahan ini. Sekolah-sekolah Muhammadiyah harus mulai menyiapkan kemampuan digital sejak dini — mulai dari literasi digital, coding, kecerdasan buatan, hingga etika penggunaan teknologi.
BIMTEK Serentak di 36 Provinsi dari 38 Provinsi di Indonesia
Beliau menjelaskan bahwa kegiatan BIMTEK PM, KKA, dan PPK tahun ini merupakan salah satu agenda terbesar Majelis Dikdasmen PNF. Program ini telah terselenggara di 36 dari 38 provinsi di Indonesia.
Untuk region 36, kegiatan dilakukan serentak di tiga wilayah:
Bali, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara — pada hari yang sama.
Hal ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam memastikan standardisasi mutu pembelajaran, karakter, dan kurikulum dapat diterapkan secara merata di seluruh Indonesia.
Kondisi Nasional Sekolah Muhammadiyah: Ada yang Naik, Ada yang Turun
Dalam sambutannya, H. Didik juga menyampaikan evaluasi kondisi sekolah Muhammadiyah secara nasional. Dari 36 provinsi yang sudah melaporkan perkembangan sekolah:
-
16 provinsi mengalami kenaikan jumlah siswa,
-
4 provinsi stagnan atau dalam kondisi biasa,
-
dan sisanya mengalami penurunan.
Menurut beliau, data ini menjadi indikator penting untuk menentukan strategi penguatan lembaga pendidikan Muhammadiyah, baik dalam kualitas layanan, inovasi pembelajaran, maupun daya tarik sekolah terhadap masyarakat.
Pair Teaching sebagai Metode Peningkatan Mutu Guru
Salah satu strategi pembinaan kualitas guru yang kini diperkuat Majelis Dikdasmen PNF adalah pair teaching.
Model ini membuat dua guru mengajar dalam satu kelas secara kolaboratif:
-
satu fokus pada penyampaian materi,
-
satu lagi fokus pada penguatan konsep, karakter, dan pengamatan proses pembelajaran.
H. Didik menegaskan bahwa pair teaching menumbuhkan budaya saling belajar, saling mengoreksi, dan saling menguatkan antarguru. Hasilnya lebih efektif daripada pelatihan yang hanya bersifat teoritis.
Penguatan Ismuba dan Kurikulum Berbasis Nilai-nilai Muhammadiyah
Beliau menjelaskan bahwa Muhammadiyah kini memiliki buku-buku panduan pembelajaran yang sudah dikembangkan sendiri dan disesuaikan dengan karakter persyarikatan. Beberapa di antaranya:
-
Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (Ismuba)
-
Pendidikan Agama Islam
-
Matematika
-
Bahasa Inggris
-
Ilmu Pengetahuan Sosial
Semua buku ini sudah menerapkan kerangka pembelajaran mendalam (deep learning), yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi mengasah daya nalar, pemecahan masalah, kreativitas, dan sikap spiritual peserta didik.
Daya Nalar Anak Indonesia Masih Rendah
Menguatkan urgensi pembelajaran mendalam, H. Didik memaparkan hasil survei internasional terbaru yang menunjukkan rendahnya kemampuan bernalar anak-anak Indonesia. Dalam pemeringkatan global:
-
Daya nalar anak Indonesia berada pada posisi 63 dari 67 negara.
-
99% siswa Indonesia dinilai tidak memiliki kemampuan bernalar tinggi.
Kondisi ini, kata beliau, harus dihadapi dengan transformasi strategi pembelajaran — bukan sekadar menambah materi, tetapi mengubah cara belajar di kelas.
Penutup: Membangun Sekolah Muhammadiyah sebagai Pusat Keunggulan
Mengakhiri sambutan, H. Didik mengajak seluruh guru dan kepala sekolah di lingkungan Muhammadiyah untuk menjadikan momentum BIMTEK ini sebagai gerakan kolektif memperkuat mutu pendidikan. Dengan digitalisasi, pembelajaran mendalam, dan penguatan karakter, sekolah-sekolah Muhammadiyah harus tampil sebagai pusat keunggulan pendidikan nasional.
Beliau menegaskan bahwa masa depan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan lembaga pendidikan dalam membangun karakter dan kemampuan berpikir generasi mudanya. Muhammadiyah, sebagai organisasi besar dengan jaringan sekolah luas, memikul amanah penting bagi masa depan bangsa. (RAYD)



