Sambutan Ketua MUI Badung: Meneguhkan Ilmu, Merawat Harmoni, dan Menguatkan Sinergi
Sambutan Ketua MUI Badung: Meneguhkan Ilmu, Merawat Harmoni,
dan Menguatkan Sinergi
Mangupura
— Dalam rangkaian Halalbihalal dan pengukuhan kepengurusan Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Kabupaten Badung periode 2026–2031, Ketua MUI Badung terpilih, KH. Ahmad Faisol,
menyampaikan sambutan yang sarat pesan keilmuan, kepercayaan diri, serta arah
strategis kelembagaan.
Mengawali
sambutannya dengan salam lintas budaya dan agama, ia menegaskan bahwa momentum
Halalbihalal bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan ruang untuk memperkuat
ukhuwah dan konsolidasi umat. “Alhamdulillah,
pada hari ini Allah mempertemukan kita dalam suasana penuh keakraban, dalam
acara Halalbihalal kolaborasi ormas-ormas Islam se-Kabupaten Badung,”
ungkapnya.
Ia
juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung
terselenggaranya kegiatan tersebut, termasuk pemerintah daerah. Menurutnya,
kolaborasi lintas organisasi dalam satu forum Halalbihalal merupakan langkah
maju yang efektif dan efisien, menggantikan pola lama yang berjalan
sendiri-sendiri.
Dalam
bagian reflektif, KH. Ahmad Faisol mengajak para pengurus yang baru dikukuhkan
untuk menumbuhkan rasa percaya diri dalam mengemban amanah. Ia menekankan bahwa
menjadi bagian dari MUI tidak mensyaratkan kesempurnaan, melainkan kesiapan
untuk terus belajar dan berkhidmat.
“Kita tidak harus merasa paling pintar untuk berada di Majelis
Ulama. Yang terpenting adalah semangat untuk terus menuntut ilmu dan mengabdi
kepada umat,”
tegasnya.
Ia
mengutip sabda Nabi Muhammad bahwa para ulama adalah pewaris para nabi, sebagai
penguat bahwa posisi keilmuan memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam
Islam. Dalam konteks ini, ia mengajak seluruh elemen untuk menghargai dan
mendukung peran ulama sebagai penjaga nilai dan penuntun umat.
Lebih
lanjut, ia menjelaskan bahwa MUI tidak hanya terdiri dari kalangan ulama,
tetapi juga melibatkan unsur zuama (pemimpin masyarakat), tokoh organisasi,
serta perwakilan pemerintah. “MUI
adalah rumah besar umat, tempat berkumpulnya berbagai elemen yang memiliki
tanggung jawab moral terhadap arah kehidupan beragama di masyarakat,”
ujarnya.
Dalam
dimensi strategis, KH. Ahmad Faisol menegaskan bahwa MUI harus mampu menjadi
mitra pemerintah yang konstruktif. Ia menolak pandangan yang memisahkan secara
kaku antara ulama dan umara, dan justru menekankan pentingnya sinergi keduanya
dalam membangun masyarakat yang harmonis.
Sebagai
contoh konkret, ia menyinggung peran fatwa MUI dalam mendukung kebijakan
pemerintah, seperti larangan membuang sampah sembarangan yang sejalan dengan
regulasi nasional. Ia juga mengapresiasi sinergi lintas sektor dalam menyikapi
momen beririsan antara Hari Suci Nyepi dan malam ibadah umat Islam, yang
berhasil dijalankan dengan penuh toleransi dan saling menghormati.
“Sinergi antara ulama dan pemerintah bukanlah bentuk kompromi,
melainkan ikhtiar bersama untuk menjaga kemaslahatan umat dan keutuhan bangsa,” tegasnya.
Menutup
sambutannya, KH. Ahmad Faisol menyampaikan komitmen MUI Badung untuk hadir
sebagai institusi yang aktif mewarnai kehidupan masyarakat, bukan sekadar
menjadi objek dari dinamika yang ada.
“MUI harus menjadi pelukis, bukan kanvas. Kita harus mampu
mewarnai kehidupan beragama dengan nilai-nilai moderasi, keteladanan, dan
kesejukan,” ujarnya
dengan penuh semangat.
Ia
juga menegaskan bahwa moderasi beragama akan menjadi salah satu fokus utama
kepengurusan ke depan, dengan harapan Kabupaten Badung dapat menjadi contoh
harmoni dan keberagaman di tingkat nasional.
Dengan
gaya tutur yang komunikatif dan reflektif, sambutan KH. Ahmad Faisol menjadi
penegas arah baru MUI Badung: mengakar
pada nilai, bergerak dalam kolaborasi, dan hadir sebagai penyejuk di tengah
masyarakat yang majemuk.
(AMBAR
& RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK.
7326712967



