SECTION IKABOGA Hadirkan Seni Fruit Carving, Chef Raden Alit Libatkan Lima Siswa SMK Muhammadiyah Denpasar
SECTION IKABOGA Hadirkan Seni Fruit Carving,
Chef Raden Alit Libatkan Lima Siswa SMK Muhammadiyah Denpasar
Bukan Sekadar Mengukir Buah, Demo Fruit Carving
Menjadi Ruang Belajar dan Regenerasi Talenta Kuliner Bali
NUSA DUA,
BALI — Sebuah
semangka, pisau ukir, dan sepasang tangan terampil bisa mengubah buah biasa
menjadi karya seni.
Pemandangan
itulah yang menarik perhatian dalam rangkaian acara SECTION di IKABOGA,
bagian dari penyelenggaraan Bali Interfood 2026 di Bali Nusa Dua Convention
Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali.
Dalam sesi
tersebut, Chef Raden Alit Yuianto Dewa, A.Ma.Par., S.Sos., Gr.,
memperagakan teknik fruit carving di hadapan peserta. Namun demo kali
ini tidak berhenti pada keterampilan seorang chef di atas panggung.
Chef Raden
Alit ditemani lima siswa SMK Muhammadiyah Denpasar, terdiri dari tiga
siswi dan dua siswa.
Kehadiran
para siswa tersebut memberi warna tersendiri. Di tengah sebuah pameran industri
yang mempertemukan pelaku usaha, chef, buyer, supplier, dan profesional
hospitality, panggung SECTION menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman
profesional dan generasi yang sedang dipersiapkan untuk masuk ke dunia kerja.
Fruit
carving, yang sekilas tampak sebagai permainan bentuk dan keindahan,
sesungguhnya menuntut ketelitian, kesabaran, ketepatan teknik, serta pemahaman
terhadap karakter bahan.
Satu
sayatan yang terlalu dalam dapat merusak pola.
Satu
kesalahan sudut dapat mengubah bentuk.
Karena itu,
setiap ukiran tidak hanya membutuhkan keterampilan tangan, tetapi juga
konsentrasi dan kepekaan artistik.
Di tangan
Chef Raden Alit, proses tersebut diperlihatkan secara langsung kepada para
siswa.
Mereka
tidak hanya menjadi penonton.
Lima siswa
SMK Muhammadiyah Denpasar itu hadir sebagai bagian dari proses pembelajaran
yang mempertemukan teori dengan praktik. Mereka melihat bagaimana sebuah bahan
pangan diperlakukan bukan semata sebagai bahan masakan, melainkan juga sebagai
medium seni yang memiliki nilai estetika dan komersial.
Dari Kelas ke Panggung Industri
Keterlibatan
siswa SMK dalam kegiatan seperti ini memiliki arti penting bagi pendidikan
vokasi.
Sekolah
kejuruan tidak hanya dituntut menghasilkan siswa yang memahami teori, tetapi
juga lulusan yang siap menghadapi standar industri.
Karena itu,
kesempatan tampil dan belajar langsung dalam sebuah ajang yang mempertemukan
pelaku industri hospitality menjadi pengalaman yang tidak selalu diperoleh di
ruang kelas.
Di hadapan
para profesional, siswa belajar bahwa dunia kuliner memiliki banyak cabang
keterampilan.
Ada
memasak.
Ada pastry.
Ada bakery.
Ada
beverage.
Dan ada
seni penyajian yang menuntut ketelitian hampir seperti seorang seniman bekerja
dengan kanvasnya.
Fruit
carving berada di salah satu ruang tersebut.
Keindahan
hasil ukiran bukan tujuan tunggal. Di industri hospitality, kemampuan
mempercantik tampilan sajian dapat menjadi bagian dari pengalaman tamu,
dekorasi buffet, acara khusus, hingga kebutuhan berbagai kegiatan kuliner dan
perhotelan.
Maka,
keterampilan yang ditunjukkan dalam demo SECTION itu bukan sekadar pertunjukan.
Ia adalah
gambaran kecil tentang bagaimana kreativitas dapat diterjemahkan menjadi
kompetensi profesional.
Lima Siswa, Satu Pengalaman Berharga
Kehadiran
tiga siswi dan dua siswa SMK Muhammadiyah Denpasar bersama Chef Raden Alit juga
membawa pesan sederhana tentang regenerasi.
Industri
hospitality membutuhkan tenaga muda yang bukan hanya mampu bekerja, tetapi juga
memiliki keberanian untuk belajar, mencoba, dan mengembangkan keterampilan.
Pengalaman
berada di lingkungan pameran internasional seperti Bali Interfood 2026
memberikan kesempatan bagi para siswa untuk melihat langsung bagaimana industri
yang mereka pelajari di sekolah bekerja dalam skala yang lebih luas.
Mereka
melihat chef dan profesional kuliner bertemu dengan pelaku usaha.
Mereka
menyaksikan produk dan teknologi diperkenalkan.
Mereka
berada di tengah percakapan tentang hospitality, bakery, kopi, makanan,
minuman, hingga peluang bisnis.
Dan di
salah satu sudut acara itu, mereka belajar mengukir buah.
Barangkali
bentuknya sederhana.
Namun dari
situlah sebuah keterampilan dapat tumbuh.
Seni yang Menuntut Kesabaran
Fruit
carving mengajarkan satu hal yang sulit digantikan oleh teori: kesabaran.
Tidak ada
jalan pintas untuk menghasilkan ukiran yang presisi. Tangan harus mengikuti
pola. Mata harus membaca bentuk. Pikiran harus menghitung kedalaman potongan.
Prosesnya
perlahan.
Tidak
tergesa-gesa.
Karena
karya yang indah membutuhkan ketelitian.
Pesan
semacam itu menjadi relevan bagi generasi muda yang sedang memasuki industri
hospitality. Di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan industri yang
semakin cepat, keterampilan manual, kreativitas, dan ketekunan tetap memiliki
tempat.
Justru
ketika teknologi berkembang, kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu dengan
sentuhan personal menjadi semakin bernilai.
SECTION dan Masa Depan Talenta Kuliner
Kegiatan
SECTION di IKABOGA pada akhirnya tidak hanya menghadirkan sebuah demo.
Ia
memperlihatkan bagaimana sebuah kegiatan industri dapat menjadi ruang
pendidikan.
Chef Raden
Alit hadir membawa pengalaman dan keterampilan.
Lima siswa
SMK Muhammadiyah Denpasar hadir membawa rasa ingin tahu dan semangat belajar.
Di antara
keduanya terdapat proses transfer pengetahuan.
Dan dari
proses semacam itulah regenerasi industri dibangun.
Bali
memiliki industri hospitality yang terus berkembang. Hotel, restoran, kafe,
bakery, dan berbagai bisnis kuliner membutuhkan sumber daya manusia yang
kompeten sekaligus kreatif.
Karena itu,
investasi terbesar industri bukan hanya pada peralatan atau produk baru.
Melainkan
pada manusia.
Pada siswa
yang hari ini belajar memegang pisau ukir.
Pada chef
yang bersedia membagikan pengalaman.
Pada
sekolah yang membuka ruang bagi siswanya untuk bertemu industri.
Sebab bisa
jadi, dari sebuah demo fruit carving yang berlangsung singkat di Nusa Dua,
lahir generasi chef, pastry chef, food artist, atau profesional hospitality
Bali di masa depan.
Dan jika
itu yang terjadi, maka buah yang diukir hari ini bukan hanya menghasilkan
sebuah karya.
Ia sedang
mengukir masa depan industri kuliner Bali.(RAYD)
Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



