Sekretaris Dikdasmen PDM Denpasar: Sekolah Muhammadiyah Harus Berani Berubah dan Meningkatkan Standar Pelayanan
Sekretaris Dikdasmen PDM Denpasar: Sekolah
Muhammadiyah Harus Berani Berubah dan Meningkatkan Standar Pelayanan
DENPASAR – Sekretaris Majelis Pendidikan
Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PDM Kota
Denpasar, P. Agung, menegaskan bahwa sekolah Muhammadiyah harus memiliki
keberanian melakukan perubahan di berbagai aspek, mulai dari tata kelola,
pelayanan, penguatan budaya kerja, hingga peningkatan kualitas pembelajaran.
Pesan
tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pada kegiatan Review Kurikulum
dan Workshop Penyusunan Rencana Pembelajaran Mendalam (RPM) serta Asesmen Tahun
Ajaran 2026–2027 di SMK Muhammadiyah Denpasar, Senin (6/7/2026).
"Review
kurikulum bukan hanya menyusun dokumen, tetapi momentum untuk membangun sekolah
yang terus bertumbuh, berbenah, dan mampu menjawab tantangan pendidikan masa
depan," ujarnya.
Menurutnya,
perubahan harus dimulai dari hal-hal mendasar yang sering kali luput dari
perhatian. Profesionalisme sekolah, kata dia, tercermin dari tata kelola
kegiatan, pelayanan terhadap tamu, penataan lingkungan sekolah, hingga disiplin
seluruh warga sekolah.
"Sekolah
yang baik bukan hanya dilihat dari proses pembelajaran di kelas, tetapi juga
dari bagaimana budaya mutu dibangun dalam setiap pelayanan," katanya.
Peningkatan Jumlah Peserta Didik Menjadi Indikator
Kepercayaan Masyarakat
Dalam
kesempatan itu, P. Agung mengapresiasi meningkatnya jumlah peserta didik baru
SMK Muhammadiyah Denpasar pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini.
Berdasarkan
data yang diterimanya, jumlah siswa baru meningkat dari 33 siswa pada tahun
sebelumnya menjadi 43 siswa pada tahun ajaran 2026–2027.
"Peningkatan
ini menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat yang mulai tumbuh terhadap SMK
Muhammadiyah Denpasar. Namun capaian tersebut jangan membuat kita cepat berpuas
diri," tegasnya.
Ia
menjelaskan bahwa salah satu indikator penilaian Majelis Dikdasmen terhadap
sekolah Muhammadiyah adalah peningkatan jumlah peserta didik setiap tahun, di
samping mutu layanan pendidikan dan pengembangan sekolah secara berkelanjutan.
Guru Diminta Menjadi Wajah Profesional Sekolah
Selain
aspek akademik, P. Agung juga mengingatkan pentingnya profesionalisme guru dan
tenaga kependidikan.
Ia menilai
penampilan, etika pelayanan, serta budaya kerja merupakan bagian dari citra
sekolah di mata masyarakat.
"Guru
adalah wajah sekolah. Penampilan yang rapi, sikap profesional, dan pelayanan
yang baik akan membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan
Muhammadiyah," ujarnya.
SMK Harus Menyesuaikan Diri dengan Standar Industri
Khusus bagi
program keahlian perhotelan, P. Agung meminta agar proses pembelajaran
benar-benar disesuaikan dengan standar industri.
Menurutnya,
siswa harus dibiasakan belajar dalam lingkungan yang mencerminkan dunia kerja
sehingga ketika lulus mereka siap bersaing di hotel-hotel berbintang.
"Jangan
membiasakan peserta didik dengan standar yang rendah. Kalau ingin lulusannya
bekerja di hotel berbintang, maka suasana belajar dan praktiknya juga harus
mengarah ke standar industri tersebut," katanya.
Ia bahkan
mendorong sekolah untuk memanfaatkan fleksibilitas penggunaan dana BOS guna
meningkatkan fasilitas belajar yang berdampak langsung terhadap kualitas
pembelajaran.
Disiplin dan Kehadiran Guru Menjadi Perhatian
Dikdasmen
Dalam
arahannya, P. Agung juga menyinggung pentingnya kedisiplinan guru dan tenaga
kependidikan.
Ia
menjelaskan bahwa Majelis Dikdasmen akan terus melakukan monitoring terhadap
kehadiran, kinerja, dan pemenuhan beban kerja guru sebagai bagian dari sistem
penjaminan mutu sekolah Muhammadiyah.
"Komitmen
terhadap waktu, kedisiplinan, dan tanggung jawab menjadi bagian dari budaya
kerja yang harus terus dibangun. Mutu sekolah tidak akan lahir tanpa disiplin
seluruh warga sekolah," ujarnya.
Penguatan Sistem Digital dan Tata Kelola Sekolah
P. Agung
juga menginformasikan bahwa Majelis Dikdasmen tengah mengembangkan sistem
digital kepegawaian yang akan diterapkan di seluruh sekolah Muhammadiyah.
Melalui
sistem tersebut, data guru dan tenaga kependidikan diharapkan dapat
terintegrasi sehingga memudahkan proses pembinaan, monitoring, serta
pengambilan kebijakan.
Selain itu,
ia menyampaikan bahwa dalam waktu dekat Majelis Dikdasmen bersama Pimpinan
Daerah Muhammadiyah akan melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah sebagai bagian
dari pembinaan sekaligus memastikan kesiapan memasuki tahun ajaran baru.
Budaya Mutu Harus Menjadi Identitas Sekolah
Muhammadiyah
Menutup
arahannya, P. Agung mengajak seluruh guru dan tenaga kependidikan menjadikan
forum review kurikulum sebagai titik awal memperkuat budaya mutu di lingkungan
sekolah.
"Mari
kita bangun sekolah Muhammadiyah yang tidak hanya unggul dalam prestasi
akademik, tetapi juga unggul dalam pelayanan, tata kelola, karakter, dan
profesionalisme. Ketika budaya mutu tumbuh, kepercayaan masyarakat akan
mengikuti,"
pungkasnya.



