Detail Artikel

Selamat Hari Pahlawan R.A. Kartini “Ada Apa dengan Negeri Ini, R.A. Kartini… dan Resep Emansipasi yang Setengah Matang?”

Selamat Hari Pahlawan R.A. Kartini
“Ada Apa dengan Negeri Ini, R.A. Kartini… dan Resep Emansipasi yang Setengah Matang?”

Kartini…
Jika hidupmu adalah sebuah dapur, maka pena adalah sendok sayurmu, dan surat-suratmu adalah resep pembebasan.
Kau tak pernah berdiri di depan kompor politik, tak pernah menjadi chef utama dalam kabinet, tapi racikan pemikiranmu mengubah rasa sejarah.
Dengan tinta dan air mata, kau mengaduk-aduk tanya:
“Mengapa perempuan tak boleh bermimpi, apalagi menyajikan hidup mereka sendiri?”

Sudah lebih dari seabad berlalu.
Tapi negeri ini kadang masih seperti masakan tanpa bumbu: hambar.
Emansipasi? Cuma garnish di piring perayaan.
Perjuangan perempuan seringkali hanya dianggap snack—camilan sebelum makan besar yang dipimpin para lelaki.

Padahal sekarang, perempuan bukan hanya bisa menulis seperti dirimu, Kartini.
Mereka juga bisa memasak masa depan.

Lihat Julia Child, si dewi spatula dari Barat. Ia mengubah wajah kuliner Prancis dan Amerika, menyelipkan feminisme dalam resep coq au vin.
Bayangkan jika ia lahir di Jepara: mungkin bukan hanya buku resep, ia sudah menulis kitab strategi pemberdayaan perempuan pakai metafora sambal dan rendang.

Atau lihat chef Gordon Ramsay, yang di era jahiliyah dapur televisi disembah bak dewa petir. Suaranya menggelegar seperti para penjajah patriarki, tapi kalau yang marah itu perempuan? Dibilangnya “drama queen” bukan “master chef.”
Mengapa?

Sementara di dapur Indonesia, banyak perempuan seperti Rinrin Marinka yang berdiri di depan kamera, bukan sekadar memasak, tapi menyuapkan rasa percaya diri pada jutaan gadis kecil.
Namun… ia tetap lebih sering ditanya, “kapan nikah?” daripada “apa resep perjuanganmu?”

Kartini…
Kami punya Greysia dan Apriyani: mereka mengaduk lawan-lawannya di atas wajan bulu tangkis, sampai harum aroma emas Olimpiade. Tapi negeri ini? Seperti lidah yang mati rasa. Tak ada sambutan sehangat nasi goreng tengah malam.

Putri Ariani menyanyikan aria harapan dengan mata tertutup, membuat juri Amerika berdiri. Tapi kita di sini malah sibuk menakar logatnya, bukan prestasinya. Seolah perempuan hanya boleh jadi “cantik”, bukan “berani”.

Megawati Hangestri, sang bintang voli dari Jember yang lebih dikenal di Korea daripada di kampung halaman. Ia seperti rendang yang lebih laku di New York daripada di Padang—padahal bahannya dari sini.

Perempuan-perempuan kita seperti masakan warisan yang tidak dimasak oleh bangsanya sendiri—baru dicari saat diakui Michelin Guide dari luar negeri.

Kartini, negeri ini kadang seperti kue lapis: penuh lapisan manis janji, tapi sulit ditelan karena realitanya keras.
Pemerintah sibuk menyajikan jargon: “perempuan berdaya!” di atas piring podium, tapi tak pernah menyajikan anggaran yang nyata.
Program pemberdayaan? Hanya ada di menu saat ada tamu internasional. Sisanya? Nasi dingin.

Kadang kami bertanya lirih sambil menatap loyang harapan:
Haruskah perempuan Indonesia menjadi “rasa asing” dulu, baru diakui gurihnya?

Kartini, andai perjuangan ini resep, maka bahan-bahannya belum lengkap:

  • 1 genggam dukungan publik,

  • 2 sendok anggaran berkelanjutan,

  • Sejumput empati dari pemimpin,

  • Dan satu kompor kesadaran yang menyala terus.

Tanpa itu, perjuangan perempuan hanya akan setengah matang—disajikan dingin di atas piring wacana.

Dan kami, para muridmu, masih duduk di bangku dapur sejarah, menunggu oven keadilan menyala.

Selamat Hari Kartini.
Semoga perjuanganmu tidak hanya jadi dekorasi etalase nasionalisme sesaat.
Karena perempuan bukan kudapan untuk dinikmati sesekali—mereka adalah menu utama yang seharusnya diracik, dihargai, dan disajikan dengan sepenuh hati. ( Raden Alit) SMK Muhammadiyah 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'