Semangat Lantipers Menyala di Gladi Bersih Menjelang HUT ke-80 RI
Semangat Lantipers Menyala di Gladi Bersih Menjelang HUT ke-80 RI
Denpasar, 23 Agustus 2025 – Matahari belum lagi condong ke barat, namun semangat para Lantipers telah berkumpul memenuhi Wantilan Semaradana Big Garden Corner. Hari itu, gladi bersih menjadi panggung awal, di mana jiwa-jiwa penuh dedikasi bersatu menata irama, mengharmonikan langkah, dan mengatur nada, agar esok tidak terdengar sumbang.
Tahapan gladi dimulai dengan simulasi Upacara Bendera.
Lantip Dewi tampil sebagai MC upacara, suaranya tegas, berwibawa, mengikat perhatian setiap peserta. Dengan bahasa yang lugas namun anggun, ia mengumpulkan perangkat acara, memastikan setiap peran berjalan sempurna.
Di sisi lain, pasukan pengibar bendera tak henti-hentinya berlatih. Hentakan kaki mereka menggema, langkah disamakan, gerakan diluruskan. Meski hanya bertiga, semangat mereka menyerupai barisan penuh pasukan. Di bawah arahan L. Udi, mereka tampak seperti menghidupkan kembali kenangan masa muda, seakan-akan dulu pernah menjadi anggota paskibraka yang terlatih.
L. Ronald berdiri gagah sebagai pemimpin upacara. Aba-abanya lantang, menggetarkan ruang wantilan. Dari sorot matanya, seolah terlihat jejak seorang tentara di masa muda. Apalagi di hadapan mereka berdiri L. Henk, Ketua Lantipda sekaligus pembina upacara, berwibawa penuh kharisma. Banyak yang berbisik, sosoknya pasti dahulu seorang ketua OSIS, atau bahkan pemimpin senat mahasiswa, sebab hingga kini ia masih memimpin banyak organisasi dengan ketegasan dan kecerdasan.
Di sampingnya, L. Yayuk hadir sebagai asisten pembina. Membawa map dengan sigap, ia berdiri tegak, flamboyan, sekaligus anggun. Wajahnya menyiratkan kesiapan penuh untuk mengemban peran penting, seperti halnya pembaca teks Proklamasi.
Sementara itu, lantang terdengar suara bulat dan merdu dari L. Sri Sadewi, yang ditunjuk sebagai pembaca Undang-Undang Dasar 1945. Sosok pengusaha kuliner sekaligus Ketua Orwil Wanita Islam Bali itu membacakan pasal-pasal dengan intonasi yang penuh wibawa, membius pendengar.
Meski terik matahari menyelimuti, semangat para Lantipers justru kian membara. Seakan waktu mundur tiga puluh tahun ke belakang, tubuh-tubuh renta berubah menjadi jiwa-jiwa muda yang berkobar, menjelma barisan patriot yang tak pernah letih mencintai tanah air.
Gladi bersih kemudian berlanjut dengan L. Purwasila yang memandu acara demi acara hingga akhir. Dengan tenang, ia memastikan alur kegiatan berjalan sebagaimana rencana, menutup latihan dengan suasana penuh persaudaraan.
Menjelang sore, halaman Big Garden Corner perlahan kembali teduh. Para Lantipers masih sibuk menghias, merapikan suasana, memastikan esok semua berjalan sempurna. Dari kejauhan, terlihat jelas bahwa mereka bukan sekadar panitia, melainkan jiwa-jiwa yang sepenuh hati menjadi pelaku, pemilik, sekaligus penjaga semangat perjuangan.
Gladi bersih itu bukan sekadar latihan, melainkan sebuah perjalanan kecil menuju besarnya makna kemerdekaan. Dan ketika saya meninggalkan arena, para Lantipers masih terhanyut dalam dunianya: dunia persaudaraan, dunia semangat, dunia yang tak pernah lekang dimakan usia. (RAYD)



