Detail Artikel

“Semangat yang Tak Pernah Tua: Jejak Pengabdian dan Energi Kehidupan dalam Anugerah Lifetime Achievement ICMI Bali”

“Semangat yang Tak Pernah Tua: Jejak Pengabdian dan Energi Kehidupan dalam Anugerah Lifetime Achievement ICMI Bali”

Denpasar — Di tengah hangatnya suasana Halal bi Halal ICMI Orwil Bali, satu momen hadir dengan getaran yang berbeda: penganugerahan Lifetime Achievement kepada tokoh-tokoh senior yang telah menorehkan jejak panjang pengabdian. Bukan sekadar seremoni penghargaan, melainkan peristiwa batin yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan—menghadirkan teladan yang hidup di hadapan generasi penerus.

Salah satu penerima penghargaan, yang diwakili oleh Rully Sori Pada, menyampaikan sambutan yang sederhana, namun sarat makna. Tidak ada retorika panjang, tidak pula narasi berlebihan. Yang hadir justru kejujuran—tentang hidup, tentang waktu, dan tentang bagaimana menjalani semuanya dengan kesadaran penuh.

Ia membuka dengan rasa syukur atas perjumpaan yang terjadi pada hari itu. Baginya, kesempatan berkumpul dalam ruang yang penuh kehangatan adalah anugerah yang tidak ternilai.

“Syukur kita bisa berjumpa di tempat yang baik ini, dalam keadaan yang penuh kebersamaan. Terima kasih atas penghormatan yang diberikan kepada kami,” ungkapnya dengan nada tenang.

Dalam refleksinya, ia menyinggung perjalanan hidup yang tidak selalu harus dipahami sebagai sesuatu yang rumit. Ada fase di mana seseorang memilih untuk tidak lagi mengejar, tetapi menikmati. Tidak lagi membuktikan, tetapi merasakan.

“Saya tidak lagi memikirkan hal yang terlalu jauh. Saya hanya ingin menjalani, menikmati, dan mensyukuri apa yang ada,” tuturnya, menghadirkan keheningan yang justru penuh arti.

Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan prinsip yang kokoh: bahwa hidup harus tetap berakar pada nilai dan amal nyata. Ia menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan—baik kepada diri sendiri, kepada sesama, maupun kepada Tuhan.

“Yang harus kita pegang adalah kepercayaan dan amal nyata. Dari sanalah hidup mendapatkan maknanya,” katanya, singkat namun menghunjam.

Momen itu mencapai puncaknya ketika ia mengajak seluruh hadirin untuk menyalakan kembali semangat dalam diri masing-masing. Dengan gaya yang ringan namun menggugah, ia memimpin seruan sederhana yang justru membangkitkan energi kolektif di ruangan.

“Kalau kita masih punya semangat, kita katakan: semangat!” serunya.

Dan seketika, ruangan pun bergema:

“Semangat!”
“Yes!”
“Semangat!”
“Yes, yes!”

Seruan itu mungkin sederhana, namun di sanalah letak kekuatannya. Ia bukan hanya ungkapan spontan, melainkan simbol bahwa semangat tidak mengenal usia, tidak dibatasi waktu, dan tidak pernah kehilangan relevansinya.

Penganugerahan Lifetime Achievement ini menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang bukan sekadar tentang lamanya waktu, tetapi tentang konsistensi nilai yang dijaga. Tentang bagaimana seseorang tetap menjadi sumber inspirasi, bahkan ketika ia memilih untuk melangkah lebih tenang.

Dalam sosok yang diwakili oleh Rully Sori Pada, terlihat jelas bahwa kebijaksanaan tidak selalu hadir dalam kata-kata besar. Ia bisa muncul dalam kesederhanaan, dalam ketenangan, dan dalam ajakan yang tulus untuk tetap bersemangat menjalani hidup.

Dan dari panggung sederhana itu, ICMI Bali tidak hanya memberikan penghargaan—tetapi juga mewariskan energi: bahwa selama semangat masih menyala, pengabdian tidak pernah benar-benar usai.(RAYD)

 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'