Detail Artikel

Senja di Tengah Asa: Jejak Posko Bersama dan Team SAR

Senja di Tengah Asa: Jejak Posko Bersama dan Team SAR


Sore menjelang senja, langit Bali mulai bertransisi. Sang surya perlahan pamit, berganti peran dengan rembulan yang bersiap menorehkan cahaya lembutnya di wajah bumi. Di ufuk barat, semburat jingga seakan menyulam hari dengan benang keindahan, sementara di timur, bulan sudah menampakkan senyum samar—seolah hendak menyapa mereka yang masih berjibaku di jalan pengabdian.


Telepon berdering. Dari seberang, suara tegas namun penuh kelelahan terdengar: Team SAR sudah menanyakan lokasi kami. Warga sudah menunggu, kata mereka. Maka mobil segera dipacu, melintasi padatnya lalu lintas Denpasar. Lampu merah terasa tak lagi merah, hijau kadang berkelebat tak tentu arah. Demi waktu yang kian mepet, kendaraan melaju cepat namun presisi, berpacu dengan menit yang tersisa.


Tiba di Gang Ramayana, Imam Bonjol, suasana tampak hening. Warga yang tadinya menunggu sudah beranjak pulang, menunaikan kewajiban suci—sholat dan sembahyang di rumah masing-masing. Kami pun datang, bukan sekadar membawa paket bantuan, melainkan juga membawa asa: semangat agar mereka tahu, mereka tidak sendiri.


Di sana, hadir pula Team PYP di bawah kepemimpinan Bapak Komang Kusuma Eddy, sosok yang selama ini konsisten bergerak tanpa banyak suara. Namun seperti kebanyakan aksi kemanusiaan, kenyataan di lapangan selalu lebih besar dari rencana. Sembako masih kurang. Dengan berat hati, bantuan yang ada kami titipkan pada koordinator lapangan, agar tetap bisa dibagi seadil mungkin untuk mereka yang paling membutuhkan.


Hari sudah semakin malam, dan lelah mulai menuntut haknya. Team SAR, yang sejak pagi bergerak tanpa jeda, akhirnya menepi sejenak. Perut kosong sejak siang baru bisa terisi tatkala mereka kembali ke Posko Bersama, Rumah Makan Bundo Kanduang. Di sana, makanan sederhana berubah menjadi energi baru. Nasi hangat, gorengan, dan masakan rumah menjadi saksi bahwa pengabdian tak melulu soal aksi di lapangan, melainkan juga tentang menjaga stamina dan jiwa tetap tegak berdiri.


Kisah sore itu bukanlah akhir, melainkan fragmen kecil dari perjalanan panjang solidaritas. Posko Bersama, Team SAR, PYP, dan para relawan lain telah menunjukkan bahwa ketika bencana mengetuk pintu, yang muncul bukan hanya duka, tapi juga persaudaraan tanpa batas.


Dan di tengah malam yang mulai pekat, kami percaya: cahaya bulan akan tetap menerangi langkah-langkah kecil ini, menuju Bali yang bangkit kembali. ( RAYD)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'