Detail Artikel

Sentuhan Dakwah Menjelang Senja Ramadan di Sanur Pesan Sedekah, Silaturahmi, dan Kerukunan dari Ustadz Abdul Hamid

Sentuhan Dakwah Menjelang Senja Ramadan di Sanur

Pesan Sedekah, Silaturahmi, dan Kerukunan dari Ustadz Abdul Hamid. S.Pd. M.Pd.

SANUR, DENPASAR — Senja yang perlahan turun di kawasan pesisir Sanur menghadirkan suasana khidmat dalam kegiatan berbagi kasih yang diselenggarakan oleh Wisma Berkarya Abadi. Di sela rangkaian acara “Berbagi Kasih Menyambut Ramadhan dan Hari Raya Nyepi untuk Dunia” yang berlangsung pada 8 Maret 2026 di Warung Nasi Ayam Ibu Oki, para tamu undangan disuguhi siraman rohani menjelang waktu berbuka puasa.

Ceramah tersebut disampaikan oleh Ustadz Abdul Hamid, S.Pd., M.Pd., yang mengajak para hadirin merenungi makna silaturahmi, sedekah, serta pentingnya menjaga lisan dalam kehidupan sosial.

Dengan gaya ceramah yang hangat dan penuh humor, Ustadz Abdul Hamid membuka tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa tradisi bersalaman bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan bagian dari ajaran agama yang sarat makna spiritual.

“Dalam konsep Islam, ketika dua orang bersalaman dengan niat baik, maka dosa-dosa kecil di antara keduanya akan gugur dari sela-sela jari mereka,” ungkapnya, mengutip ajaran Rasulullah SAW tentang pentingnya mempererat silaturahmi.

Menurutnya, hubungan antar manusia—terutama dalam momentum Ramadan—menjadi jalan penting menuju kedekatan dengan Tuhan. Silaturahmi, berbagi, serta saling menghormati adalah nilai dasar yang menjaga keharmonisan masyarakat.

Kekayaan Hati Lebih Utama

Dalam ceramahnya, Abdul Hamid menegaskan bahwa ukuran kekayaan dalam pandangan Islam bukan semata pada harta, melainkan pada kelapangan hati.

“Saya yakin tidak semua yang hadir di sini menjadi orang kaya secara materi. Tetapi mudah-mudahan semuanya menjadi orang kaya hati,” ujarnya disambut senyum para hadirin.

Ia menjelaskan bahwa orang yang memiliki kelapangan hati akan mudah berbagi kepada sesama, baik kepada anak yatim, fakir miskin, maupun kaum duafa yang membutuhkan perhatian.

“Orang yang bertakwa adalah mereka yang mau membelanjakan hartanya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit,” katanya, merujuk pada ajaran Al-Qur’an tentang keutamaan sedekah.

Menurutnya, sedekah tidak selalu berbentuk materi. Bahkan hal paling sederhana seperti senyuman dan perkataan yang baik juga merupakan bentuk sedekah yang memiliki nilai ibadah.

“Sedekah yang paling ringan adalah senyum. Kalau tidak punya uang, cukup senyum saja kepada orang lain,” ujarnya sambil disambut tawa ringan para hadirin.

Sedekah sebagai Penolak Musibah

Dalam bagian lain ceramahnya, Abdul Hamid menekankan bahwa sedekah memiliki kekuatan spiritual yang besar dalam kehidupan manusia.

Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa sedekah dapat menjadi penolak bala dan sumber keberkahan hidup.

“Dalam ajaran Islam disebutkan as-shadaqah tadrudul bala—sedekah itu bisa menolak musibah,” jelasnya.

Ia juga mengisahkan sebuah cerita dari masa Rasulullah tentang seorang sahabat yang lama menderita sakit. Setelah berbagai pengobatan tidak membuahkan hasil, Rasulullah menyarankan sahabat tersebut untuk bersedekah dengan membangun sumur bagi masyarakat yang membutuhkan air.

“Atas izin Allah, setelah sedekah itu dilakukan, penyakitnya pun sembuh,” tuturnya.

Menjaga Lisan dan Persaudaraan

Selain menekankan pentingnya sedekah, Abdul Hamid juga mengingatkan bahaya lisan yang tidak terjaga.

Ia mengutip pesan ulama besar Imam Al-Ghazali yang menyebut bahwa lidah adalah salah satu anggota tubuh paling tajam jika tidak dikendalikan.

“Lidah tidak bertulang, tetapi bisa melukai hati orang lain,” ujarnya.

Karena itu, menurutnya, seorang Muslim yang baik adalah mereka yang mampu menjaga orang lain dari gangguan tangan dan lisannya.

Pesan tersebut menjadi relevan di tengah kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, di mana perbedaan agama, budaya, dan pandangan sering kali memicu konflik jika tidak disikapi dengan kebijaksanaan.

Kerukunan Bali sebagai Teladan

Abdul Hamid juga memuji kehidupan masyarakat Bali yang selama ini dikenal memiliki tingkat toleransi antaragama yang tinggi.

Menurutnya, keberadaan Forum Kerukunan Umat Beragama di Bali menjadi salah satu jembatan penting dalam menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman.

“Hubungan antaragama di Bali luar biasa. Kita bisa belajar menghargai perbedaan dan hidup berdampingan dengan damai,” ujarnya.

Ia menilai kegiatan yang digagas oleh Wisma Berkarya Abadi menjadi contoh nyata bagaimana komunitas masyarakat dapat berperan menjaga persaudaraan lintas iman.

Melalui kegiatan berbagi kasih, silaturahmi, serta santunan sosial, komunitas tersebut menunjukkan bahwa nilai keagamaan dapat berjalan seiring dengan semangat kebangsaan.

Menutup dengan Doa Berbuka

Menjelang azan magrib berkumandang, Abdul Hamid menutup ceramahnya dengan doa berbuka puasa yang diikuti para hadirin dengan penuh khidmat.

“Allahumma laka shumtu, wabika amantu, wa ‘ala rizqika aftartu…,” lantun doa itu menggema di ruangan sederhana yang dipenuhi rasa syukur.

Di penghujung acara, pesan yang disampaikan terasa sederhana namun mendalam: bahwa kebahagiaan manusia tidak terletak pada seberapa banyak yang dimiliki, melainkan pada seberapa tulus ia berbagi.

Di tengah senja Sanur yang perlahan berubah menjadi malam, pesan itu terasa semakin nyata—bahwa persaudaraan, sedekah, dan kasih sayang adalah cahaya yang mampu menerangi kehidupan manusia, apa pun latar belakangnya.(RAYD)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'