Detail Artikel

Setetes Darah untuk Kehidupan: Kisah dari Padang Kartika"

Setetes Darah untuk Kehidupan: Kisah dari Padang Kartika"

Minggu pagi itu, langit Badung belum sepenuhnya biru. Mentari masih malu-malu menembus awan, menyinari Musholla Al-Furqon yang berdiri tenang di tengah lingkungan Padang Kartika. Namun ada yang berbeda hari itu. Suasana haru dan harap merayap pelan-pelan dari pagar musholla hingga ke jalanan kecil yang menghubungkan rumah-rumah warga.

Hari itu, 20 April 2025, bukan sekadar hari libur biasa. Bersama MUI, PMI, Baznas Kota Denpasar, Persatuan Donor Darah Indonesia, Kilo Kitchen, dan Uma Sapna Villa, warga berkumpul dalam kegiatan mulia bertajuk "Setetes Darah untuk Kehidupan." Kegiatan donor darah ini bukan hanya tentang kantong-kantong yang akan terisi, tapi tentang hati yang saling mengisi.

Di tengah antrian yang tertib, tampak seorang ibu paruh baya, Bu Marni, menggenggam erat sebuah kantong plastik berisi beras dan sebotol minyak goreng. Matanya sembab namun penuh syukur.

"Saya ke sini bukan karena bingkisan ini," bisiknya pelan kepada seorang relawan PMI. "Anak saya dulu pernah selamat karena darah dari orang yang tak ia kenal... hari ini, saya balas kebaikan itu."

Cerita Bu Marni hanyalah satu dari puluhan kisah yang mewarnai hari itu. Ada Pak Wayan, seorang buruh harian, yang sengaja datang sebelum matahari terbit. "Mungkin darah saya bisa menyelamatkan orang yang lebih kuat dari saya," ucapnya sambil tersenyum, menyembunyikan lelah dari wajahnya yang keras digerus matahari Bali.

Kegiatan ini memang diselingi pemberian bingkisan. Namun semangatnya bukan transaksional. Ini bukan soal menukar darah dengan beras. Ini tentang mendorong kesadaran: bahwa berbuat baik bisa dimulai dari tubuh kita sendiri.

Tema "Setetes Darah untuk Kehidupan" dipilih bukan tanpa makna. Darah bukan hanya cairan biologis—ia adalah jembatan harapan, penyambung hidup. Dan di hari itu, di Musholla Al-Furqon, ratusan tetes darah mengalir dari lengan-lengan penuh niat baik.

Acara yang dibuka dengan doa dan ditutup dengan pelukan hangat antar warga itu menyisakan lebih dari sekadar data jumlah pendonor. Ia menyisakan haru, semangat gotong royong, dan sebuah pengingat: bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya, selama masih ada hati yang bersedia memberi.

Semoga niat yang tulus tak pernah luntur, meski kadang diselingi bingkisan sederhana. Karena sejatinya, darah yang mengalir itu adalah bukti nyata: kita hidup untuk memberi. (Raden Alit) 

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'