Silaturahim Ormas Islam Bali Perkuat Konsolidasi Keumatan dan Harmoni Kebangsaan
Silaturahim Ormas Islam Bali Perkuat Konsolidasi Keumatan dan Harmoni
Kebangsaan
Denpasar, 12 Mei 2026 — Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Bali menggelar kegiatan
silaturahim dan konsolidasi bersama berbagai organisasi kemasyarakatan Islam di
Bali di Gedung MUI Provinsi Bali, Denpasar, Selasa (12/5). Pertemuan tersebut
menjadi ruang dialog bersama dalam merespons dinamika keumatan sekaligus
memperkuat ukhuwah, persatuan, dan harmoni sosial di tengah masyarakat Bali
yang majemuk.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Dewan Masjid
Indonesia Provinsi Bali itu dihadiri berbagai elemen organisasi Islam lintas
latar belakang, mulai dari unsur ulama, organisasi dakwah, organisasi
perempuan, pemuda, hingga komunitas sosial keagamaan. Di antaranya MUI Provinsi
Bali, PWNU Bali, PW Muhammadiyah Bali, GP Ansor Bali, serta sejumlah organisasi
dan komunitas Muslim lainnya di Bali.
Dalam surat undangan resmi bernomor
03/DMI.I/BL/5/2026 tertanggal 8 Mei 2026, DMI Bali menyampaikan bahwa kegiatan
tersebut digelar sebagai respons atas dinamika keumatan baik di tingkat lokal
maupun nasional. Forum itu ditujukan untuk memperkuat komunikasi dan
konsolidasi antarlembaga Islam demi menjaga ukhuwah dan kebersamaan di tengah
masyarakat.
Ketua Umum DMI Bali, H. Bambang Santoso, dalam
berbagai sesi wawancara menegaskan bahwa masjid dan organisasi keagamaan
memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga persatuan umat sekaligus memperkuat
kontribusi sosial dalam kehidupan kebangsaan.
Menurutnya, tantangan masyarakat modern tidak hanya
berkaitan dengan persoalan representasi dan aspirasi umat, tetapi juga
bagaimana menjaga keteduhan ruang publik di tengah derasnya arus informasi
digital dan meningkatnya polarisasi sosial.
“Silaturahim dan konsolidasi ini penting agar
perbedaan tidak berkembang menjadi perpecahan. Yang dibangun adalah komunikasi,
kebersamaan, dan semangat saling menguatkan,” ujarnya.
Ruang
Dialog, Bukan Polarisasi
Pertemuan tersebut juga menjadi ruang diskusi
terkait berbagai isu sosial yang berkembang di masyarakat, termasuk pentingnya
menjaga etika komunikasi publik dan menyelesaikan persoalan melalui mekanisme
hukum serta pendekatan konstitusional.
Tokoh DMI Bali, Dr. Agus Samijaya, menjelaskan
bahwa langkah-langkah yang dibahas bersama ormas Islam lebih diarahkan pada
penguatan jalur hukum, edukasi publik, dan penguatan literasi kebangsaan.
Ia menekankan bahwa upaya tersebut tidak
dimaksudkan untuk menciptakan kegaduhan sosial ataupun memperuncing perbedaan
di tengah masyarakat Bali yang selama ini dikenal harmonis.
“Semua harus tetap berada dalam koridor hukum,
dialog, dan semangat menjaga persatuan nasional,” katanya.
Menurut Agus, forum silaturahim tersebut juga
menunjukkan adanya kesadaran kolektif di kalangan organisasi Islam Bali untuk
menjaga keseimbangan antara kebebasan berpendapat, penghormatan terhadap nilai
agama, dan stabilitas sosial.
Menguatkan
Moderasi dan Kebersamaan
Pengamat sosial-politik menilai kegiatan seperti
ini memiliki arti strategis dalam memperkuat moderasi beragama di daerah dengan
masyarakat plural seperti Bali. Konsolidasi antarlembaga dinilai dapat menjadi
sarana membangun komunikasi yang sehat sekaligus memperkuat partisipasi sosial
umat dalam pembangunan daerah.
Selain membahas dinamika keumatan, forum tersebut
juga menegaskan komitmen bersama untuk menjaga Pancasila, Undang-Undang Dasar
1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai
fondasi kehidupan berbangsa.
Dalam konteks Bali, semangat kebersamaan lintas
agama dan budaya disebut sebagai modal sosial yang harus terus dirawat.
Kehadiran berbagai organisasi Islam dalam satu forum dinilai mencerminkan upaya
membangun sinergi internal umat sekaligus memperkuat kontribusi terhadap
harmoni sosial Bali secara keseluruhan.
Bali dan
Tradisi Toleransi
Bali selama ini dikenal sebagai salah satu daerah
dengan tingkat toleransi sosial yang relatif kuat. Hubungan harmonis antara
masyarakat Hindu, Muslim, Kristen, Buddha, Konghucu, dan kelompok masyarakat
lainnya menjadi bagian penting dari identitas sosial Pulau Dewata.
Karena itu, para tokoh yang hadir dalam forum
tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap mengedepankan dialog,
saling menghormati, dan menolak segala bentuk provokasi yang berpotensi memecah
persatuan.
Kegiatan silaturahim tersebut ditutup dengan seruan
bersama agar seluruh elemen bangsa menjaga suasana damai, memperkuat gotong
royong, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun Indonesia
yang lebih harmonis dan inklusif. (AMBAR & RAYD)
Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



