Silaturahmi Berbumbu Kearifan: Rasa Persaudaraan Muhammadiyah di Denpasar
Silaturahmi Berbumbu Kearifan: Rasa Persaudaraan Muhammadiyah di Denpasar
Denpasar, Oktober 2025 — Seperti aroma ayam betutu yang pelan-pelan meresap hingga ke tulang, kehangatan silaturahmi antara SMK Muhammadiyah Denpasar dan Forum Komunikasi Kepala Sekolah (FKKS) SMK Swasta Kabupaten Sragen menguar lembut di udara Denpasar. Pertemuan itu bukan sekadar kunjungan kerja, melainkan pertemuan dua cita rasa—dua dapur pendidikan—yang sama-sama menggali rempah keikhlasan dan semangat memajukan anak bangsa.
Di hadapan para tamu yang datang dari tanah Jawa, Kepala SMK Muhammadiyah Denpasar, DM. Edy Suprayitno, tampil dengan nada rendah hati namun penuh makna. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kedatangan FKKS Sragen, yang dianggap sebagai kunjungan penuh inspirasi.
“Kami merasa terhormat dan termotivasi karena dijadikan tujuan kunjungan FKKS SMK Swasta Kabupaten Sragen ini. Melalui silaturahmi ini, kami meminta doa dan dukungan serta motivasinya semoga SMK Muhammadiyah Denpasar ke depan menjadi lebih maju dan berkembang. Serta akan terjadi pertukaran ide dan pengalaman khususnya bagi kami,” ujarnya dengan senyum hangat, serupa aroma plecing kangkung yang segar di siang hari—pedas, jujur, dan membangkitkan selera untuk berbenah.
Tak lama kemudian, Ketua FKKS SMK Swasta Kabupaten Sragen, Arifin Hadi W., menyambut hangat sapaan tersebut. Ia menuturkan kekaguman pada suasana sekolah yang memadukan modernitas dan kearifan lokal.
“Kami sangat terkesan dengan penerimaan dari SMK Muhammadiyah Denpasar. Konsep Balinesse ini tidak hanya memperlihatkan kearifan lokal, tetapi juga semangat siswa dan guru dalam menghidupkan budaya di lingkungan sekolah,” tuturnya.
Kunjungan ini menjadi seperti lawar nangka yang diolah dengan cermat—setiap bahan mewakili pengalaman, setiap bumbu menggambarkan nilai, dan setiap rasa menjadi makna dari pertemuan dua daerah. Dalam konteks pendidikan, lawar itu adalah kolaborasi antara inovasi dan nilai-nilai Islam, antara disiplin dan budaya gotong royong.
Sementara itu, semangat para siswa yang menyambut tamu dengan keramahan dan persembahan karya mereka bagaikan bulung boni—segar, sederhana, namun memiliki filosofi mendalam tentang keseimbangan hidup. Di tangan para guru Muhammadiyah, keseimbangan antara ilmu dunia dan akhirat terasa seperti rujak kuah pindang: perpaduan antara rasa pedas perjuangan, asam refleksi, dan gurihnya keikhlasan.
Pertemuan ini bukan hanya meneguhkan ukhuwah antar-sekolah, tetapi juga membangun jembatan ide antara dua daerah dengan cita rasa berbeda. Seperti sate lilit ikan yang diracik dengan sabar, hasilnya adalah harmoni: kuat dalam ikatan, lembut dalam penyampaian.
Dalam balutan suasana yang hangat, SMK Muhammadiyah Denpasar tampil bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai dapur nilai—tempat berbagai gagasan dimasak hingga matang dan siap disajikan untuk kemajuan umat. Hidangan silaturahmi itu pun ditutup manis, seperti jaja Bali di akhir santap: lembut, manis, dan menyisakan kesan mendalam di lidah dan hati setiap yang hadir.
Bagi DM. Edy Suprayitno, yang baru beberapa hari menjabat, kehadiran FKKS Sragen menjadi pertanda baik: bahwa awal kepemimpinannya telah dimulai dengan rasa—rasa kebersamaan, rasa syukur, dan rasa tanggung jawab yang terus menggelora.
Dan dari Denpasar, semerbak wangi pendidikan Muhammadiyah kembali menyebar, membawa pesan sederhana namun abadi: bahwa pendidikan yang baik, seperti masakan yang nikmat, selalu lahir dari bahan terbaik—ilmu, iman, dan cinta.(Chef Raden Alit) donasi PT.MEDIA SUARA UMAT. Bank BSI.7326712967



