Simposium 1 Rakerwil ICMI: Strategi Indonesia 2040, Membangun Masa Depan Berbasis Ilmu dan Inovasi
Simposium
1 Rakerwil ICMI: Strategi Indonesia 2040, Membangun Masa Depan Berbasis Ilmu
dan Inovasi
Denpasar,
2 Maret 2025 – Dalam rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Ikatan
Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang berlangsung di ITB STIKOM Bali,
salah satu sesi yang paling dinantikan adalah Simposium 1: Strategi Indonesia
2040. Simposium ini mengangkat pembahasan mendalam tentang buku Strategi
Indonesia 2040 yang ditulis oleh Dr. Ir. Rahmat Mulyana, M.M., serta
menghadirkan pemaparan dari perwakilan Bank Indonesia, Henry Nosih Saturwa.
Masa
Depan Indonesia: Visi 2040
Dalam
bukunya, Dr. Rahmat Mulyana menyoroti berbagai tantangan dan peluang yang akan
dihadapi Indonesia dalam dua dekade mendatang. Dengan pendekatan berbasis riset
dan data empiris, ia merancang strategi pembangunan yang mengedepankan sinergi
antara sumber daya manusia, teknologi, dan kebijakan ekonomi. Buku ini menjadi
acuan penting bagi para akademisi, pengambil kebijakan, serta pelaku usaha
dalam merancang strategi pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Dalam
sesi presentasinya, Dr. Rahmat Mulyana menekankan bahwa Indonesia memiliki
potensi besar untuk menjadi negara maju dengan memanfaatkan bonus demografi dan
transformasi ekonomi berbasis inovasi. Namun, tantangan yang harus dihadapi
tidaklah mudah. "Kita harus memastikan bahwa kebijakan ekonomi dan sosial
yang diambil mampu menjawab tantangan global, mulai dari digitalisasi,
ketahanan pangan, hingga perubahan iklim," tegasnya.
Kolaborasi
Sektor Keuangan dan Pembangunan Berkelanjutan
Selain
pemaparan Dr. Rahmat, simposium ini juga menghadirkan Henry Nosih Saturwa dari
Bank Indonesia, yang membahas peran sektor keuangan dalam mewujudkan visi
Indonesia 2040. Henry menekankan pentingnya inklusi keuangan dan investasi
dalam riset serta pengembangan teknologi sebagai langkah strategis untuk
mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. "Perbankan dan sektor
keuangan harus berperan aktif dalam membiayai inovasi dan pembangunan
infrastruktur yang berorientasi pada masa depan," ungkapnya.
Diskusi
dan Implikasi Kebijakan
Sesi
ini dipandu oleh moderator M. Zainal Abidin, S.H., CCL., CLL., yang menggali
lebih dalam isu-isu strategis yang dibahas dalam buku tersebut. Para peserta
simposium, yang terdiri dari akademisi, profesional, dan pemangku kepentingan
dari berbagai sektor, turut memberikan pandangan mereka mengenai bagaimana
konsep-konsep dalam Strategi Indonesia 2040 dapat diterapkan secara nyata di
Bali dan wilayah lainnya.
Dalam
diskusi, muncul berbagai rekomendasi terkait implementasi strategi pembangunan
yang berbasis pada integrasi ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nilai-nilai
kearifan lokal. Salah satu poin penting yang disepakati adalah perlunya
membangun sinergi antara sektor pendidikan, industri, dan pemerintah dalam
menciptakan kebijakan yang mendorong inovasi.
Relevansi
bagi Bali dan Indonesia
Simposium
ini menjadi momentum penting bagi ICMI Wilayah Bali untuk mengadopsi
gagasan-gagasan besar dalam Strategi Indonesia 2040 dan mengembangkannya dalam
konteks lokal. Bali, dengan sektor pariwisata dan pertanian yang kuat,
diharapkan dapat menerapkan strategi pembangunan yang lebih berbasis pada
keberlanjutan dan teknologi, sehingga tidak hanya bertumpu pada industri
pariwisata semata.
Dengan
adanya diskusi mendalam ini, diharapkan buku Strategi Indonesia 2040 tidak
hanya menjadi referensi akademis, tetapi juga menjadi pedoman praktis bagi para
pemimpin dan masyarakat dalam membangun Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan
berdaya saing di tingkat global.
Sebagai
penutup, Dr. Rahmat Mulyana menegaskan bahwa masa depan Indonesia ada di tangan
generasi saat ini. "Kita harus bertindak sekarang, dengan strategi yang
matang dan berbasis pada ilmu pengetahuan, agar Indonesia dapat mencapai
kejayaannya pada tahun 2040," pungkasnya.



