Detail Artikel

Sinergi Umat dan Pendidikan: Peran Strategis Pengawas dalam Menguatkan Bina Ihsan Mulia

Sinergi Umat dan Pendidikan: Peran Strategis Pengawas dalam Menguatkan Bina Ihsan Mulia

Oleh: Redaksi Tabloid Suara Umat

Badung, Bali — Di balik berkembangnya Lembaga Pendidikan Bina Ihsan Mulia di kawasan Muding Indah, Badung Utara, terdapat peran strategis pengawasan yang memastikan arah, nilai, dan keberlanjutan lembaga tetap berada pada rel yang benar. Dalam wawancara bersama Radio Megantara Bali, Pengawas Yayasan, H. Abbas Hamid, M.Pd.I, memaparkan secara komprehensif dinamika pengelolaan, hubungan sosial, hingga visi inklusivitas pendidikan yang dijalankan lembaga ini.

Integrasi Lintas Jenjang dalam Satu Naungan

Sebagai lembaga yang menaungi berbagai jenjang pendidikan mulai dari RA, MI hingga MTs, Bina Ihsan Mulia menerapkan sistem manajemen terpadu di bawah satu yayasan. Namun demikian, setiap unit pendidikan tetap memiliki otonomi administratif sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing jenjang.

“Karena berada dalam satu naungan yayasan, manajemen bersifat terintegrasi. Namun secara operasional, setiap jenjang memiliki administrasi sendiri agar lebih efektif dan profesional,” jelasnya.

Pendekatan ini mencerminkan keseimbangan antara sentralisasi visi dan desentralisasi teknis, sebuah model yang kerap menjadi rujukan dalam pengelolaan lembaga pendidikan modern berbasis yayasan.

Harmoni Sosial di Tengah Keberagaman

Salah satu aspek yang menonjol dari keberadaan Bina Ihsan Mulia adalah kemampuannya menjaga harmoni dengan lingkungan sekitar yang plural. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang berada di tengah masyarakat mayoritas non-Muslim, keberadaan madrasah justru diterima dengan baik.

“Lingkungan tidak merasa terganggu, justru merasa terayomi. Kehadiran madrasah menghadirkan ketertiban dan nilai positif bagi masyarakat sekitar,” ungkap Abbas.

Ia menambahkan bahwa yayasan secara aktif membangun komunikasi dengan masyarakat sekitar, termasuk melibatkan unsur lokal seperti pecalang desa dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Bahkan, keterlibatan tenaga non-Muslim dalam operasional lembaga menjadi bukti nyata praktik toleransi yang hidup.

“Ada guru agama Islam, tetapi juga ada warga Hindu yang turut membantu. Ini bentuk kebersamaan yang kami jaga,” tegasnya.

Komite Sekolah: Pilar Partisipasi Kolektif

Dalam perspektif pengawasan, komite sekolah dan wali murid memegang peran krusial sebagai mitra strategis yayasan. Mereka tidak hanya menjadi pendukung pasif, tetapi dilibatkan secara aktif dalam berbagai kegiatan dan pengambilan keputusan.

“Komite adalah ujung tombak keberhasilan lembaga. Kami dorong agar mereka merasa memiliki—bahwa ini adalah sekolah anak mereka, yang harus dijaga dan dikembangkan bersama,” ujar Abbas.

Bentuk partisipasi tersebut tidak sekadar simbolik. Dalam praktiknya, para wali murid secara sukarela terlibat dalam berbagai kontribusi nyata, mulai dari perbaikan fasilitas hingga pengadaan sarana pendidikan.

“Ada yang bersama-sama membersihkan fasilitas, menyumbang pendingin ruangan, hingga komputer. Ini menunjukkan tingkat kepercayaan dan kepemilikan yang tinggi dari masyarakat,” tambahnya.

Akses Pendidikan Tanpa Sekat

Sejalan dengan semangat inklusivitas, Bina Ihsan Mulia membuka akses pendidikan seluas-luasnya tanpa diskriminasi wilayah maupun latar belakang ekonomi.

“Kami tidak membatasi asal daerah siswa. Siapa pun, dari mana pun, selama dalam usia wajib belajar, berhak mendapatkan pendidikan di sini,” tegasnya.

Kebijakan ini menjadi sangat relevan dalam konteks Bali sebagai daerah tujuan migrasi, di mana banyak keluarga Muslim berasal dari luar daerah dan tidak memiliki domisili tetap.

Dalam hal persyaratan administrasi, lembaga ini juga mengedepankan fleksibilitas, tanpa mengabaikan ketentuan dasar yang berlaku. Prinsip utamanya adalah memastikan tidak ada anak usia sekolah yang terhalang mengenyam pendidikan.

Skema Subsidi dan Apresiasi Prestasi

Sejak awal berdiri, yayasan telah menegaskan komitmennya untuk membantu masyarakat kurang mampu. Program subsidi pendidikan diberikan khususnya bagi anak yatim dan keluarga prasejahtera.

“Kami menyediakan bantuan bagi yang membutuhkan, dan juga memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi sebagai bentuk apresiasi,” jelas Abbas.

Tidak hanya siswa, tenaga pendidik pun mendapatkan perhatian melalui program peningkatan kapasitas dan penghargaan atas kinerja.

“Guru yang berprestasi dan kreatif kami berikan stimulus dan dukungan agar terus berkembang,” imbuhnya.

Keberlanjutan melalui Ikatan Emosional

Indikator keberhasilan lain yang disoroti adalah keberlanjutan hubungan antara lembaga dan keluarga siswa. Fenomena di mana adik mengikuti jejak kakaknya untuk bersekolah di tempat yang sama menjadi bukti kuat kepercayaan masyarakat.

“Ketika satu anak sudah sekolah di sini, lalu adiknya ikut, itu tanda bahwa lembaga ini diterima dan dipercaya,” ujarnya.

Ikatan emosional ini menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menjaga eksistensi dan pertumbuhan lembaga.

Pendidikan sebagai Amanah Kolektif (RAHMA & AMBAR)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'