Detail Artikel

Sopo Godang SAROHA Muslim Bali: Merawat Filosofi Dalihan Na Tolu, Meneguhkan Silaturahmi dalam Bingkai Ketakwaan

Sopo Godang SAROHA Muslim Bali: Merawat Filosofi Dalihan Na Tolu, Meneguhkan Silaturahmi dalam Bingkai Ketakwaan

JIMBARAN, BADUNG, BALI — Sebuah bangunan tidak selalu bermula dari batu, semen, dan rancangan arsitektur. Ada bangunan yang mula-mula tumbuh dari kerinduan, dirawat oleh kebersamaan, dan ditegakkan di atas fondasi nilai-nilai luhur yang diwariskan lintas generasi. Semangat itulah yang mengiringi peletakan batu pertama pembangunan Gedung Serbaguna Sopo Godang Yayasan SAROHA Muslim Bali di Jimbaran, Bali, Jumat (23/10/2026).

Dalam momentum yang sarat makna tersebut, Drs. H. Sitorus, Ketua SAROHA Banten, hadir untuk menyaksikan ikhtiar membangun rumah bersama bagi masyarakat Batak Muslim di Pulau Dewata. Peletakan batu pertama itu dilakukan oleh Wakil Menteri Agama RI, Romo H.R. Muhammad Syafi’i, sebagaimana informasi kegiatan yang disampaikan kepada redaksi.

Di balik seremoni pembangunan, tersimpan pesan yang lebih dalam daripada sekadar pendirian sebuah gedung. Sopo Godang diharapkan menjadi ruang perjumpaan, tempat musyawarah menemukan jalan, silaturahmi menemukan rumah, dan identitas budaya tetap hidup di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang majemuk.

Dalam wawancara langsung dengan H. Imam Asrorie, Pimpinan Suara Umat, Drs. H. Sitorus menguraikan filosofi adat Batak yang menurutnya relevan untuk memahami arti penting pembangunan tersebut. Ia mengajak masyarakat melihat Sopo Godang bukan semata-mata sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai perwujudan nilai kebersamaan yang telah lama berakar dalam tradisi leluhur.

Dalihan Na Tolu: Tiga Penyangga Kehidupan Bermasyarakat

Sitorus memulai penjelasannya dengan filosofi Dalihan Na Tolu, yang secara harfiah merujuk pada tungku berkaki tiga. Dalam tradisi Batak, filosofi ini menggambarkan tatanan hubungan kekerabatan yang menjadi penyangga kehidupan sosial.

Tiga prinsip yang dikenal dalam tradisi tersebut adalah Somba Marhula-hula, Elek Marboru, dan Manat Mardongan Tubu. Ketiganya mengajarkan penghormatan kepada pihak hula-hula atau keluarga pemberi perempuan, sikap mengasihi dan memperhatikan pihak boru, serta kehati-hatian dalam menjaga hubungan dengan sesama kerabat semarga.

Bagi Sitorus, kekuatan filosofi ini terletak pada keseimbangan. Setiap unsur memiliki kedudukan dan peran yang saling melengkapi. Tidak ada satu pihak yang dapat berdiri sendiri tanpa dukungan pihak lainnya.

“Kalau satu tidak ada, jatuhlah. Tidak bisa terbentuk acara itu,” demikian inti penjelasan Sitorus ketika menggambarkan pentingnya ketiga unsur tersebut.

Filosofi tungku berkaki tiga itu menjadi pengingat bahwa kehidupan bersama membutuhkan keseimbangan, penghormatan, dan kesediaan untuk menjalankan peran masing-masing.

Dalam konteks pembangunan Sopo Godang, semangat tersebut menemukan relevansinya. Sebuah rumah bersama tidak cukup dibangun dengan kemampuan satu atau dua orang. Ia membutuhkan partisipasi, kepercayaan, dan rasa memiliki dari seluruh anggota komunitas.

Di tanah perantauan, nilai-nilai kekerabatan semacam itu menjadi jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan akar budaya yang diwariskan para pendahulu.

Poda Na Lima: Membersihkan Hati, Diri, dan Lingkungan

Selain Dalihan Na Tolu, Sitorus mengangkat Poda Na Lima, yakni lima nasihat dalam tradisi Batak yang mengajarkan kebersihan dan pembenahan diri.

Ia menjelaskan lima prinsip tersebut melalui ungkapan yang berkaitan dengan membersihkan hati, tubuh, pakaian, rumah, dan halaman. Kelima unsur itu menggambarkan bahwa kehidupan yang baik harus dimulai dari pembenahan diri, kemudian meluas ke lingkungan tempat seseorang hidup bersama orang lain.

Pertama, Paias Rohamu, yang bermakna membersihkan hati. Manusia diajak memurnikan niat, menumbuhkan keikhlasan, dan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan hati yang bersih.

Kedua, Paias Pamatangmu, yaitu menjaga kebersihan tubuh. Kebersihan bukan hanya persoalan penampilan, melainkan bagian dari penghormatan terhadap diri sendiri dan kehidupan.

Ketiga, Paias Parabitonmu, yang mengandung ajakan untuk menjaga kebersihan pakaian. Pakaian juga dapat menjadi penanda identitas budaya, sebagaimana ulos dikenal sebagai salah satu simbol penting dalam tradisi Batak.

Keempat, Paias Bagasmu, yakni membersihkan rumah. Bagi Sitorus, bagian inilah yang memiliki hubungan paling dekat dengan gagasan pembangunan Sopo Godang.

Rumah bukan sekadar tempat berlindung. Rumah merupakan ruang berkumpul, berdialog, bertukar pikiran, dan mengambil keputusan bersama.

“Sopo Godang ini tujuannya untuk tempat kita berkumpul, bermusyawarah,” demikian penekanan Sitorus dalam wawancara tersebut.

Kelima, Paias Pakaranganmu, yakni membersihkan dan menata halaman. Lingkungan yang terawat mencerminkan kepedulian terhadap ruang hidup bersama sekaligus menjadi simbol kemakmuran.

Kelima nasihat itu menghadirkan pesan yang sederhana, tetapi mendalam: pembenahan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari pembenahan pribadi, keluarga, rumah, dan lingkungan.

Sopo Godang, Rumah Besar untuk Musyawarah dan Persaudaraan

Dalam pemahaman yang disampaikan Sitorus, Sopo Godang bermakna rumah besar atau balai bersama. Ia bukan sekadar bangunan untuk menampung kegiatan, melainkan tempat masyarakat merawat hubungan dan merumuskan kepentingan bersama.

Di tempat seperti itulah perbedaan pendapat dapat dipertemukan melalui musyawarah. Persoalan dapat dibicarakan dengan kepala dingin, sementara keputusan diharapkan lahir dari pertimbangan yang matang dan semangat persaudaraan.

Sitorus menghubungkan nilai tersebut dengan sila keempat Pancasila, yang menegaskan prinsip kerakyatan melalui permusyawaratan dan perwakilan.

Dengan demikian, pembangunan Sopo Godang tidak hanya dapat dimaknai sebagai pembangunan infrastruktur organisasi, tetapi juga sebagai ikhtiar menghadirkan ruang bagi praktik musyawarah, pemeliharaan adat, dan penguatan solidaritas sosial.

Di tengah kehidupan masyarakat Bali yang beragam, ruang bersama seperti ini berpotensi menjadi tempat masyarakat Batak Muslim menjaga ikatan kekerabatan tanpa menutup diri dari lingkungan sosial yang lebih luas.

Gedung itu diharapkan menjadi tempat bertemunya gagasan, pengalaman, dan harapan; tempat generasi tua mewariskan nilai, sementara generasi muda belajar memahami identitasnya.

Merawat Adat, Meneguhkan Ketakwaan

Ketika ditanya mengenai misi SAROHA dan keberadaan masyarakat Batak Muslim di berbagai daerah, Sitorus menegaskan pentingnya menjaga adat sekaligus memelihara orientasi spiritual.

Ia mengingatkan kembali pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, yang menerangkan bahwa manusia diciptakan dari laki-laki dan perempuan, kemudian dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.

Pesan tersebut memberikan landasan bagi kehidupan masyarakat yang menghargai perbedaan. Identitas kesukuan tidak semestinya menjadi alasan untuk membangun jarak, melainkan menjadi jalan untuk saling memahami dan memperkaya kehidupan bersama.

Bagi masyarakat Batak Muslim, menjaga adat dapat berjalan beriringan dengan menjalankan ajaran Islam. Keduanya ditempatkan secara proporsional: adat menjadi warisan budaya yang dirawat, sedangkan ketakwaan kepada Allah SWT menjadi orientasi spiritual dalam menjalani kehidupan.

Sitorus berharap SAROHA dapat terus mengambil peran dalam melestarikan adat Batak di perantauan, sekaligus mendorong anggotanya memperkuat keimanan dan ketakwaan.

“Mudah-mudahan SAROHA ini bisa melestarikan adat Bataknya di sini, dan tujuannya untuk ketakwaan kepada Allah SWT,” demikian harapan yang disampaikannya dalam wawancara.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak harus bertentangan dengan kehidupan beragama. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi sarana memperkuat persaudaraan, selama dijalankan dengan tetap menghormati nilai-nilai keagamaan dan kehidupan bermasyarakat.

Batu Pertama dan Harapan bagi Generasi Mendatang

Peletakan batu pertama menandai awal perjalanan panjang sebuah pembangunan. Masih ada pekerjaan, pengorbanan, dan gotong royong yang diperlukan hingga gedung itu benar-benar berdiri dan dapat dimanfaatkan.

Namun, makna sebuah bangunan tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, tinggi dinding, atau banyaknya ruangan. Maknanya juga ditentukan oleh nilai yang hidup di dalamnya dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Sopo Godang diharapkan kelak menjadi rumah bersama bagi keluarga besar SAROHA Muslim Bali; tempat musyawarah menemukan ruang, kebudayaan memperoleh tempat untuk diwariskan, dan hubungan antargenerasi tetap terjalin.

Kehadiran Drs. H. Sitorus, Ketua SAROHA Banten, dalam momentum tersebut juga memperlihatkan pentingnya hubungan antarkomunitas SAROHA di berbagai daerah. Semangat persaudaraan masyarakat Batak Muslim tidak berhenti pada batas wilayah administratif, tetapi tumbuh melalui hubungan sosial, kepedulian, dan tujuan bersama.

Pada akhirnya, batu pertama hanyalah permulaan. Yang lebih menentukan ialah bagaimana fondasi kebersamaan itu terus dirawat setelah seremoni usai.

Sebab, bangunan yang kokoh bukan hanya bangunan yang kuat tiangnya, melainkan juga yang teguh nilai-nilainya. Dan rumah bersama yang sesungguhnya bukan semata-mata tempat orang berkumpul, melainkan tempat persaudaraan dipelihara, perbedaan dimusyawarahkan, adat diwariskan, serta ketakwaan terus ditumbuhkan.

Dari Jimbaran, harapan itu mulai ditanamkan. Semoga kelak Sopo Godang SAROHA Muslim Bali berdiri bukan hanya sebagai gedung serbaguna, tetapi juga sebagai penanda bahwa kebudayaan, persaudaraan, dan keimanan dapat berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.

Catatan redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan dokumentasi kegiatan dan transkrip wawancara H. Imam Asrorie dengan Drs. H. Sitorus. Ejaan sejumlah istilah adat diselaraskan berdasarkan bentuk yang lazim digunakan. Nama resmi pejabat, jabatan, kutipan verbatim, serta rincian kegiatan perlu diverifikasi kepada narasumber atau panitia sebelum publikasi.

 (RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'