Suara Ulama di Balik Wakaf: Dari Kebersamaan Menuju Peradaban Umat
Suara Ulama di Balik Wakaf: Dari Kebersamaan Menuju
Peradaban Umat
Denpasar — Di tengah hangatnya suasana tasyakuran
penutupan wakaf yang digelar oleh Yayasan Baitul Mu'miniin BKDI Bali, hadir
pula suara-suara reflektif dari para tokoh yang menyaksikan langsung perjuangan
tersebut. Salah satunya datang dari Ustadz Nur Asyur, yang memberikan pandangan
mendalam tentang makna di balik keberhasilan pembebasan lahan mushola.
Dengan capaian dana yang mencapai lebih dari Rp2,3
miliar, bahkan mendekati Rp2,6 miliar menurut keterangan pengurus, ia menilai
bahwa keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan manifestasi nyata
kekuatan umat.
“Potensi umat Islam itu luar biasa. Ketika ada
kebersamaan, program yang jelas, dan pertolongan Allah, maka yang tampak sulit
pun bisa teratasi,” ujarnya.
Wakaf sebagai Amal Jariyah
Kolektif
Dalam perspektifnya, setiap rupiah yang terkumpul
bukan hanya donasi, melainkan jejak amal yang akan terus mengalir. Ia
menekankan bahwa keberhasilan pembebasan lahan ini adalah hasil dari keringat,
doa, dan ketulusan banyak pihak.
“Kita doakan apa yang sudah diperoleh ini menjadi
amal jariyah bagi semua yang terlibat,” tambahnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa wakaf bukan
sekadar pembangunan fisik, tetapi investasi spiritual jangka panjang yang
manfaatnya melampaui generasi.
Islam sebagai Rahmat, Bukan
Ancaman
Lebih jauh, Ustadz Nur Asyur menyoroti pentingnya
wajah Islam yang ditampilkan di tengah masyarakat, khususnya dalam konteks
keberagaman seperti di Bali.
“Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Harus dekat
dengan Allah, dan juga dekat dengan sesama manusia,” tegasnya.
Ia mengingatkan agar umat Islam tidak menjadi
sumber kekhawatiran bagi lingkungan sekitar. Sebaliknya, kehadiran umat harus
membawa kedamaian, kenyamanan, dan rasa aman bagi siapa pun, tanpa memandang
latar belakang.
“Jangan sampai ada Islam yang jadi ancaman.
Tampilkan Islam yang memberi manfaat untuk semua,” ujarnya.
Mushola sebagai Pusat Peradaban
Dalam closing statement-nya, ia menggarisbawahi
peran strategis mushola ke depan. Menurutnya, mushola tidak boleh hanya menjadi
tempat ibadah ritual, tetapi harus berkembang menjadi pusat peradaban umat.
“Mushola itu harus dikelola dengan baik, istiqamah,
dan terus berharap kepada Allah. Karena manusia lemah, kekuatan itu datang
dari-Nya,” tuturnya.
Pandangan ini sejalan dengan arah pengembangan
Mushola Baitul Mu’minin yang tidak hanya fokus pada ibadah, tetapi juga
pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Harapan yang Terus Tumbuh
Momentum penutupan wakaf ini menjadi titik awal
untuk langkah-langkah berikutnya. Dengan lahan yang telah dimiliki, tantangan
selanjutnya adalah bagaimana mengelola dan memanfaatkannya secara optimal bagi
umat dan lingkungan sekitar.
Kehadiran tokoh-tokoh seperti Ustadz Nur Asyur
memberikan perspektif bahwa pembangunan fisik harus diiringi dengan pembangunan
nilai—nilai kebersamaan, toleransi, dan kebermanfaatan.
Di Denpasar, dari sebuah mushola, harapan besar
sedang ditanam. Bahwa dari ruang sederhana, dapat lahir peradaban yang membawa
rahmat bagi semua.
(Laporan: Suara Umat.id | Denpasar) (AMBAR & RAYD0



