SUMPAH PEMUDA DI JALANAN: MAHASISWA DESAK PEMERINTAH TANGANI KARHUTLA, HARGA KEBUTUHAN, DAN ARAH KEBIJAKAN NEGARA
SUMPAH PEMUDA DI JALANAN: MAHASISWA DESAK
PEMERINTAH TANGANI KARHUTLA, HARGA KEBUTUHAN, DAN ARAH KEBIJAKAN NEGARA
Jakarta, Suara Umat.id — Pada hari ketika Indonesia
memperingati Sumpah Pemuda, Rabu, 28 Oktober 2026, jalan-jalan di ibu kota
kembali menjadi ruang tempat suara generasi muda dipertemukan dengan kekuasaan.
Mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil turun ke jalan, membawa spanduk, seruan
perubahan, dan kegelisahan terhadap persoalan yang mereka nilai belum
memperoleh penanganan memadai.
Di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jalan Thamrin,
dan Jalan Sudirman, demonstrasi berlangsung di tengah pengamanan aparat. Aksi
serupa juga dilaporkan berlangsung di sejumlah kota lain, termasuk Makassar dan
Bandung. Isu yang disuarakan mencakup penanganan kebakaran hutan dan lahan
(karhutla), kenaikan harga kebutuhan, berkurangnya sejumlah subsidi, serta arah
prioritas belanja negara.
Bagi para demonstran, persoalannya bukan
semata-mata kebijakan di atas kertas. Mereka mempertanyakan bagaimana keputusan
negara dirasakan oleh masyarakat yang menghadapi udara tercemar, tekanan biaya
hidup, dan kebutuhan dasar yang terus menuntut perhatian.
Reuters dan Channel News Asia melaporkan bahwa
ratusan mahasiswa serta kelompok masyarakat sipil mengikuti aksi di Jakarta dan
kota-kota lainnya. Sejumlah demonstran mengenakan masker, termasuk masker gas,
sebagai simbol protes terhadap kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan
dan lahan. Laporan lain menyebutkan partisipasi massa dalam jumlah lebih besar;
angka keseluruhan peserta perlu dibaca berdasarkan lokasi dan sumber pelaporan
masing-masing.
Ketika Udara Menjadi Persoalan
Politik Publik
Di antara berbagai tuntutan, penanganan karhutla
menjadi salah satu sorotan utama. Kebakaran yang melanda sejumlah wilayah
Sumatra dan Kalimantan telah menimbulkan kekhawatiran mengenai kualitas udara,
kesehatan masyarakat, kerusakan ekosistem, serta dampak kabut asap yang dapat
melintasi batas negara.
Kondisi kering yang diperburuk oleh fenomena El
Niño meningkatkan kerentanan sejumlah kawasan, terutama lahan gambut, terhadap
kebakaran. Namun, faktor cuaca bukan satu-satunya persoalan yang perlu
diperiksa. Pencegahan, pengawasan penggunaan lahan, penegakan hukum terhadap
pihak yang bertanggung jawab, dan kesiapan penanganan darurat juga menjadi
bagian penting dari pembahasan.
Dalam aksi 28 Oktober, mahasiswa mendesak
pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan sebagai bencana nasional.
Tuntutan itu mencerminkan desakan agar penanganan krisis mendapat perhatian
lebih besar dan koordinasi yang lebih kuat.
Bagi warga yang terdampak asap, krisis lingkungan
bukan perdebatan abstrak. Ia dapat hadir dalam napas yang terasa berat,
aktivitas yang terganggu, dan kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga.
Meski demikian, penetapan status bencana nasional
memiliki pertimbangan hukum, teknis, dan administratif tersendiri. Karena itu,
tuntutan demonstran perlu ditempatkan sebagai aspirasi publik yang harus
dijawab dengan data tentang luas kebakaran, tingkat dampak, kapasitas
penanganan daerah, serta kebutuhan bantuan bagi masyarakat terdampak.
Anggaran Negara dan Pertanyaan
tentang Prioritas
Selain isu lingkungan, demonstrasi juga menyoroti
biaya hidup dan prioritas penggunaan anggaran negara. Sejumlah peserta aksi
mengkritik besarnya alokasi untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan
meminta pemerintah meninjau kembali keseimbangan belanja antara program sosial,
pendidikan, infrastruktur, serta mitigasi bencana.
Perdebatan tersebut menyentuh pertanyaan mendasar
dalam pengelolaan keuangan publik: bagaimana negara membagi sumber daya yang
terbatas di antara berbagai kebutuhan masyarakat?
Program bantuan dan pemenuhan gizi memiliki tujuan
sosial yang perlu dinilai berdasarkan manfaat serta pelaksanaannya. Pada saat
yang sama, kesiapsiagaan bencana, layanan kesehatan, pendidikan, dan
perlindungan lingkungan juga memerlukan pendanaan yang memadai.
Perdebatan anggaran seharusnya tidak berhenti pada
pertentangan ant arprogram, melainkan menguji apakah setiap rupiah uang publik
digunakan secara transparan, efektif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Untuk menilai tuntutan mahasiswa secara menyeluruh,
diperlukan pemeriksaan atas dokumen anggaran, realisasi belanja, dampak
program, dan kebutuhan pembiayaan penanganan karhutla. Kritik mengenai
prioritas anggaran merupakan bagian dari perdebatan publik; kesimpulan tentang
program mana yang perlu ditambah atau dikurangi harus ditopang oleh data yang
dapat diuji.
Spanduk, Masker, dan Pesan yang
Ingin Didengar
Di tengah demonstrasi, sebagian peserta membawa
spanduk yang mengkritik kebijakan pemerintah dan meminta penanganan kebakaran
lebih tegas. Reuters melaporkan adanya pesan protes yang berbunyi, “If we burn,
you burn with us,” serta simbol tiga jari yang digunakan sejumlah gerakan
protes anak muda.
Simbol-simbol itu membawa pesan kemarahan dan
solidaritas, tetapi tuntutan di baliknya tetap perlu dibaca satu per satu. Ada
tuntutan yang berkaitan dengan penanganan bencana, ada yang menyangkut biaya
hidup, dan ada pula yang mempertanyakan tata kelola pemerintahan.
Dalam demokrasi, demonstrasi merupakan salah satu
saluran untuk menyampaikan ketidakpuasan dan meminta pertanggungjawaban. Namun,
keberhasilan sebuah aksi tidak cukup diukur dari ramainya massa atau kerasnya
slogan. Ukuran lain yang tidak kalah penting ialah sejauh mana tuntutan
dirumuskan secara jelas, dijawab oleh pihak berwenang, dan ditindaklanjuti
melalui kebijakan yang dapat diperiksa masyarakat.
Negara Menjawab, Publik Menunggu
Bukti
Pemerintah melalui pernyataan yang dikutip Reuters
menyatakan terbuka terhadap masukan mahasiswa. Pemerintah juga menyebut telah
menindak perusahaan yang dikaitkan dengan kebakaran, menyalurkan bantuan ke
provinsi terdampak kabut asap, dan melanjutkan pemantauan terhadap situasi
kebakaran.
Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dalam
pemberitaan, tetapi pelaksanaannya perlu dinilai melalui informasi yang
terukur. Masyarakat berhak mengetahui perusahaan mana yang telah diproses,
tindakan hukum apa yang telah diambil, wilayah mana yang menerima bantuan, dan
bagaimana perkembangan kualitas udara serta luas kebakaran.
Transparansi diperlukan agar komunikasi pemerintah
tidak berhenti sebagai jawaban atas demonstrasi, tetapi menjadi dasar bagi
publik untuk menilai hasil penanganan.
Di sisi lain, penyampaian aspirasi perlu
berlangsung dengan memperhatikan keselamatan peserta, pengguna jalan, warga
sekitar, serta petugas yang bertugas. Hak menyampaikan pendapat dan tanggung
jawab menjaga keselamatan publik harus berjalan beriringan.
Pemerintah perlu menjawab kritik dengan data dan
tindakan yang dapat diperiksa. Demonstran pun perlu menjaga agar pesan yang
mereka bawa tetap jelas, damai, dan berorientasi pada penyelesaian persoalan.
Sumpah Pemuda dan Arti Suara
Generasi Muda
Ada ironi sekaligus makna simbolis ketika
demonstrasi berlangsung pada peringatan Sumpah Pemuda. Pada 28 Oktober 1928,
para pemuda dari berbagai latar belakang menyatakan tekad untuk bertanah air
satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, Indonesia.
Hampir satu abad kemudian, generasi muda kembali
menggunakan ruang publik untuk menyuarakan pandangan mereka mengenai masa depan
bangsa. Konteksnya berbeda, tetapi pertanyaan yang mendasarinya tetap berkaitan
dengan kehidupan bersama: bagaimana memastikan negara hadir ketika masyarakat
menghadapi persoalan yang memengaruhi keselamatan, kesejahteraan, dan
kesempatan hidup mereka?
Sumpah Pemuda bukan hanya catatan sejarah yang
diperingati setiap tahun. Ia juga mengingatkan bahwa persatuan tidak berarti
semua orang harus diam atau memiliki pandangan yang sama. Persatuan dapat
tumbuh ketika perbedaan disampaikan secara bertanggung jawab, didengar tanpa
prasangka, dan dijawab melalui proses yang adil.
Suara mahasiswa bukan pengganti kebijakan, tetapi
dapat menjadi pengingat bahwa kebijakan publik harus terus diuji oleh kenyataan
yang dialami masyarakat.
Demonstrasi 28 Oktober 2026 belum dengan sendirinya
menyelesaikan persoalan karhutla, tekanan biaya hidup, ataupun perdebatan
prioritas anggaran. Namun, aksi tersebut memperlihatkan bahwa isu-isu itu
menempati ruang penting dalam percakapan publik dan menuntut jawaban yang lebih
konkret.
Pada akhirnya, yang akan menentukan arti
demonstrasi ini bukan hanya apa yang terjadi di jalan pada hari Sumpah Pemuda,
melainkan apa yang berubah sesudahnya: apakah kebakaran ditangani lebih
efektif, apakah masyarakat terdampak memperoleh perlindungan, apakah penggunaan
anggaran semakin transparan, dan apakah aspirasi warga memperoleh tindak lanjut
yang nyata.
Sebab, demokrasi tidak selesai ketika demonstrasi
bubar. Demokrasi diuji ketika suara yang terdengar di jalan diterjemahkan
menjadi pertanggungjawaban, keputusan yang terukur, dan perubahan yang dapat
dirasakan masyarakat.
Suara Umat.id — Mengawal suara publik, memeriksa
kebijakan, dan menempatkan kepentingan masyarakat sebagai bagian penting dari
demokrasi. (RAYD)



