Syawalan Akbar Ketok Semprong 2026 di Bedugul Perkuat Persaudaraan dan Harmoni Umat di Bali
Syawalan Akbar Ketok Semprong 2026 di Bedugul Perkuat Persaudaraan dan Harmoni Umat di Bali
Bedugul, Bali – Sabtu, 11 April 2026
Kegiatan Syawalan Akbar Ketok Semprong Festival 2026 kembali digelar di Desa Candi Kuning, Bedugul, sebagai momentum penting dalam memperkuat persaudaraan umat dan merawat harmoni antaragama di Bali.
Acara yang telah berlangsung sejak tahun 2001 ini kini berkembang menjadi festival besar yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Sejak tahun 2010, kegiatan ini dipusatkan di kawasan Kebun Raya Bedugul sebagai bentuk keterbukaan dan upaya menyatukan umat dalam satu ruang kebersamaan.
Ketua Panitia, Ariel Dimitri Askoseta, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar tradisi, tetapi memiliki makna strategis.
“Ketok Semprong menjadi ruang bertemunya umat Islam dari seluruh Bali untuk bersilaturahmi, berdialog, dan menyelesaikan berbagai persoalan umat secara bersama,” ujarnya.
Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi bukti nyata bahwa kehidupan harmonis antara umat Islam dan Hindu di Bali telah terjalin kuat sejak lama.
Menepis Stigma, Menguatkan Kebersamaan
Dalam penyelenggaraannya, festival ini menjadi simbol kuat bahwa umat Islam di Bali adalah bagian dari masyarakat yang cinta damai dan menjunjung tinggi kebersamaan.
Panitia menekankan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi jawaban atas berbagai stigma negatif yang selama ini berkembang.
“Kami ingin menunjukkan bahwa harmoni itu bukan sekadar slogan, tetapi sudah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Seluruh rangkaian acara dilaksanakan dengan semangat gotong royong, melibatkan umat Islam dan Hindu, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan.
Kolaborasi lintas umat ini menjadi bukti konkret bahwa nilai persaudaraan di Bali benar-benar hidup dan berjalan.
Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Umat
Perkembangan Ketok Semprong tidak hanya terlihat dari skala kegiatan, tetapi juga dari keberagaman isi acara. Festival ini kini menghadirkan kolaborasi seni budaya lintas tradisi, termasuk pertunjukan kesenian lokal Bali.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi ruang pemberdayaan ekonomi melalui keterlibatan pelaku usaha kecil.
Puluhan pelaku UMKM turut ambil bagian, menghadirkan kuliner khas masyarakat Muslim di Bali yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Tradisi makan bersama yang menjadi bagian dari acara juga memperkuat nilai kebersamaan dan kesetaraan di tengah masyarakat.
Dukungan Pemerintah dan Peran Strategis Festival
Festival Ketok Semprong mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, kecamatan, hingga pemerintah daerah Bali.
Dukungan ini menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan berbasis budaya memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat persatuan masyarakat.
Publikasi kegiatan ini juga turut didorong melalui media sosial pemerintah daerah, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan wajah Bali yang harmonis kepada publik luas.
Menjaga Warisan Harmoni untuk Masa Depan
Mengusung tema merawat harmoni dalam rajutan toleransi, panitia berharap kegiatan ini terus berlanjut dan berkembang di masa mendatang.
“Harmoni yang sudah diwariskan oleh para leluhur harus kita jaga dengan saling menghormati dan menghargai,” ujar Ketua Panitia.
Festival ini menjadi pengingat bahwa persaudaraan dan kebersamaan adalah kekuatan utama dalam menjaga keutuhan masyarakat Bali yang majemuk. (Ambar)



