Tabligh Akbar Muhammadiyah Denpasar: Merawat Toleransi, Menguatkan Persyarikatan, Menjemput Masa Depan Pendidikan di Bali
Tabligh Akbar Muhammadiyah Denpasar: Merawat Toleransi, Menguatkan Persyarikatan, Menjemput Masa Depan Pendidikan di Bali
DENPASAR,
SUARA UMAT.ID — Di Bali,
dakwah tidak tumbuh di ruang yang kosong. Ia hadir di tengah masyarakat yang
telah lama hidup dengan keragaman agama, tradisi, budaya, dan keyakinan. Karena
itu, bagi Muhammadiyah, dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan keagamaan,
tetapi juga bagaimana menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang menenteramkan,
memajukan, dan memberi manfaat bagi kehidupan bersama.
Semangat
itulah yang terasa dalam Tabligh Akbar Keluarga Besar Muhammadiyah Denpasar
yang digelar Majelis Tabligh PDM Kota Denpasar, Ahad (4/10/2026), di Mushala
Ahmad Dahlan, Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Batanta, Denpasar.
Kegiatan
tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus konsolidasi warga Persyarikatan.
Namun lebih dari itu, rangkaian pesan yang disampaikan para tokoh Muhammadiyah
dalam forum tersebut memperlihatkan satu arah yang sama: Muhammadiyah di
Bali ingin terus bertumbuh dengan merawat toleransi, memperkuat konsolidasi,
membangun pendidikan, dan menghadirkan dakwah yang berakar pada akhlak.
Ketua PDM
Kota Denpasar, Tatang Wisnu Wardhana, membuka perspektif itu dari
lingkungan terdekat tempat Tabligh Akbar berlangsung.
Ia
menggambarkan Mushala Ahmad Dahlan sebagai bagian dari wajah Muhammadiyah yang
hidup berdampingan dengan lingkungan masyarakat Bali. Di sekitar kawasan
tersebut terdapat lingkungan yang beragam, termasuk kompleks pemakaman
masyarakat Hindu.
Bagi
Tatang, kondisi itu bukan sekadar realitas geografis. Ia merupakan gambaran
bagaimana Muhammadiyah menjalankan kehidupan Persyarikatan di tengah masyarakat
Bali.
“Semangat
toleransi ini menjadi kekuatan kita dalam menjalankan dakwah Muhammadiyah di
Denpasar. Kita hidup berdampingan, saling menghormati dan bersama-sama menjaga
kerukunan di tengah masyarakat,” demikian pesan yang mengemuka dari
sambutannya.
Dakwah yang Hadir dan Diterima Masyarakat
Tatang juga
menyinggung pengalaman Muhammadiyah dalam membangun fasilitas dakwah dan
pelayanan sosial di tengah masyarakat.
Dalam
konteks tertentu, Muhammadiyah bahkan menggunakan istilah yang lebih mudah
diterima masyarakat sekitar, seperti rumah sosial Muhammadiyah, tanpa
menghilangkan fungsi keagamaan dan sosial dari tempat tersebut.
Pilihan itu
memperlihatkan satu prinsip penting: dakwah tidak selalu harus tampil dengan
simbol yang keras. Dakwah juga dapat menemukan bentuk yang sesuai dengan ruang
sosial tempat ia tumbuh.
Di titik
ini, Muhammadiyah tidak sedang mengurangi identitasnya. Sebaliknya, ia sedang
memperlihatkan kemampuan untuk hadir secara substantif—mengutamakan manfaat,
pelayanan, dan hubungan baik dengan masyarakat.
Tatang juga
mengisahkan pembangunan Mushala Ahmad Dahlan yang mendapat dukungan besar dari
warga Muhammadiyah. Ia menekankan bagaimana sebuah dukungan dapat berkembang
menjadi aset yang jauh lebih besar dan memberikan manfaat berkelanjutan.
Semangat
itu, menurutnya, menjadi salah satu karakter gerakan Muhammadiyah: mengubah
dukungan menjadi kebermanfaatan dan mengembangkan sesuatu yang kecil menjadi
kekuatan yang lebih besar bagi umat.
Dari
Denpasar, pesan itu kemudian bergerak ke tingkat Bali.
Bali sebagai Rumah Bersama
Ketua
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bali, Ir. H. Husnul Fahmi, menempatkan
perjalanan Muhammadiyah di Bali dalam bingkai sejarah yang lebih panjang.
Muhammadiyah
telah hadir di Bali sejak 1930, jauh sebelum Indonesia merdeka pada 1945.
Rentang
sejarah tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Muhammadiyah di Bali bukan
sesuatu yang baru. Persyarikatan telah menjadi bagian dari perjalanan
masyarakat Bali, tumbuh bersama lingkungan sosial yang mayoritas beragama
Hindu.
Karena itu,
Husnul Fahmi menegaskan satu kalimat yang sederhana tetapi kuat: Bali adalah
rumah bersama.
Rumah
bersama menuntut setiap penghuninya menjaga hubungan. Muhammadiyah, kata dia,
harus terus tumbuh bersama masyarakat Bali, dengan merawat toleransi, gotong
royong, dan semangat menyama braya—memandang kehidupan sosial dalam
ikatan persaudaraan.
Realitas
itu tampak dalam keberadaan amal usaha Muhammadiyah yang berdiri di tengah
masyarakat Hindu. Sekolah, lembaga pendidikan, dan berbagai aktivitas
Persyarikatan berjalan berdampingan dengan kehidupan sosial masyarakat
setempat.
Tidak
selalu mudah membangun kehidupan bersama di tengah perbedaan. Tetapi justru di
sanalah dakwah Muhammadiyah diuji: bukan hanya melalui ceramah, melainkan
melalui sikap sehari-hari.
Tabligh Akbar sebagai Konsolidasi
Bagi Husnul
Fahmi, Tabligh Akbar juga memiliki arti strategis sebagai momentum konsolidasi.
Kehadiran
berbagai unsur Muhammadiyah—Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah,
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Tapak Suci, dan
berbagai unsur Persyarikatan lainnya—menunjukkan bahwa Muhammadiyah memiliki
kekuatan kader dan jaringan yang luas.
Kekuatan
itu tidak cukup hanya dikumpulkan dalam forum-forum seremonial.
Ia harus
digerakkan menjadi kerja nyata.
Karena itu,
Tabligh Akbar di Denpasar bukan sekadar pertemuan untuk mendengarkan tausiah.
Ia menjadi ruang untuk kembali menyatukan langkah: memperkuat silaturahmi,
mengonsolidasikan kekuatan organisasi, dan memastikan Muhammadiyah terus hadir
dengan manfaat yang nyata bagi masyarakat.
Dari
konsolidasi itu, perhatian kemudian diarahkan pada salah satu agenda besar
Muhammadiyah di Bali: pendidikan tinggi.
BIMU dan Babak Baru Pendidikan Muhammadiyah
Dalam forum
tersebut, Husnul Fahmi menyampaikan bahwa cita-cita menghadirkan perguruan
tinggi Muhammadiyah di Bali telah menemukan bentuknya melalui Bali
International Muhammadiyah University (BIMU).
Kehadiran
BIMU menjadi penting karena Muhammadiyah kini memiliki ruang untuk melengkapi
ekosistem pendidikannya di Bali.
Jika selama
ini amal usaha pendidikan Muhammadiyah hadir melalui berbagai jenjang
pendidikan, maka perguruan tinggi menjadi bagian penting dari kesinambungan
tersebut.
Karena itu,
Husnul Fahmi mengajak keluarga besar Muhammadiyah memberikan dukungan terhadap
BIMU. Perguruan tinggi itu diharapkan tidak sekadar menjadi institusi
pendidikan, tetapi tumbuh menjadi salah satu pusat keunggulan Muhammadiyah di
Bali.
Dalam
pengembangannya, BIMU mendapat dukungan dan pendampingan dari Universitas
Muhammadiyah Surakarta (UMS). Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno,
M.Hum., dipercaya untuk turut memimpin pengembangan BIMU.
Dukungan
lintas wilayah tersebut memperlihatkan bahwa membangun Muhammadiyah di Bali
bukan pekerjaan satu daerah saja.
Ia
merupakan kerja kolektif Persyarikatan.
Dari Satu Kampus, Menyusun Masa Depan
Prof. Harun
kemudian menguatkan pesan tersebut.
Di hadapan
keluarga besar Muhammadiyah Bali, ia mengajak warga Persyarikatan tidak sekadar
mengenal nama BIMU, tetapi ikut merasa memiliki dan mengambil bagian dalam
membesarkannya.
Perguruan
tinggi, menurut semangat yang disampaikannya, tidak akan tumbuh hanya karena
memiliki gedung dan legalitas. Ia membutuhkan mahasiswa, kepercayaan
masyarakat, dukungan keluarga Muhammadiyah, fasilitas, serta ekosistem akademik
yang kuat.
Karena itu,
keluarga Muhammadiyah diajak menjadikan BIMU sebagai pilihan pendidikan bagi
putra-putri mereka.
Ajakan
tersebut juga disertai perhatian terhadap akses pendidikan melalui program
beasiswa. Kesempatan mendapatkan beasiswa penuh disampaikan dalam forum
tersebut sebagai bagian dari upaya membuka akses lebih luas kepada calon
mahasiswa.
Pesannya
jelas: BIMU tidak cukup hanya didirikan. Ia harus dibesarkan.
Dan
membesarkan perguruan tinggi Muhammadiyah di Bali membutuhkan gerakan bersama.
Dari Bali untuk Dunia
Pesan itu
kemudian menemukan cakrawala yang lebih luas dalam tausiah Ketua PWM Jawa
Tengah, Dr. KH. Tafsir, M.Ag.
Menurut KH
Tafsir, posisi Bali memiliki keistimewaan tersendiri. Bali bukan hanya bagian
dari Indonesia, tetapi juga salah satu wajah Indonesia yang paling dikenal
dunia.
Karena itu,
keberadaan Muhammadiyah di Bali semestinya tidak berhenti pada orientasi lokal.
Perguruan
tinggi Muhammadiyah di Bali, terutama BIMU, perlu memiliki pandangan
internasional.
Bali
memiliki pintu yang terbuka kepada dunia. Maka lembaga pendidikan yang tumbuh
di Bali pun harus mampu membaca peluang tersebut.
Di sinilah
pendidikan, dakwah, dan internasionalisasi bertemu.
Muhammadiyah
tidak cukup hanya membangun lembaga. Ia harus mengisi lembaga itu dengan
gagasan, kualitas, karakter, dan orientasi kemajuan.
Akhlak Tidak Berhenti pada Kesopanan
Namun KH
Tafsir mengingatkan bahwa kemajuan kelembagaan tidak boleh membuat dakwah
kehilangan ruhnya.
Di tengah
kehidupan masyarakat yang majemuk, kekuatan utama dakwah tetap terletak pada
akhlak.
Ia
membedakan antara akhlak dan sekadar sopan santun.
Sopan
santun terutama terlihat dalam perilaku lahiriah. Sementara akhlak berangkat
lebih dalam: dari sikap batin yang kemudian melahirkan perilaku baik, baik
ketika dilihat orang maupun ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan.
Di situlah
dakwah menemukan kedalamannya.
Seseorang
bisa terlihat santun ketika berada di hadapan orang lain. Tetapi ukuran akhlak
justru tampak ketika tidak ada yang melihat.
Karena itu,
pendidikan agama tidak boleh berhenti pada pembentukan perilaku yang sekadar
tampak baik di permukaan. Ia harus membentuk manusia yang baik dari dalam.
Pesan
tersebut terasa relevan bagi Muhammadiyah yang hidup di tengah masyarakat
plural seperti Bali.
Toleransi
bukan sekadar slogan. Ia membutuhkan karakter.
Kerukunan
bukan sekadar pernyataan. Ia membutuhkan akhlak.
Dan dakwah
bukan hanya tentang apa yang diucapkan, tetapi juga tentang bagaimana seorang
Muslim membawa dirinya di tengah kehidupan bersama.
Dakwah yang Membaca Ruang Sosial
KH Tafsir
juga membawa jamaah pada cara pandang yang lebih luas mengenai dakwah.
Dakwah
perlu membaca masyarakat dan tradisi tempat ia tumbuh. Bukan untuk kehilangan
prinsip, melainkan agar pesan agama dapat hadir secara bijaksana dan memberikan
maslahat.
Bali,
dengan kekayaan budaya dan tradisinya, membutuhkan cara dakwah yang mampu
memahami ruang sosial tersebut.
Dalam
kerangka itulah Muhammadiyah dapat hadir tanpa membangun jarak dengan
masyarakat.
Dakwah
menjadi proses menghadirkan kebaikan, membangun hubungan, dan menawarkan
kemajuan.
Prinsip
kemaslahatan menjadi penting: agama tidak semestinya hadir sebagai beban bagi
kehidupan, tetapi sebagai jalan untuk menghadirkan kebaikan yang lebih luas.
Menjaga Niat di Tengah Gerakan
Pada
akhirnya, KH Tafsir mengembalikan seluruh gerakan itu kepada persoalan yang
paling mendasar: niat.
Sebuah
kegiatan dapat memperoleh apresiasi manusia. Sebuah lembaga dapat mendapatkan
pengakuan. Seorang aktivis dapat dikenal luas.
Tetapi di
hadapan Allah, ukuran akhirnya bukan semata-mata seberapa besar seseorang
terlihat, melainkan untuk apa semua itu dilakukan.
Karena itu,
kerja Persyarikatan harus terus dijaga agar tidak kehilangan orientasi ibadah.
Membangun
sekolah, mengembangkan universitas, menguatkan organisasi, mengadakan Tabligh
Akbar, merawat hubungan sosial, dan melayani masyarakat semuanya dapat menjadi
amal jika dikerjakan dengan niat yang benar dan diarahkan kepada kemaslahatan.
Dari sini,
Tabligh Akbar Denpasar menemukan maknanya yang lebih dalam.
Ia bukan
hanya pertemuan sehari.
Ia adalah
jeda untuk melihat kembali perjalanan Muhammadiyah di Bali—dari sejarah panjang
sejak 1930, kehidupan yang berdampingan dengan masyarakat Hindu, amal usaha
pendidikan dan sosial, hingga lahirnya BIMU sebagai babak baru pendidikan
tinggi Muhammadiyah.
Dari Denpasar, Merawat yang Sudah Tumbuh
Rangkaian
pesan para tokoh Muhammadiyah dalam Tabligh Akbar tersebut pada akhirnya
bertemu pada satu simpul.
Muhammadiyah
di Bali sedang bertumbuh, tetapi pertumbuhan itu harus disertai kedewasaan
dalam berdakwah.
Toleransi
harus dirawat.
Konsolidasi
harus diperkuat.
Pendidikan
harus dimajukan.
Akhlak
harus menjadi wajah dakwah.
Dan seluruh
gerakan harus kembali kepada niat untuk memberi manfaat.
Mushala
Ahmad Dahlan di Kompleks Pendidikan Muhammadiyah Batanta menjadi saksi
pertemuan itu. Dari tempat sederhana tersebut, warga Muhammadiyah Denpasar
meneguhkan kembali bahwa dakwah di Bali bukan dakwah yang berdiri
berhadap-hadapan dengan masyarakat.
Ia adalah
dakwah yang hidup bersama masyarakat, bekerja bersama masyarakat, dan
memberi manfaat bagi masyarakat.
Di tengah
Bali yang menjadi rumah bersama, Muhammadiyah ingin terus menanamkan satu
keyakinan: bahwa Islam dapat hadir dengan wajah yang teduh, pendidikan yang
mencerahkan, organisasi yang kuat, dan akhlak yang membuat keberadaannya
dirasakan sebagai kebaikan.
Tabligh
Akbar itu pun tidak berhenti ketika tausiah selesai.
Ia
meninggalkan pekerjaan rumah yang jauh lebih panjang: bagaimana menjaga apa
yang telah tumbuh, membesarkan apa yang baru dimulai, dan memastikan dakwah
Muhammadiyah di Bali terus bergerak dari kata-kata menuju karya.
(RAYD) Donasi PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



