Detail Artikel

Takdir dalam Lauhul Mahfuz: Mengapa Manusia Tetap Wajib Berikhtiar?

Takdir dalam Lauhul Mahfuz: Mengapa Manusia Tetap Wajib Berikhtiar?

Ustaz Wayan Sahdan: Takdir Bukan Alasan Bermalas-malasan, Justru Menjadi Motivasi untuk Berusaha Maksimal

DENPASAR, SuaraUmat.id – Perdebatan mengenai takdir dan ikhtiar masih menjadi salah satu tema yang kerap menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Tidak sedikit orang yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk menyerah pada keadaan, bahkan menganggap kegagalan dan kemiskinan sebagai nasib yang tidak perlu diperjuangkan.

Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan antara keyakinan terhadap takdir Allah SWT dan kewajiban manusia untuk berikhtiar secara sungguh-sungguh. Takdir bukanlah dalih untuk berpangku tangan, melainkan fondasi keimanan yang mendorong seorang Muslim bekerja keras tanpa kehilangan harapan.

Pesan itulah yang disampaikan Ustaz Wayan Sahdan, S.Pd., M.Pd.I, dalam Kajian Senin Sore bertema "Safar: Menghapus Mitos dan Menguatkan Tauhid" di Rumah Dakwah Muhammadiyah Kota Denpasar, Jalan Selayar, Senin (20/7/2026) pukul 17.00 WITA.

Seluruh Kehidupan Telah Tertulis di Lauhul Mahfuz

Dalam kajiannya, Ustaz Wayan mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Hadid ayat 22, yang menegaskan bahwa setiap musibah yang menimpa bumi maupun manusia telah tertulis di Lauhul Mahfuz sebelum seluruh makhluk diciptakan.

Menurutnya, ayat tersebut menjadi bukti bahwa Allah SWT telah menetapkan seluruh skenario kehidupan makhluk-Nya dengan ilmu yang sempurna. Tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di luar kehendak-Nya.

"Allah telah mengetahui dan menetapkan seluruh perjalanan hidup manusia sebelum manusia diciptakan. Semua berada dalam ilmu Allah dan tertulis di Lauhul Mahfuz," jelasnya.

Namun, pengetahuan Allah terhadap masa depan manusia bukan berarti manusia kehilangan kebebasan untuk berusaha. Justru di situlah letak ujian kehidupan.

Mengapa Allah Tidak Memberitahukan Takdir Manusia?

Dalam sesi tanya jawab, seorang jamaah menanyakan apakah manusia dapat mengetahui "bocoran" perjalanan hidupnya sebagaimana kisah-kisah kenabian yang disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu.

Menanggapi pertanyaan itu, Ustaz Wayan menjelaskan bahwa Allah sengaja tidak membuka seluruh rahasia takdir kepada manusia.

Menurutnya, apabila seseorang mengetahui secara pasti masa depannya, besar kemungkinan ia kehilangan semangat untuk berusaha.

"Bayangkan jika seseorang diberi tahu bahwa pada usia 60 tahun ia pasti menjadi orang kaya. Bisa jadi sejak muda ia memilih bermalas-malasan karena merasa kekayaannya sudah dijamin. Padahal Allah menghendaki manusia terus berusaha."

Karena itulah, rahasia takdir menjadi bagian dari hikmah Ilahi agar manusia senantiasa bekerja, berdoa, dan berharap hanya kepada Allah.

Takdir Tidak Pernah Membenarkan Kemalasan

Ustaz Wayan menegaskan bahwa pemahaman tentang takdir sering kali disalahgunakan sebagai pembenaran atas kemalasan.

Menurutnya, seseorang tidak dapat mengatakan dirinya ditakdirkan miskin apabila belum berusaha secara maksimal.

"Kalau belum bekerja sungguh-sungguh, belum mencari ilmu, belum berikhtiar, lalu mengatakan 'ini memang takdir saya', itu bukan takdir. Itu kemalasan yang dibungkus dengan dalih agama."

Ia menjelaskan bahwa Islam mengajarkan ikhtiar, doa, dan tawakal sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Seorang Muslim diperintahkan bekerja keras, menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Al-Qur'an Memerintahkan Manusia Bekerja

Untuk memperkuat penjelasannya, Ustaz Wayan mengutip sejumlah ayat Al-Qur'an yang memerintahkan manusia berusaha mencari karunia Allah.

Di antaranya firman Allah dalam Surah Al-Jumu'ah yang memerintahkan kaum Muslimin untuk bertebaran di muka bumi setelah menunaikan salat Jumat guna mencari rezeki Allah.

Menurutnya, ayat tersebut menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang menghargai kerja keras.

"Tawakal bukan berarti diam. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah seluruh ikhtiar dilakukan."

Jangan Putus Asa Ketika Gagal

Salah satu hikmah terbesar dari keimanan kepada takdir, lanjut Ustaz Wayan, adalah melahirkan ketenangan hati.

Seseorang yang telah berusaha maksimal tetapi belum memperoleh hasil sesuai harapan tidak perlu tenggelam dalam kesedihan.

Allah SWT telah mengingatkan dalam Surah Al-Hadid ayat 23 agar manusia tidak larut dalam kesedihan atas sesuatu yang luput darinya dan tidak pula berlebihan bergembira terhadap nikmat yang diperoleh.

"Kalau seluruh ikhtiar sudah dilakukan dengan benar lalu hasilnya berbeda dari harapan, itulah takdir yang harus diterima dengan lapang dada."

Rezeki Tidak Akan Pernah Tertukar

Dalam ceramahnya, Ustaz Wayan juga mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki rezeki yang telah ditetapkan Allah SWT.

Ia menceritakan pengalaman sederhana ketika membawa buah selama perjalanan jauh. Meski telah diniatkan untuk dimakan sendiri, buah tersebut akhirnya justru dinikmati orang lain karena memang itulah rezeki yang telah Allah tetapkan.

"Kalau memang bukan rezeki kita, tidak akan menjadi milik kita. Sebaliknya, jika Allah telah menetapkan sesuatu menjadi rezeki kita, tidak ada siapa pun yang mampu menghalanginya."

Keyakinan tersebut, katanya, akan melahirkan sikap qanaah sekaligus menghilangkan rasa iri terhadap keberhasilan orang lain.

Sedekah dan Doa Menjadi Bagian dari Ikhtiar

Meski takdir telah ditetapkan Allah, bukan berarti manusia tidak dapat melakukan sebab-sebab yang diperintahkan syariat.

Ustaz Wayan mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa sedekah dapat menjadi sebab tertolaknya bala.

Menurutnya, ketentuan tersebut bukan berarti sedekah mengubah keputusan Allah, melainkan karena Allah sendiri telah menetapkan bahwa sedekah menjadi salah satu sebab datangnya pertolongan-Nya.

"Allah yang menetapkan takdir, dan Allah pula yang memerintahkan manusia berdoa, bersedekah, bekerja, serta beramal saleh. Semua itu merupakan bagian dari sunnatullah."

Takdir Melahirkan Optimisme, Bukan Kepasrahan

Menutup kajiannya, Ustaz Wayan menegaskan bahwa iman kepada takdir seharusnya melahirkan pribadi yang optimistis, tangguh, dan tidak mudah berputus asa.

Keimanan kepada Lauhul Mahfuz mengajarkan bahwa tidak ada usaha yang sia-sia di sisi Allah. Seorang Muslim berkewajiban bekerja dengan penuh kesungguhan, memperbaiki diri, memperbanyak doa, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Yang Maha Mengetahui.

"Takdir bukan alasan untuk berhenti berusaha. Justru karena kita tidak mengetahui takdir itulah, Allah memerintahkan kita terus bekerja, terus berikhtiar, dan terus berharap kepada rahmat-Nya. Itulah hakikat tawakal dalam Islam," pungkasnya.

 (RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'