Tatang Wisnu Wardana: Muhammadiyah Jangan Sekadar Menjadi Tempat Mencari Fasilitas, Jadikan Persyarikatan sebagai Jalan Pengabdian
Tatang Wisnu Wardana: Muhammadiyah Jangan Sekadar
Menjadi Tempat Mencari Fasilitas, Jadikan Persyarikatan sebagai Jalan
Pengabdian
DENPASAR — Setelah saf-saf mulai rapat
dan percakapan perlahan menemukan jedanya, pagi di SMP Muhammadiyah 2 Denpasar
memasuki babak berikutnya. Ahad, 20 September 2026, para guru dan karyawan dari
lingkungan pendidikan Muhammadiyah Kota Denpasar berkumpul dalam kegiatan
kajian Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen
dan PNF).
Setelah
sambutan Majelis Dikdasmen dan PNF yang disampaikan Drs. Ahmad Khamin,
giliran Tatang Wisnu Wardana menyampaikan sambutan.
Dengan
salam yang membuka suasana, Tatang mengawali pesannya dengan mengajak hadirin
menguatkan satu hal yang menjadi denyut kehidupan persyarikatan: Muhammadiyah.
Baginya,
Muhammadiyah bukan sekadar nama organisasi yang terpampang di papan sekolah,
bukan pula sekadar tempat bekerja. Muhammadiyah adalah sebuah jalan panjang
yang dibangun dengan sejarah, pengorbanan, dan kerja bersama.
Menguatkan Asy-Syumuliyah, Menguatkan Muhammadiyah
Dalam
bagian awal sambutannya, Tatang mengajak hadirin mengingat kembali akar
kekuatan Muhammadiyah. Ia menekankan pentingnya penguatan ... yang dalam
transkripsi terdengar sebagai “asumun”—bagian ini perlu dikonfirmasi
dari rekaman asli karena hasil transkripsi otomatis kurang jelas.
Namun pesan
besarnya terasa terang: jika fondasi internal Muhammadiyah kuat, maka
persyarikatan akan semakin mampu memberi manfaat yang lebih luas kepada
masyarakat.
Muhammadiyah,
dalam pandangan yang ia sampaikan, memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Eksistensi persyarikatan tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh melewati
generasi, melewati perubahan zaman, dan terus berusaha menjawab kebutuhan
masyarakat.
Karena itu,
generasi yang hidup hari ini menerima sebuah amanah: bukan hanya menikmati
hasil perjuangan generasi terdahulu, tetapi juga memastikan Muhammadiyah tetap
hidup dan relevan untuk generasi berikutnya.
Sejarah Bukan Sekadar Kenangan
Tatang
kemudian membawa hadirin menengok perjalanan kelembagaan Muhammadiyah,
khususnya dalam bidang pendidikan.
Ia
menyinggung perkembangan sekolah Muhammadiyah yang tidak lahir dari proses
singkat. Dari satu sekolah, berkembang menjadi beberapa sekolah. Dari sebuah
ikhtiar kecil, kemudian tumbuh menjadi jaringan pendidikan yang lebih luas.
Ada sejarah
yang menyertai setiap pertumbuhan itu.
Karena itu,
menurut pesan yang disampaikan Tatang, data dan dokumentasi kelembagaan menjadi
penting. Sejarah tidak cukup hanya diceritakan dari mulut ke mulut. Ia perlu
dicatat, dirawat, dan dijadikan pijakan untuk membaca perkembangan
persyarikatan.
Sebab
sebuah lembaga yang tidak mengenali perjalanan masa lalunya akan kesulitan
memahami mengapa ia berada di titik yang sekarang.
Dan
Muhammadiyah memiliki sejarah yang terlalu panjang untuk dibiarkan menjadi
sekadar cerita masa lalu.
Pendidikan Muhammadiyah dan Kebanggaan Menjadi
Bagian Persyarikatan
Dari
sejarah, Tatang bergerak kepada persoalan yang lebih dekat dengan para guru dan
karyawan: rasa bangga menjadi bagian dari Muhammadiyah.
Ia
menyampaikan harapan agar keberadaan sekolah Muhammadiyah terus memberikan
ruang bagi warga persyarikatan untuk berkembang. Menjadi bagian dari
Muhammadiyah, menurut pesan yang disampaikannya, semestinya menghadirkan
kebanggaan tersendiri.
Bukan
kebanggaan karena jabatan.
Bukan pula
semata-mata karena fasilitas yang diterima.
Tetapi
kebanggaan karena berada di dalam sebuah gerakan yang memiliki sejarah panjang
dan orientasi pengabdian.
Di titik
inilah sambutannya menemukan nada yang lebih personal.
Tatang
mengingatkan bahwa keluarga memiliki posisi penting dalam kehidupan manusia.
Pendidikan pun demikian. Keluarga dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari
upaya membangun manusia yang utuh.
Karena itu,
pembicaraan tentang Muhammadiyah pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang
struktur organisasi, sekolah, atau jabatan. Ia berbicara tentang manusia yang
menghidupkan semua itu.
Teknologi yang Mendekatkan, Tetapi Bisa Juga
Menjauhkan
Salah satu
bagian yang menarik perhatian dalam sambutan Tatang adalah ketika ia berbicara
mengenai teknologi.
Hari ini
teknologi seolah-olah membuat manusia semakin dekat. Pesan dapat dikirim dalam
hitungan detik. Pertemuan dapat berlangsung tanpa harus berada dalam satu
ruangan. Informasi berpindah tanpa mengenal jarak.
Namun
kedekatan digital tidak selalu berarti kedekatan manusia.
Tatang
mengingatkan bahwa teknologi dapat membuat seseorang tampak terhubung, padahal
masing-masing sedang hidup dalam dunianya sendiri.
Kita berada
dalam satu grup, tetapi mungkin tidak benar-benar berjumpa.
Kita
membaca pesan yang sama, tetapi belum tentu memiliki perhatian yang sama.
Kita dapat
mengadakan rapat melalui layar, tetapi kedekatan batin tidak otomatis lahir
dari sebuah sambungan internet.
Karena itu
ia mengajak para guru dan karyawan menggunakan waktu dan teknologi dengan
benar-benar bermakna.
Teknologi
hendaknya menjadi alat untuk memperkuat persyarikatan, bukan justru membuat
warga Muhammadiyah berjalan sendiri-sendiri.
Jangan Datang ke Muhammadiyah Hanya karena
Fasilitas
Menjelang
akhir sambutannya, Tatang menyampaikan pesan yang menjadi salah satu inti
paling kuat dari seluruh pembicaraannya.
Ia
mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan Muhammadiyah semata-mata sebagai
tempat untuk memperoleh fasilitas.
Jika
orientasinya hanya fasilitas, maka ketika fasilitas itu tidak diperoleh,
hubungan dengan Muhammadiyah menjadi mudah goyah.
Tetapi jika
Muhammadiyah ditempatkan sebagai jalan pengabdian, maka cara pandang
akan berubah.
Menjadi
bagian dari Muhammadiyah bukan semata-mata soal apa yang diperoleh, tetapi juga
tentang apa yang dapat diberikan.
Bukan hanya
bertanya, “Apa yang Muhammadiyah berikan kepada saya?”
Tetapi juga
berani bertanya:
“Apa yang
dapat saya berikan kepada Muhammadiyah?”
Di sanalah,
menurut pesan Tatang, letak kekuatan sebuah persyarikatan.
Sebab
organisasi sebesar Muhammadiyah tidak mungkin bertahan hanya dengan
mengandalkan struktur. Ia hidup karena ada orang-orang yang dengan kesadaran
terus merawatnya.
Guru yang
mengajar dengan sungguh-sungguh.
Karyawan
yang bekerja dengan amanah.
Pimpinan
yang melayani.
Dan warga
persyarikatan yang tidak hanya hadir ketika membutuhkan sesuatu.
Muhammadiyah sebagai Jalan Pengabdian
Sambutan
Tatang akhirnya kembali pada satu kata yang sederhana, tetapi dalam: pengabdian.
Muhammadiyah
telah melewati perjalanan panjang. Generasi demi generasi datang dan pergi.
Sekolah berkembang, teknologi berubah, zaman bergerak.
Tetapi ada
sesuatu yang semestinya tidak berubah: semangat untuk memberi manfaat.
Di tengah
derasnya perubahan zaman, para guru dan karyawan Muhammadiyah tidak hanya
dituntut mampu mengikuti perkembangan teknologi dan pendidikan. Mereka juga
dituntut menjaga ruh persyarikatan.
Sebab
sekolah Muhammadiyah bukan hanya tempat menyampaikan pengetahuan.
Ia adalah
tempat nilai ditanamkan.
Tempat
keteladanan dipraktikkan.
Tempat
semangat berkemajuan diwariskan.
Dan pada
akhirnya, tempat sebuah generasi belajar bahwa hidup bukan hanya tentang
memperoleh, tetapi juga tentang memberi.
Pagi itu,
Tatang menutup sambutannya dengan salam.
Namun pesan
yang ia tinggalkan seolah belum selesai.
Ia masih
menggantung di antara saf-saf yang telah tersusun, di wajah para guru dan
karyawan yang hadir, serta di ruang-ruang sekolah Muhammadiyah yang setiap hari
menjadi tempat berlangsungnya sebuah pengabdian panjang.
Muhammadiyah
tidak sekadar membutuhkan orang-orang yang berada di dalamnya. Muhammadiyah
membutuhkan orang-orang yang bersedia menghidupinya. (RAYD)



