Detail Artikel

Tatang Wisnu Wardhana Tegaskan Jati Diri dan Komitmen Beramal di Amal Usaha Muhammadiyah

 Materi Kemuhammadiyahan: Tatang Wisnu Wardhana Tegaskan Jati Diri dan Komitmen Beramal di Amal Usaha Muhammadiyah

Pada sesi Kemuhammadiyahan, Tatang Wisnu Wardhana mengajak seluruh guru dan tenaga kependidikan SMK Muhammadiyah Denpasar untuk kembali meneguhkan identitas sebagai bagian dari Persyarikatan Muhammadiyah. Menurutnya, keberhasilan sekolah Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh kualitas kurikulum dan sarana pembelajaran, tetapi juga oleh kesamaan visi, komitmen, serta semangat pengabdian seluruh sumber daya manusia yang ada di dalamnya.

Ia menegaskan bahwa bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bukan sekadar menjalankan profesi sebagai pendidik atau tenaga kependidikan, melainkan bagian dari dakwah dan ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan Islam yang berkemajuan.

"Bekerja di Muhammadiyah tidak cukup hanya profesional, tetapi juga harus dilandasi keikhlasan dan semangat berkhidmat. Guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menjadi kader yang membawa nilai-nilai Muhammadiyah dalam setiap aktivitas pendidikan," ujarnya.

Dalam pemaparannya, Tatang mengajak peserta memahami bahwa berbagai persoalan yang muncul di sekolah harus dipandang sebagai tantangan bersama, bukan diselesaikan berdasarkan sudut pandang pribadi. Ia menjelaskan bahwa masalah muncul ketika realitas belum sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

"Jangan menggunakan sudut pandang masing-masing ketika menyelesaikan persoalan sekolah. Yang harus menjadi acuan adalah tujuan bersama. Ketika tujuan sudah disepakati, maka seluruh energi harus diarahkan untuk mencapainya," katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya membangun "frekuensi yang sama" di antara seluruh warga sekolah. Menurutnya, sekolah Muhammadiyah akan sulit berkembang apabila setiap individu berjalan dengan persepsi sendiri-sendiri tanpa kesamaan arah.

"Yang harus kita satukan bukan sekadar cara berpikir, tetapi tujuan besar Muhammadiyah. Ketika frekuensi itu sama, maka kolaborasi akan tumbuh dan sekolah akan bergerak ke arah yang sama," tegasnya.

Lebih jauh, Tatang menekankan bahwa sekolah Muhammadiyah merupakan ruang strategis dalam proses kaderisasi. Karena itu, setiap guru memiliki tanggung jawab tidak hanya mendidik peserta didik secara akademik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai Islam Berkemajuan serta membangun karakter generasi penerus Persyarikatan.

Menurutnya, kaderisasi tidak boleh dipahami sebatas kegiatan organisasi, tetapi harus menjadi budaya yang hidup dalam setiap proses pendidikan.

"Seluruh peserta didik yang berada di sekolah Muhammadiyah adalah amanah Persyarikatan. Kaderisasi harus dimulai dari ruang kelas, melalui keteladanan guru, budaya sekolah, dan nilai-nilai yang ditanamkan setiap hari," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tatang juga mengingatkan bahwa Muhammadiyah memberikan ruang bagi setiap insan untuk berkarya dan berkontribusi. Oleh karena itu, guru dan tenaga kependidikan diharapkan tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga bagian dari gerakan yang membawa misi dakwah, pembaruan (tajdid), dan pelayanan kepada umat.

"Muhammadiyah adalah kendaraan perjuangan. Ketika kita telah memilih menjadi bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah, maka pilihan itu harus diwujudkan melalui integritas, loyalitas, profesionalisme, dan semangat pengabdian," ujarnya.

Menutup materinya, Tatang mengajak seluruh peserta menjadikan forum review kurikulum sebagai momentum memperkuat budaya mutu dan mempererat kebersamaan dalam membangun sekolah.

"Kurikulum yang baik hanya akan berhasil apabila dijalankan oleh guru-guru yang memiliki visi yang sama, karakter yang kuat, serta komitmen untuk terus memajukan Muhammadiyah melalui dunia pendidikan," pungkasnya.    (RAYD) Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'