Tausiah yang Hangat, Lucu, dan Menggugah: Drs. H. Kt. Imaduddin Jamal di Halal Bihalal MUI Bali
Tausiah yang Hangat, Lucu, dan Menggugah: Drs. H. Kt. Imaduddin Jamal di Halal Bihalal MUI Bali
Denpasar, 19 April 2025 – Ballroom Hotel Harris, Cokroaminoto
Sebelum Gubernur dan Wakil Gubernur Bali hadir dalam acara Halal Bihalal MUI Provinsi Bali, suasana ruangan dipenuhi tawa, renungan, dan kehangatan spiritual berkat tausiah yang segar dan menyentuh dari Ketua Pengadilan Tinggi Agama Bali, Drs. H. Kt. Imaduddin Jamal, S.H., M.M.
Beliau membuka tausiah dengan lantunan surah Asy-Syams, ayat yang penuh makna tentang penciptaan, nafsu, dan penyucian diri. “Allah bersumpah dengan matahari, bulan, siang, malam… karena manusia itu sering lupa bahwa jiwanya harus dibersihkan. Dan inilah kenapa kita berkumpul hari ini—untuk Halal Bihalal, membersihkan diri dari salah dan dosa," ujar beliau dengan suara tenang namun penuh penekanan.
“Syarat Masuk Surga Itu Satu!”
Belum genap lima menit berbicara, suasana langsung cair. Beliau mengajukan pertanyaan dengan gaya khasnya, “Bapak Ibu, syarat masuk surga itu cuma satu. Ada yang tahu?” Lalu dengan canda segar, sebagian audiens menjawab, “Mati dulu, Pak!”
Gelak tawa pun pecah, namun beliau langsung menimpali, “Betul, tapi ada syarat lain yang lebih berat: tidak punya dosa. Dan itu… hampir nggak ada yang lulus tanpa remedial! Maka kita butuh Halal Bihalal—karena ini cara kita saling memaafkan, saling menggugurkan dosa sesama manusia.”
Menurut beliau, dosa kepada Allah itu mudah, cukup dengan taubat dan Allah Maha Pengampun. Tapi dosa kepada sesama manusia? “Tidak bisa dihapus hanya dengan istighfar. Harus minta maaf! Harus bersalaman. Tapi kadang… kita gengsi!”
“Kadang, Gengsi Kita Lebih Besar dari Kesalahan Kita”
“Coba jujur,” lanjut beliau sambil tersenyum, “Kita lebih mudah minta maaf ke atasan daripada ke bawahan. Padahal, bisa jadi yang kita sakiti justru si pembuat kopi atau petugas keamanan.”
Tausiah ini penuh kelakar namun menggugah. Peserta dibuat tertawa, merenung, dan berkaca diri.
“Jangan gengsi. Karena tidak ada tiket ke surga yang disebut jabatan. Tidak ada pintu surga tertulis ‘Khusus yang pangkatnya eselon dua’. Yang ada hanyalah: 'siapa yang hatinya bersih dan tangannya ringan meminta maaf.'”
Menjadi Hakim, Tapi Tidak Langsung Mengadili
Saat audiens mulai mengira tausiah akan selesai, panitia memohon agar beliau melanjutkan… sampai Gubernur tiba. Dan dengan ringan hati, beliau pun lanjut — kali ini dengan kisah-kisah dari meja persidangan.
“Saya ini kerjaannya tiap hari dengerin orang mau cerai. Dan tahu nggak tugas utama saya di Pengadilan Agama? Mempersulit perceraian! Bukan karena saya jahat… Tapi karena saya ingin rumah tangga itu utuh lagi.”
Beliau menjelaskan bahwa mayoritas perkara yang masuk adalah urusan keluarga, khususnya perceraian, dan ini cerminan bahwa rumah tangga hari ini rapuh. “Padahal kata Nabi, ‘Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.’ (HR. Tirmidzi). Kalau rumah tangga kuat, negara pun ikut kuat.”
Beliau juga menyitir ayat Al-Qur’an dari Surah Ar-Rum ayat 21:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu kasih sayang dan rahmat..."
Dengan gaya santai dan gaya bercerita khas “hakim berhati humoris”, Pak Jamal menyampaikan bahwa menjaga keharmonisan rumah tangga bukan hanya soal cinta, tapi tentang tanggung jawab spiritual dan sosial. Bahkan, beliau menutup dengan pernyataan ringan tapi dalam: “Kalau kamu tidak bisa jadi imam salat di rumah, jangan sok mau jadi pemimpin di luar rumah.”
Kesimpulan: Tertawa Bersama, Tersadar Bersama
Tausiah Pak Jamal menjadi magnet dalam acara Halal Bihalal ini. Menghibur, membumi, dan membangkitkan kesadaran. Ia tidak berbicara dari podium tinggi, tetapi turun ke hati jamaah.
Tausiah ini menyatukan makna Halal Bihalal sebagai proses penyucian relasi, penguat keluarga, dan pereda ego. Ia membuktikan bahwa agama tidak selalu harus kaku, tapi bisa penuh tawa—asal maknanya sampai.
Acara ini adalah pelajaran bahwa membangun Bali yang harmoni juga dimulai dari ruang-ruang kecil: rumah tangga, masjid, forum silaturahmi, dan niat untuk saling menguatkan.



