Temu Guru Gembira Bukan Sekadar Pelatihan, 40 Guru Diajak Memulihkan Energi dan Menemukan Kembali Kegembiraan Mengajar
Temu Guru Gembira Bukan Sekadar Pelatihan, 40
Guru Diajak Memulihkan Energi dan Menemukan Kembali Kegembiraan Mengajar
DENPASAR, 7
Agustus 2026 — Temu
Guru Gembira 2026 di Bali dirancang bukan sebagai pelatihan guru dalam
pengertian konvensional. Selama tiga hari, sebanyak 40 guru dari 40 satuan
pendidikan berbeda akan diajak belajar, berefleksi, memulihkan energi,
membangun jejaring dukungan, sekaligus menemukan kembali kegembiraan dalam
menjalankan profesinya.
Hal
tersebut disampaikan Bapak Dipo Agung dalam laporan panitia pada
pembukaan Temu Guru Gembira 2026 di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP)
Provinsi Bali, Jumat (7/8).
Dalam
laporannya, Dipo menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diinisiasi oleh Tim Tenaga
Ahli Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr. Fajar Riza Ul Haq, dan
dilaksanakan melalui kolaborasi dengan tim terkait komunikasi dan media,
psikolog, serta fasilitator.
Kegiatan
berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Minggu, 7–9 Agustus 2026.
Guru Hadir Bukan untuk "Diberi Beban"
Baru
Ada satu
pesan menarik dalam laporan panitia. Para guru yang hadir, menurut Dipo, tidak
sedang dikumpulkan untuk kembali dijejali dengan berbagai materi dan pekerjaan
administratif.
Justru
sebaliknya, selama tiga hari mereka akan diajak untuk bergembira.
“Kalau
bayangannya guru-guru dihadirkan di sini pasti akan diberikan pemberkasan ...
dan sebagainya. Tapi pada kesempatan ini kegiatannya sesuai dengan judulnya,
yaitu Guru Gembira,” ujar Dipo dalam laporannya.
Pernyataan
tersebut menjadi salah satu pesan kunci dalam pembukaan kegiatan. Guru datang
bukan semata-mata untuk menerima materi, tetapi untuk mengalami sebuah proses
yang memungkinkan mereka berhenti sejenak, melihat kembali kondisi dirinya,
berinteraksi dengan sesama guru, dan menemukan energi baru untuk kembali ke
sekolah.
Delapan Pengalaman untuk Guru
Selama tiga
hari, peserta akan mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang untuk menyentuh
sisi profesional sekaligus personal seorang guru.
Materi yang
disiapkan meliputi Filosofi Guru Gembira dan Well-being Guru, Budaya
Aman Sekolah Nyaman, kebijakan guru dan tenaga kependidikan, serta literasi
media.
Namun
rangkaian kegiatan kemudian bergerak lebih jauh dari ruang kelas.
Peserta
akan mengikuti Olahraga dan Olahjiwa sebagai Media Ekspresi Emosi, Outbound
Gembira sebagai Media Penguatan Kolaborasi dan Refleksi, Healing Circle
sebagai ruang aman berbagi pengalaman guru, serta praktik mindfulness
untuk pengelolaan stres guru.
Rangkaian
tersebut kemudian ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut dan
pembentukan Komunitas Guru Gembira. Struktur kegiatan tersebut sesuai
dengan Kerangka Acuan Kerja resmi Temu Guru Gembira 2026.
Bagi
panitia, pengalaman yang dibangun selama tiga hari tersebut diharapkan
menghasilkan perubahan yang lebih mendalam daripada sekadar bertambahnya
pengetahuan.
Guru
diharapkan memperoleh pengalaman mengenai kebijakan pendidikan, sekaligus
meningkat kesadarannya terhadap pentingnya kesejahteraan psikologis.
Merawat Guru Sebelum Menuntut Lebih Banyak
Laporan
panitia juga menempatkan persoalan kesejahteraan psikologis sebagai bagian
penting dari kegiatan.
Guru
diharapkan mendapatkan ruang untuk mengenali dan mengelola stres, burnout,
serta kondisi emosional melalui pendekatan yang menyenangkan dan partisipatif.
Pada saat
yang sama, kegiatan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas guru dalam membangun
keseimbangan emosional melalui praktik mindfulness, memperkuat hubungan sosial
dan support system antarguru melalui healing circle, serta membangun
komunitas yang dapat menjadi ruang saling menguatkan.
Kerangka
Acuan Kerja kegiatan sendiri menempatkan teacher well-being sebagai
salah satu fondasi penting. Guru yang sehat secara psikologis dinilai lebih
mampu membangun hubungan yang hangat dengan peserta didik, mengembangkan
pembelajaran kreatif, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman serta
menyenangkan.
Dari Bali untuk Dapat Diimbaskan ke Daerah Lain
Yang
menarik, kegiatan ini tidak diarahkan berhenti pada pengalaman 40 guru peserta.
Dalam
laporannya, Dipo menyampaikan harapan agar hasil kegiatan dapat dibawa ke
sekolah dan menjadi bahan untuk melihat kemungkinan pengembangan kegiatan
serupa di daerah lain.
Bali dalam
konteks ini bukan hanya menjadi lokasi pelaksanaan. Bali juga diharapkan dapat
memberikan gambaran mengenai aspek-aspek kegiatan yang kemudian dapat
dikembangkan dan diadaptasi di wilayah lain.
Semangat
tersebut sejalan dengan tujuan Temu Guru Gembira untuk mendorong lahirnya
komitmen aksi nyata di sekolah masing-masing serta memperkuat jejaring
kolaborasi antarguru.
"Guru Bahagia, Murid Pun Belajar dengan
Gembira"
Laporan
panitia ditutup dengan sebuah pantun yang sekaligus merangkum filosofi
kegiatan.
Ketika melihat senja,
Guru bahagia dalam bekerja,
Murid pun belajar dengan gembira.
Pesan
tersebut sederhana, tetapi menjadi benang merah Temu Guru Gembira 2026.
Bahwa upaya
memperbaiki pendidikan tidak selalu harus dimulai dari kurikulum, teknologi,
atau berbagai perangkat pembelajaran.
Ada hal
yang lebih mendasar: manusia yang menjalankan pendidikan itu sendiri.
Jika guru
memiliki ruang untuk sehat secara psikologis, saling mendukung, mampu mengelola
tekanan, dan menemukan kembali kegembiraan dalam profesinya, maka energi
tersebut diharapkan mengalir ke ruang kelas dan akhirnya dirasakan oleh peserta
didik.
Dari Bali,
Temu Guru Gembira 2026 mencoba memulai percakapan itu.
Bukan
tentang bagaimana guru harus selalu tersenyum.
Melainkan
tentang bagaimana guru juga perlu dirawat, didengar, dikuatkan, dan diberi
ruang untuk kembali menjadi manusia yang gembira dalam menjalankan panggilan
pendidikannya.
Donasi Suara Umat atas nama PT MEDIA SUARA UMAT. BANK BSI NO REK. 7326712967



