Detail Artikel

Terjebak

Terjebak


Oleh: RAYD


Tiga hari.

Haikal, santri muda yang tertimbun reruntuhan pesantren di Jawa Timur, melewati tiga hari itu dalam gelap, pengap, dan panas.

Tiga hari yang bagi manusia biasa mungkin terasa seperti tiga tahun.

Namun baginya, waktu seolah berhenti — karena di tengah sempitnya ruang, luasnya iman menjadi pelita.


Di antara retakan bata dan debu, Haikal tidak sendirian. Ia bersama doa. Ia bersama Allah.

Setiap tarikan napas yang berat menjadi zikir. Setiap detak jantung menjadi tasbih yang bergetar di dinding dadanya.

Ia menunggu pertolongan bukan semata dari manusia, tetapi dari Allah — yang kelak mengutus manusia untuk menyingkap reruntuhan itu.


Kisah Haikal mengingatkan kita pada Nabi Yunus ‘alaihissalam, yang terjebak dalam perut ikan di kedalaman laut yang gelap.

Di tempat yang mustahil bagi kehidupan, beliau justru menemukan kehidupan sejati:

“Laa ilaaha illa anta, subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimin.”

Ketika koneksi dengan Allah tersambung, ruang sempit menjadi lapang, panas menjadi teduh, dan ketakutan berubah menjadi ketenangan.


Terjebak dalam Tubuh

Kita pun sejatinya makhluk yang terjebak — bukan di reruntuhan bata, tapi di dalam tubuh yang menua, letih, dan terbatas.

Setiap rasa sakit, lemah, dan nyeri adalah isyarat lembut dari Allah: bahwa dunia ini bukan rumah abadi.


Secara kesehatan, rasa sakit adalah alarm tubuh untuk memperbaiki diri.

Secara iman, sakit adalah cara Allah menghapus dosa dan menumbuhkan sabar.

Seperti Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang tak merasakan sakit ketika dicabut panah dari tubuhnya saat shalat — karena koneksinya dengan Allah memutus rasa dunia.

Begitulah Haikal, di tengah pengap reruntuhan, tetap merasa lapang karena hatinya berpaut pada Tuhan.


Terjebak dalam Pikiran

Ada pula jebakan yang lebih halus: pikiran kita sendiri.

Kita sering tersesat dalam labirin andai saja, seandainya, dan mengapa aku.

Padahal Rasulullah telah bersabda:


“Kata seandainya membuka pintu bagi setan.”


Secara psikologis, orang yang hidup dalam “andai” kehilangan keseimbangan batinnya.

Namun, ketika hati terhubung pada iman, pikiran menjadi jernih.

Zikir menenangkan saraf, doa menurunkan tekanan darah, dan tawakal menjadi terapi paling alami.

Ilmu kesehatan membuktikan — spiritualitas menumbuhkan daya tahan tubuh dan menenangkan jiwa.

Sebagaimana firman Allah:

“Alaa bidzikrillaahi tathma’innul quluub.”

(Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.)


Terjebak dalam Dunia

Dunia ini pun jebakan yang halus. Ia indah namun fana.

Kita memperjuangkannya seolah abadi, padahal ia hanya jembatan menuju keabadian.

Manusia yang terlalu cinta dunia sejatinya sedang menukar mutiara akhirat dengan pasir waktu.


Haikal mengajarkan: di bawah reruntuhan, semua kemewahan dunia kehilangan arti.

Yang tersisa hanyalah nafas iman, secercah harapan, dan nama Allah yang masih bisa disebut di tengah gelap.

Saat itulah kita sadar — dunia hanyalah singgahan, bukan tujuan.


Bebas dari Jebakan

Selama iman masih menyala, semua jebakan tak lagi menakutkan.

Tubuh boleh rapuh, pikiran boleh gundah, dunia boleh menggoda,

tapi hati yang beriman selalu punya ruang lapang — karena ia telah terhubung dengan Yang Mahaluas.

Haikal keluar dari reruntuhan dengan selamat.

Namun lebih dari itu, ia keluar membawa pesan:

setiap manusia bisa terjebak,

tapi hanya orang beriman yang bisa bebas — bahkan di dalam jebakan itu sendiri.


Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para relawan, tenaga medis, dan semua jiwa mulia yang menembus malam demi menyelamatkan santri-santri dari reruntuhan.

Kalian bukan sekadar tangan manusia, kalian adalah perpanjangan kasih Allah di bumi.

Dan terima kasih kepada mereka yang telah mengajarkan kita arti “terjebak” —

bahwa setiap ujian adalah jalan pulang menuju Allah.


Semoga Allah membalas setiap kebaikan, menenangkan hati yang luka, dan menegakkan kembali bangunan iman di atas reruntuhan dunia.

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'