Detail Artikel

TIGA AGENDA DALAM SATU NAPAS: DI BALIK SUKSES PERESMIAN GEDUNG MUI BALI

TIGA AGENDA DALAM SATU NAPAS: DI BALIK SUKSES PERESMIAN GEDUNG MUI BALI

Laporan Khusus SuaraUmat.id

 

Denpasar — Di balik kemegahan peresmian Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali, tersimpan kerja senyap yang terorganisir rapi. Bukan sekadar satu agenda, melainkan tiga kegiatan besar yang dirangkai dalam satu momentum: pelantikan pengurus, peresmian gedung, dan halal bihalal umat Islam Bali.

 

Ketua panitia, Aji Ferry Henry, mengungkap bahwa keberhasilan acara ini bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba, melainkan hasil dari kerja kolektif yang terukur dan solid.

 

Ini bukan satu kegiatan. Ada tiga agenda besar yang kami satukan dalam satu rangkaian, ujarnya dalam wawancara bersama Media Suara Umat.

 

SATU PEKAN, TIGA AGENDA BESAR

 

Menariknya, seluruh rangkaian kegiatan tersebut dipersiapkan dalam waktu yang relatif singkat.

 

Persiapannya tidak sampai lama, sekitar satu minggu. Karena panitia sudah profesional dan terbiasa menangani kegiatan besar, jelasnya.

 

Komposisi panitia menjadi kunci. Mereka terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari event organizer hingga pengurus organisasi yang berpengalaman dalam kegiatan keumatan.

 

Dalam kondisi seperti itu, koordinasi tidak lagi menjadi hambatan, melainkan mengalir secara alami.

 

Semua sudah terkoneksi. Jadi tidak ada kendala berarti, meskipun tentu ada diskusi-diskusi kecil untuk penyempurnaan acara, tambahnya.

 

DUKUNGAN LUAS, DARI PEMERINTAH HINGGA UMAT

 

Peresmian gedung ini turut dihadiri oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, yang memberikan apresiasi atas kerja panitia dan seluruh pihak yang terlibat.

 

Menurut Ferry, dukungan terhadap pembangunan gedung tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari umat.

 

Ada bantuan dari pemerintah provinsi sekitar 1,5 miliar, selebihnya dari dana umat dan juga dukungan lembaga seperti Baznas, ungkapnya.

 

Kolaborasi ini mempertegas bahwa gedung MUI Bali adalah hasil gotong royong lintas elemen—pemerintah dan masyarakat.

 

GEDUNG TIGA LANTAI, FILOSOFI PELAYANAN

 

Lebih dari sekadar bangunan fisik, Gedung MUI Bali dirancang dengan filosofi pelayanan yang berjenjang.

 

Lantai pertama difungsikan sebagai mushola, yang diberi nama Mushola Hasan Ali—sebuah penghormatan kepada tokoh penggagas awal.

 

Kami ingin setiap orang yang datang ke MUI, memulai dari ibadah dulu, kata Ferry.

 

Lantai kedua menjadi pusat aktivitas utama MUI: kantor dan ruang rapat. Di sinilah berbagai keputusan dan pelayanan umat dirumuskan.

 

Sementara lantai ketiga diperuntukkan bagi organisasi kemasyarakatan Islam.

 

Kita ingin semua ormas Islam berada dalam satu atap. Ini rumah bersama umat, tegasnya.

 

ANTUSIASME DAN KEHADIRAN TOKOH

 

Acara ini juga dihadiri berbagai tokoh penting, mulai dari unsur Kementerian Agama, Pengadilan Tinggi Agama, hingga unsur TNI dan Polri.

 

Kehadiran mereka menjadi indikator kuat bahwa MUI Bali memiliki posisi strategis dalam menjaga harmoni dan kehidupan keagamaan di Bali.

 

Antusiasme undangan luar biasa. Hampir semua yang diundang hadir, ujar Ferry.

 

RUMAH BESAR UMAT

 

Di penghujung wawancara, Ferry menyampaikan harapan yang sederhana namun mendalam.

 

Gedung ini adalah milik umat. Semua kegiatan keumatan harus bisa dilakukan di sini, katanya.

 

Dengan fasilitas yang lengkap—mulai dari tempat ibadah, ruang pertemuan, hingga kantor ormas—gedung ini diharapkan menjadi pusat aktivitas umat Islam di Bali.

 

Harapan kami, ini benar-benar menjadi rumah besar umat Islam di Bali, tutupnya.

 

CATATAN REDAKSI

 

Peresmian Gedung MUI Bali bukan hanya tentang berdirinya sebuah bangunan. Ia adalah refleksi dari sinergi—antara profesionalitas panitia, dukungan pemerintah, dan partisipasi umat.

 

Dalam waktu singkat, kerja besar bisa diwujudkan. Dalam kebersamaan, beban berat menjadi ringan.

 

Dan di Bali, semangat itu menemukan bentuknya: sebuah rumah untuk umat, dari umat, dan untuk masa depan umat.(AMBAR)

ARTIKEL TERKAIT

Kuliah di Stikom Bali

'